AS Cek 'Hormon Kejantanan' Tentaranya, Kalau Kurang Bakal Lakukan Ini

4 hari yang lalu 8

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Pertahanan Amerika Serikat (AS) Pete Hegseth meluncurkan kebijakan baru nan mewajibkan pemeriksaan kadar testosteron bagi personel militer berumur 30 tahun ke atas setiap tahun. Prajurit nan diketahui mengalami kekurangan hormon tersebut nantinya bakal ditawari terapi pengganti testosteron (testosterone replacement therapy/TRT).

Kebijakan itu diumumkan Hegseth melalui video berdurasi nyaris tiga menit nan diunggah di platform X dengan titel "The High-T Department of War". Menurut Hegseth, program tersebut bukan bermaksud meningkatkan keahlian prajurit secara buatan, melainkan mengembalikan kadar hormon ke tingkat normal agar kesiapan tempur tetap terjaga.

"Ini bukan tentang peningkatan keahlian secara artifisial. Ini tentang memulihkan dan mengoptimalkan keahlian alami prajurit, melindungi kesehatan jangka panjang mereka, serta memastikan mereka mempunyai fondasi biologis nan dibutuhkan untuk tetap siap bertempur," ujar Hegseth, sebagaimana dimuat laman CNN International dan RT, Jumat (17/7/2026).

Ia menjelaskan terapi hormon berkarakter sukarela dan hanya diberikan berasas rekomendasi tenaga medis setelah hasil pemeriksaan menunjukkan adanya defisiensi testosteron. Kebijakan tersebut merupakan bagian dari agenda reformasi militer pemerintahan Presiden Donald Trump nan menekankan peningkatan kesiapan tempur dan kebugaran personel.

Meski demikian, Pentagon tidak menjelaskan dasar ilmiah nan menjadi landasan kebijakan tersebut ketika dimintai keterangan oleh wartawan. Kementerian hanya merujuk pada pernyataan Hegseth bahwa medan perang modern menuntut kesiapan bentuk dan mental nan maksimal.

Pentagon juga tidak menjawab apakah pemeriksaan serupa bakal dilakukan terhadap prajurit wanita untuk mendeteksi penurunan hormon estrogen. Secara medis, kadar testosteron laki-laki memang condong menurun seiring bertambahnya usia.

Kondisi ini dapat memicu beragam gangguan seperti penurunan antusiasme seksual, disfungsi ereksi, perubahan suasana hati hingga kenaikan berat badan. Namun, sejumlah penelitian National Institutes of Health (NIH) menunjukkan terapi testosteron memang dapat membantu meningkatkan libido dan memperbaiki sebagian gangguan suasana hati, tetapi manfaatnya terhadap daya tahan fisik, keahlian kognitif, maupun kesehatan secara keseluruhan tetap terbatas.

Pemerintahan Trump belakangan memang mendorong penggunaan terapi testosteron nan lebih luas. Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. apalagi mendukung pelonggaran patokan pemberian obat testosteron, sementara Food and Drug Administration (FDA) tengah mengusulkan penyederhanaan persyaratan resep terapi tersebut.

Kebijakan Hegseth langsung memicu kritik dari kalangan politikus Demokrat. Mereka menilai langkah tersebut bertolak belakang dengan sikap keras pemerintahan Trump nan selama ini menolak beragam corak gender-affirming care bagi personel transgender di militer.

Senator Tammy Duckworth menyindir terapi hormon testosteron nan diusulkan Hegseth ini. Gender-affirming care merujuk ke layanan medis, psikologis, dan sosial nan membantu seseorang agar penampilan, identitas, alias karakter fisiknya selaras dengan identitas kelamin nan mereka rasakan.

"Saya rasa ini terdengar seperti gender-affirming care," ujarnya.

Anggota DPR dari Partai Demokrat, Chrissy Houlahan, juga mengkritik kebijakan tersebut. Ia menilai Hegseth terlalu dipengaruhi golongan konservatif maskulin alias manosphere.

Sementara itu, Senator Cory Booker menilai langkah tersebut tidak mencerminkan prioritas nan tepat. Terutama ketika AS tetap menghadapi bentrok dengan Iran.

"Fakta bahwa di tengah perang nan penuh tantangan ini Menteri Pertahanan justru melakukan perihal seperti ini membikin kami menjadi bahan tertawaan dunia. Ini betul-betul tidak masuk akal," kata Booker.

(sef/sef)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya