AS Kehilangan Pegangan di Perang Iran, Trump Maju Kena-Mundur Kena

3 jam yang lalu 14

Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump disebut menghadapi pilihan-pilihan susah setelah perang melawan Iran memasuki bulan keenam. Gelombang ancaman dan diplomasi nan terjadi sepanjang pekan ini menunjukkan makin sempitnya ruang mobilitas Trump untuk keluar dari bentrok nan sebelumnya dia klaim hanya bakal berjalan beberapa pekan.

Trump sekarang terjebak di antara dua pilihan besar. Pilihan pertama adalah menerima kesepakatan sementara nan sedang dinegosiasikan Iran dan Oman, nan berpotensi memberikan Teheran kendali atas Selat Hormuz nan sebelumnya tidak pernah dimilikinya sebelum perang pecah. Pilihan kedua adalah melaksanakan ancamannya untuk meningkatkan serangan terhadap Iran, nan berisiko memicu krisis lebih panjang.

Menurut para analis, opsi pertama bakal memberikan konsesi terbesar kepada Iran sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap negara itu pada 28 Februari lalu. Kesepakatan tersebut juga bakal memformalkan, setidaknya untuk sementara, peran Republik Islam Iran dalam mengawasi jalur pelayaran minyak paling krusial di dunia, sesuatu nan sebelumnya berulang kali ditegaskan pemerintahan Trump tidak bakal pernah dibiarkan terjadi.

Sementara itu, jalur kedua nan kemungkinan berupa gelombang serangan udara baru dinilai sarat akibat politik bagi Trump menjelang pemilu sela AS pada November mendatang. Opsi tersebut juga dinilai tidak menawarkan kesempatan keberhasilan nan lebih besar dibanding kampanye pengeboman sebelumnya nan kandas memaksa Teheran menyerah.

Trump sebenarnya tetap mempunyai opsi ketiga, ialah mempertahankan situasi nan ada saat ini. Pilihan tersebut berfaedah tetap mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran dan sesekali membalas serangan terhadap kapal-kapal nan melintas di kawasan.

Namun pendekatan itu juga tidak memberikan jalan keluar nan terhormat bagi Trump dari bentrok nan sebelumnya dia prediksi bakal berhujung pada pertengahan April.

"Ini adalah daftar pilihan nan sama-sama buruk, tetapi Trump mungkin mulai menyadari bahwa dia tidak bisa membiarkan perang ini berjalan tanpa akhir," kata Aaron David Miller, mantan negosiator Timur Tengah nan pernah bekerja untuk pemerintahan Partai Demokrat maupun Partai Republik, sebagaimana dilansir Reuters, Jumat (7/8/2026).

"Sesuatu kudu berubah, dan itu mungkin berupa pengakuan terhadap realitas baru Iran di selat tersebut," tambahnya.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio sebelumnya menegaskan bahwa Selat Hormuz kudu tetap menjadi jalur perairan internasional nan terbuka, tidak berada di bawah kendali Iran, serta bebas dari pungutan maupun biaya apa pun.

Selat Hormuz saat ini menjadi titik paling sensitif dalam konflik. Sejak perang dimulai, Iran mempunyai kendali nan nyaris menyerupai cekikan terhadap sekitar seperlima pengiriman minyak dan gas alam cair bumi nan melintasi area tersebut.

Namun para analis menilai Trump bisa saja kembali mengambil posisi berbeda dari Rubio, sebagaimana beberapa kali terjadi selama perang berlangsung.

Dengan nilai BBM di AS nan tetap tinggi, tingkat ketenaran nan rendah, dan perang nan semakin tidak terkenal di mata publik Amerika, ruang manuver politik Trump dinilai semakin terbatas.

Seiring bentrok nan terus berlarut-larut, beragam ancaman keras nan dilontarkan Trump juga dinilai belum sukses memaksa Iran untuk mundur. Karena itu, sejumlah analis memandang kemungkinan justru Trump nan bakal dipaksa melakukan kompromi terbesar.

Pembukaan kembali Selat Hormuz dianggap sebagai syarat utama untuk menghidupkan kembali negosiasi antara Iran dan AS. Pemerintahan Trump mau pembicaraan tersebut kembali berfokus pada program nuklir Iran nan selama ini menjadi sasaran utama kampanye militernya.

Meski demikian, tetap menjadi pertanyaan apakah Washington bersedia menerima kesepakatan apapun nan sukses dicapai Iran dan Oman, dua negara nan berada di sisi berlawanan Selat Hormuz.

