Arab Saudi Disebut Lagi Dilema, MBS Terjepit-Stabilitas Terancam

59 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Arab Saudi kembali berada dalam posisi dilematis di tengah memanasnya bentrok Amerika Serikat (AS) dan Iran. Riyadh selama ini berupaya menghindari keterlibatan langsung sejak perang pecah pada 28 Februari, namun rentetan serangan pesawat nirawak (drone) dan rudal nan dikaitkan dengan kelompok-kelompok proksi Iran, membikin kerajaan mulai mengambil langkah militer nan lebih tegas.

Melansir BBC International, Kamis (30/7/2026), pekan ini, Arab Saudi melancarkan operasi campuran berbareng AS terhadap milisi pro-Iran di Irak nan dituding bertanggung jawab atas serangkaian serangan drone ke wilayah Saudi. Meski demikian, Riyadh tetap dihadapkan pada pilihan susah antara terus melakukan serangan jawaban sebagai pengaruh jera alias kembali meredakan ketegangan demi mencegah bentrok regional semakin meluas.

Dilema tersebut muncul lantaran Saudi selama beberapa tahun terakhir berupaya menjaga stabilitas area demi menopang agenda ekonomi besar Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS). Melalui program Visi 2030, Riyadh mau mengurangi ketergantungan pada minyak, menarik investasi asing, sekaligus membangun industri dan prasarana modern.

Namun, seluruh agenda itu terancam terganggu. Terutama andaikan serangan drone dan rudal terus menghantam wilayah Saudi.

Dua Blok

Sebenarnya bentrok nan berjalan selama lima bulan terakhir memperlihatkan dua blok nan saling berhadapan.

Di satu sisi terdapat Iran berbareng Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), serta kelompok-kelompok sekutunya seperti Houthi di Yaman, Pasukan Mobilisasi Populer (PMF) di Irak, dan Hizbullah di Lebanon. Di sisi lain terdapat AS dengan Komando Pusat (Centcom), nan didukung sejumlah negara Teluk dan Yordania, sementara Israel menjadi sekutu dekat Washington meski tidak terlibat langsung dalam operasi saat ini.

Iran juga disebut meningkatkan tekanan melalui serangan drone dan rudal ke sejumlah negara Teluk seperti Yordania, Kuwait, dan Bahrain, serta menakut-nakuti kapal-kapal komersial nan melintasi Selat Hormuz di luar patokan nan mereka tetapkan. Sementara itu, keterlibatan milisi Irak dan Houthi dinilai memperbesar akibat bentrok berkembang menjadi perang area nan lebih luas.


Ancaman Bukan Hal Baru

Ancaman terhadap Saudi bukan perihal baru. Pada September 2019, akomodasi minyak strategis Abqaiq dan Khurais pernah diserang drone nan dikaitkan dengan golongan proksi Iran. Serangan tersebut sempat memangkas sekitar separuh ekspor minyak Saudi selama beberapa hari dan menjadi peringatan keras mengenai rentannya prasarana daya kerajaan terhadap serangan udara.

Kekhawatiran Riyadh kembali meningkat setelah gambaran satelit pada pekan ini menunjukkan akomodasi minyak Abqaiq kembali menjadi sasaran serangan drone. Di saat bersamaan, Iran menutup Selat Hormuz sebagai respons atas serangan AS dan Israel, sehingga Saudi mengalihkan ekspor sekitar lima juta barel minyak per hari melalui jaringan pipa timur-barat menuju terminal Yanbu di Laut Merah untuk menjaga pasokan ke pasar Asia tetap berjalan.

Namun jalur pengganti tersebut sekarang juga menghadapi ancaman. Setelah Saudi menyerang Bandara Sanaa pada pertengahan Juli untuk mencegah pesawat Iran mendarat, golongan Houthi membalas dengan menyerang airport Abha dan Jizan serta meningkatkan serangan terhadap kapal-kapal Saudi di Laut Merah. Kondisi tersebut membikin pelayaran melalui Selat Bab el-Mandeb menjadi semakin berisiko dan berpotensi mengganggu ekspor minyak Saudi ke Asia.

Situasi ini menjadi tantangan besar bagi Riyadh. Setelah tujuh tahun kandas menaklukkan Houthi melalui operasi militer dan sempat mencapai gencatan senjata nan rentan pada 2022, Arab Saudi sekarang kembali menghadapi ancaman serangan dari selatan oleh Houthi dan dari utara oleh milisi Irak.

Tekanan tersebut dinilai bertolak belakang dengan ambisi Visi 2030 nan memerlukan stabilitas keamanan dan suasana investasi nan kondusif.

(tfa/șef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya