Jakarta, CNBC Indonesia - Kelompok milisi Houthi di Yaman dilaporkan telah merampungkan seluruh persiapan militer untuk melancarkan gelombang serangan terbaru terhadap kapal-kapal komersial nan melintasi Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah bagian selatan. Peringatan ancaman ini dirilis oleh Pusat Informasi Maritim Gabungan (Joint Maritime Information Center/JMIC)-sebuah lembaga keamanan maritim ketua Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) nan berpusat di Bahrain.
Dalam pemberitahuan resminya kepada para pelaut pada hari Selasa (21/7/2026), JMIC mengonfirmasi bahwa golongan milisi sekutu Iran tersebut telah menyiagakan jejeran rudal dan drone tempur di sekitar titik akses strategis Selat Bab el-Mandeb.
Persiapan militer ini bergulir menyusul deklarasi embargo maritim secara sepihak nan diumumkan Houthi terhadap Arab Saudi pada hari Senin, nan melarang keras seluruh kapal untuk memuat maupun membongkar muatan kargo dari dan menuju pelabuhan mana pun di wilayah Saudi.
"Pihak Houthi telah menyelesaikan persiapan untuk menyerang pelayaran, termasuk pengerahan rudal dan drone nan ditempatkan di dekat Bab el-Mandeb," tegas Pusat Informasi Maritim Gabungan (JMIC) dalam peringatan resminya kepada organisasi maritim dikutip CNBC International. "Semua kapal nan memuat alias membongkar kargo di alias dari pelabuhan Saudi mana pun dilarang (lewat)."
Menanggapi eskalasi ancaman tersebut, misi Angkatan Laut Uni Eropa di Timur Tengah pada hari Rabu mengimbau agar seluruh kapal niaga nan terafiliasi dengan kepentingan Israel, AS, maupun Arab Saudi untuk menghindari navigasi di perairan Laut Merah dan Teluk Aden hingga tingkat ancaman mereda. Selat Bab el-Mandeb sendiri merupakan celah maritim vital nan menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, Laut Arab, hingga pasar pasokan daya global.
Ancaman penutupan Selat Bab el-Mandeb berpotensi mematikan katup penyelamat (relief valve) pasar minyak dunia. Sejak maraknya serangan Iran terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz, pemerintah Arab Saudi mengalihkan jutaan barel minyak per hari melalui jalur pipa darat menuju terminal Yanbu di Laut Merah.
Data Kpler mencatat volume ekspor dari terminal Yanbu melintasi Bab el-Mandeb sempat melonjak tajam hingga menyentuh 3,5 juta barel per hari pada Juni lalu, melesat drastis dari periode nan sama tahun sebelumnya nan hanya sebesar 240.000 barel per hari.
Kendati JMIC menyebut status ancaman terhadap kapal komersial di area tersebut tetap berada di level "sedang" dan belum ada serangan baru dalam dua hari terakhir, pengaruh ketakutan telah melumpuhkan sebagian aktivitas pelayaran. Firma pencari kapal Kpler mencatat adanya penurunan lampau lintas kapal di Selat Bab el-Mandeb sebesar 34% pada hari Selasa dibandingkan hari Senin pasca-deklarasi embargo.
"Tidak ada perubahan pada rute komersial alias pola transit nan terjadi, dan kapal-kapal terus menggunakan jalur nan ditetapkan tanpa gangguan," tulis laporan pembaruan JMIC mengenai navigasi harian.
Firma intelijen maritim Windward membeberkan bahwa empat kapal tanker nan mengangkut kargo minyak mentah, minyak gas (gasoil), dan nafta milik Saudi senilai total 3,8 juta barel mendadak memutar kembali sebelum mencapai Selat Bab el-Mandeb pada hari Selasa.
Di sisi lain, militer Iran turut mengintensifkan serangan terhadap kapal-kapal tanker di Selat Hormuz dalam upayanya memaksa kapal niaga melintas melalui wilayah perairan teritorialnya. Sepanjang pekan ini, tiga kapal tanker minyak mentah, produk olahan, dan bahan kimia dilaporkan menjadi korban serangan di lepas pantai Oman serta Uni Emirat Arab. Badan Maritim Internasional (IMO) PBB mencatat sedikitnya 12 kapal telah dihantam serangan di dalam dan sekitar Selat Hormuz sejak 6 Juli lalu, nan mengakibatkan dua pelaut tewas dan lebih dari belasan lainnya mengalami luka-luka.
(tps/tps)
Addsource on Google

2 jam yang lalu
5







English (US) ·
Indonesian (ID) ·