Menurut seorang sumber senior Iran dan dua pejabat regional nan berbincang kepada Reuters, rancangan kesepakatan nan sedang dibahas bakal memberikan Teheran sebagian kendali atas kapal-kapal nan memasuki Teluk melalui Selat Hormuz.

Trump telah menyatakan bahwa kesepakatan pembukaan kembali jalur pelayaran itu sudah dekat. Namun para pejabat Iran mengatakan sejumlah perincian krusial tetap kudu diselesaikan.

Bahkan jika kesepakatan Iran-Oman sukses diteken dan pembicaraan AS-Iran kembali berjalan, para mahir tetap meragukan kesempatan tercapainya perdamaian permanen.

Keraguan itu muncul lantaran nota kesepahaman nan ditandatangani Washington dan Teheran pada Juni lampau justru sigap runtuh. Kesepakatan awal tersebut juga sempat memberikan keringanan hukuman kepada Iran sejak awal, nan menuai kritik dari sejumlah personil Partai Republik pendukung Trump.

Seorang pejabat Gedung Putih nan berbincang kepada Reuters secara anonim mengatakan bahwa semakin banyak pejabat pemerintahan nan menerima realita bahwa bentrok kemungkinan tetap bakal berjalan dalam beragam corak hingga pemilu sela digelar.

Situasi tersebut meningkatkan akibat politik bagi Trump, nan memenangkan masa kedudukan keduanya dengan janji menghindari intervensi luar negeri dan lebih konsentrasi pada persoalan ekonomi rakyat Amerika.

Pada saat nan sama, Partai Republik juga tengah berjuang mempertahankan kendali atas Kongres.

Meski demikian, pejabat AS tersebut menegaskan bahwa keputusan Trump mengenai Iran tidak didasarkan pada "jajak pendapat nan berubah-ubah."

Walaupun Trump berulang kali menyatakan kemenangan lantaran sukses menewaskan banyak pemimpin Iran dan melemahkan keahlian militernya, sebagian besar analis menilai presiden AS itu belum mencapai banyak tujuan utama perang.

Pada Sabtu lalu, Trump mengatakan dirinya membatalkan rencana serangan besar baru setelah para mitra AS di Timur Tengah meminta agar diplomasi diberi kesempatan lagi.

Namun pada saat nan sama, dia juga memperingatkan bakal melancarkan serangan keras jika upaya diplomatik tersebut gagal.

Beberapa analis menduga langkah mundur Trump juga dipengaruhi kekhawatiran terhadap menipisnya stok rudal AS. Namun Trump membantah bahwa negaranya mengalami kekurangan persenjataan.

Meski demikian, Trump kembali mengirim pesan nan saling bertentangan kepada Iran pada Rabu.

"Saya lebih memilih membikin kesepakatan lantaran saya tidak mau membunuh orang," kata Trump dalam sebuah kampanye di Las Vegas.

"Tetapi pada titik tertentu kita bakal melakukannya," tambahnya.

Di sisi lain, Iran telah memperingatkan sekutu-sekutu AS di Teluk bahwa setiap serangan baru Washington bakal dibalas dengan serangan terhadap prasarana daya mereka.

Lima sumber nan mengetahui pembahasan tersebut mengatakan ancaman itu telah disampaikan kepada negara-negara mitra AS di kawasan.

Jonathan Panikoff, mantan pejabat intelijen AS untuk Timur Tengah, mengatakan bahwa negara-negara lain juga mengawasi perkembangan bentrok tersebut secara cermat.

"Mereka sedang mempelajari apa saja keterbatasan Amerika Serikat untuk tahun-tahun mendatang," ujarnya, merujuk pada China, Rusia, dan Korea Utara.

Bahkan sejumlah tokoh nan selama ini mendukung garis keras terhadap Iran mulai mengingatkan Trump agar berhati-hati.

"Republik Islam sedang berupaya memaksa Presiden Trump masuk ke dalam situasi serba kalah sebelum November," tulis Behnam Ben Taleblu dari Foundation for the Defense of Democracies, lembaga kajian di Washington nan dikenal keras terhadap Iran, melalui platform X.

Menurutnya, pemerintahan Trump kudu menghindari langkah tergesa-gesa dan memahami dengan jelas "di mana AS mempunyai pengaruh dan di mana tidak."

(luc/luc) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya