AS Gempur Iran 6 Malam Berturut-turut, Perebutan Selat Hormuz Memanas

5 hari yang lalu 13
AS Gempur Iran 6 Malam Berturut-turut, Perebutan Selat Hormuz Memanas Militer AS kembali meluncurkan serangan rudal ke wilayah Iran demi merebut kendali Selat Hormuz. Jalur perdagangan minyak bumi sekarang lumpuh total.(Centcom)

MILITER Amerika Serikat (AS) meluncurkan gelombang serangan baru terhadap Iran untuk malam keenam berturut-turut. Langkah ini diambil seiring berlanjutnya perebutan kendali atas Selat Hormuz, sebuah jalur perairan strategis nan saat ini diblokade oleh Teheran.

Komando Pusat AS (Centcom) pada Kamis menyatakan bahwa serangan tersebut bermaksud untuk "memperlemah keahlian militer Iran lebih lanjut." Menurut laporan media pemerintah Iran, rudal AS menghantam area dekat Pulau Qeshm di Teluk, nan berdekatan dengan Selat Hormuz, serta wilayah Bandar Abbas dan Bushehr nan merupakan letak pembangkit listrik tenaga nuklir.

Baku tembak nan terjadi sepanjang malam ini kian memperkeruh kesepakatan awal kedua negara untuk mengakhiri perang. Di tengah situasi nan memanas, ahli bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, menegaskan Presiden AS Donald Trump tetap membuka pintu dialog.

"Presiden bakal meminta pertanggungjawaban mereka ketika mereka mengingkari janji nan disampaikan kepada Amerika Serikat. Namun, pada saat nan sama, beliau selalu terbuka untuk diplomasi," ujar Leavitt kepada wartawan.

Leavitt menambahkan Iran sebenarnya menyatakan tetap mau membikin kesepakatan dengan AS. "Kami sedang berbincang dengan mereka, tetapi sekali lagi, presiden tidak bakal membiarkan mereka menembaki kapal-kapal di selat tanpa menerima konsekuensinya," tegasnya.

Sebelumnya, Teheran menyatakan telah menyerang pangkalan militer AS di Yordania, Kuwait, dan Bahrain. Sebaliknya, AS menyatakan telah melancarkan gelombang serangan selama enam jam di beberapa letak di Selat Hormuz. Pihak AS juga memperingatkan Iran untuk "berperilaku baik" alias menghadapi tindakan militer lebih lanjut jika menolak kembali ke meja perundingan.

Merespons tekanan tersebut, kepala negosiator Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran "tidak mempunyai alasan" untuk mematuhi perjanjian apa pun nan tidak menguntungkan negaranya. Ia menegaskan keamanan nasional Iran berjuntai pada pemeliharaan wilayah nan disebutnya sebagai "pengaturan Iran" di Selat Hormuz.

Di sisi lain, rumor mengenai tahanan antar kedua negara juga simpang siur. Pada Rabu, Trump sempat memuji Iran di media sosial Truth Social atas pembebasan Dena Karari, seorang tahanan AS nan disebutnya ditahan secara sewenang-wenang sejak Desember 2024.

"Amerika Serikat menghargai isyarat niat baik dari Iran ini!" tulis Trump.

Pengacara Karari, Jared Genser, juga mengonfirmasi kliennya sedang dalam perjalanan kembali ke AS. Namun, pernyataan ini langsung dibantah oleh pihak yudisial Iran pada Kamis nan menegaskan bahwa tidak ada tahanan AS nan dibebaskan alias ditukar dari penjara mereka. (BBC/Z-2)

Selengkapnya