Ilustrasi.(Magnific)
JET tempur dari Amerika Serikat dan Arab Saudi melancarkan serangan militer campuran pada Selasa (28/7/2026) nan menargetkan pasukan proksi Iran di Irak. Langkah ini menandai keterlibatan langsung Riyadh dalam bentrok nan sedang berjalan antara Washington dan Teheran.
Komando Pusat AS (Centcom) dalam suatu pernyataan menyebut bahwa kedua negara menggempur beberapa situs logistik dan senjata teroris di seluruh Irak timur. Serangan ini merupakan respons terhadap lebih dari 30 serangan drone nan diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran dalam beberapa hari terakhir.
Militer Arab Saudi mengeluarkan pernyataan singkat nan mengakui keterlibatan mereka dalam operasi tersebut tanpa memberikan rincian lebih lanjut. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari pemerintah Iran.
Sebelumnya pada hari nan sama, Centcom menyatakan bahwa pasukan AS di Timur Tengah sukses mencegat beberapa rudal balistik nan diluncurkan oleh Iran. Pejabat militer menyebut kejadian tersebut sebagai upaya serangan mendadak terhadap personel Amerika di area itu. Meskipun letak pencegatan tidak diungkapkan, pihak militer memastikan operasi tersebut berhasil.
Eskalasi Konflik dan Dampak Diplomatik
Rangkaian perkembangan ini menakut-nakuti bakal merusak jarak permusuhan nan sebelumnya diupayakan oleh Presiden Donald Trump untuk memajukan negosiasi perdamaian nan terhenti. Hal ini juga memberi sinyal potensi ekspansi perang nan berjalan selama lima bulan, meskipun belum jelas apakah serangan rudal Iran dan operasi campuran AS-Saudi tersebut berangkaian langsung.
Mark Cancian, penasihat senior di Center for Strategic and International Studies (CSIS), menilai peran Saudi dalam serangan ini sebagai langkah besar bagi Riyadh. "Mereka telah kehilangan kesabaran dan mengambil langkah nan selama ini enggan mereka ambil, ialah menyerang organisasi Arab lainnya secara langsung," ujar Cancian.
Ia menambahkan bahwa keterlibatan ini bisa menjadi sinyal bahwa Saudi bersedia mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di wilayah mereka, baik untuk serangan langsung ke Iran maupun operasi di Selat Hormuz.
Ketegangan di Selat Hormuz dan Laut Merah
Meskipun dilakukan putaran negosiasi berulang kali, Washington dan Teheran kandas mencapai kesepakatan mengenai akses ke Selat Hormuz, jalur air vital bagi pengiriman minyak Timur Tengah. Pekan lalu, golongan Houthi di Yaman nan didukung Iran mengumumkan blokade terhadap pengiriman minyak Arab Saudi di Laut Merah.
Eskalasi Houthi ini memperburuk gejolak ekonomi nan disebabkan oleh penutupan selat oleh Iran. Menurut kajian Institute for the Study of War, Arab Saudi baru-baru ini juga menyerang situs-situs Houthi di Yaman dengan angan dapat melemahkan keahlian golongan tersebut dalam memberikan tekanan di kawasan.
Anna Jacobs, peneliti dari Arab Gulf States Institute, beranggapan bahwa keterlibatan Riyadh bermaksud memulihkan pencegahan. Namun, dia menekankan bahwa diplomasi tetap menjadi inti dari strategi Saudi dalam mengelola keamanan regional. "Saya memandang serangan Saudi di Yaman dan Irak tetap relatif terkendali, lebih sebagai pengiriman pesan kepada Iran dan mitra bersenjatanya," kata Jacobs.
Catatan Korban Konflik
Konflik itu kembali memanas setelah Trump mengumumkan dimulai perang dengan Iran pada 28 Februari, nan sempat dinyatakan berhujung pada Mei menyusul gencatan senjata. Namun, permusuhan kembali pecah sepenuhnya pada 7 Juli.
Hingga saat ini, tercatat 18 personil jasa Amerika Serikat tewas dan lebih dari 600 lain luka-luka dalam bentrok tersebut. Empat tentara AS gugur bulan ini sejak pertempuran kembali berlanjut, termasuk tiga personel nan tewas pada 17 Juli akibat serangan rudal balistik Iran di sebuah pangkalan di Yordania. (The Washington Post/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·