Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan Amerika Serikat (AS) dan Malaysia memanas setelah Washington memanggil Duta Besar Malaysia untuk AS guna meminta penjelasan mengenai kebijakan Kuala Lumpur terhadap penduduk negara Israel.
Mengutip Reuters, Jumat (25/7/2026), Kementerian Luar Negeri AS memanggil Duta Besar Malaysia Muhammad Shahrul Ikram Yaakob setelah muncul kontroversi mengenai penolakan Malaysia terhadap penduduk negara Israel.
Menteri Luar Negeri Malaysia Mohamad Hasan mengatakan kepada media pemerintah Bernama bahwa sang duta besar telah menjelaskan kepada pejabat AS bahwa kebijakan Malaysia nan tidak mengakui Israel bukanlah perihal baru.
"Itu selalu menjadi kebijakan Malaysia. Kebijakan imigrasi kami tidak mengakui Negara Israel alias rezim Zionis. Ini sudah lama menjadi posisi kami," ujar Mohamad Hasan.
Ia menjelaskan polemik bermulai ketika seorang perseorangan berkewarganegaraan dobel AS dan Israel memasuki Malaysia menggunakan paspor AS. Setelah pemeriksaan lebih lanjut menunjukkan bahwa orang tersebut juga mempunyai kebangsaan Israel, pemerintah Malaysia memintanya meninggalkan negara itu.
Malaysia memang tidak mempunyai hubungan diplomatik dengan Israel. Negara tetangga RI itu, selama ini dikenal sebagai salah satu pendukung paling vokal perjuangan Palestina.
Sebenarnya, perselisihan ini bermulai dari sorotan terhadap Network School, organisasi digital nomad nan didirikan penanammodal asal AS Balaji Srinivasan di Malaysia. Komunitas tersebut menjadi sasaran kritik setelah pengguna media sosial menuduh terdapat peserta berkewarganegaraan Israel di dalamnya.
Pemerintah Malaysia kemudian melakukan penyelidikan keimigrasian dan menyatakan seluruh peserta mempunyai arsip perjalanan nan sah. Namun, otoritas tetap menutup aktivitas Network School pada Selasa lalu.
Kontroversi tersebut memicu reaksi keras di Washington. Delapan personil Kongres AS mengirim surat kepada Menteri Luar Negeri Marco Rubio nan berisi kecaman terhadap rencana Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim untuk melacak dan segera mendeportasi setiap penduduk negara Israel nan ditemukan berada di Malaysia.
Para personil Kongres juga mendesak Departemen Luar Negeri AS meninjau kembali hubungan keamanan dan ekonomi dengan Malaysia. Bahkan, mereka meminta memutus pendanaan program International Military Education and Training (IMET), ialah program training militer ahli AS bagi personel militer Malaysia, andaikan kebijakan tersebut tidak dibatalkan dalam waktu 15 hari.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
4







English (US) ·
Indonesian (ID) ·