AS Minggir Dulu, Ada Kabar Baik Selat Hormuz dari Iran-Oman dan Saudi

23 jam yang lalu 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Iran dikabarkan mulai membuka jalur komunikasi dengan Arab Saudi dan Oman mengenai masa depan Selat Hormuz. Langkah ini memunculkan angan baru bagi stabilitas area sekaligus menjaga keamanan salah satu jalur pelayaran minyak paling vital di dunia.

Kementerian Luar Negeri Iran mengungkapkan Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi telah melakukan pembicaraan melalui sambungan telepon secara terpisah dengan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Oman Badr Al-Busaidi. Meski demikian, Amerika Serikat (AS) tak dilibatkan dalam negosiasi.

Dalam keterangannya, Teheran menyebut pembicaraan tersebut membahas perkembangan bilateral dan regional terkini. Termasuk, kata Iran, Teheran menegaskan pentingnya kerja sama untuk menjaga stabilitas kawasan.

"Perlu memperkuat kerja sama dan memajukan upaya diplomatik berbareng untuk menciptakan stabilitas di area serta menghilangkan ketidakamanan di Selat Hormuz nan disebabkan oleh tindakan garang Amerika Serikat," demikian pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran, seperti dikutip CNBC International, Rabu (29/7/2026).

Menurut laporan Reuters, Oman juga telah mengusulkan rancangan pengelolaan masa depan Selat Hormuz kepada Iran dengan support negara-negara Teluk. Skema tersebut mengusulkan penerapan biaya sukarela bagi kapal nan melintas, menggantikan pungutan wajib nan selama ini diterapkan Teheran.

Model itu disebut mengangkat sistem nan telah diterapkan di Selat Malaka, di mana Indonesia, Malaysia, dan Singapura membujuk kapal-kapal nan melintas untuk berkontribusi secara sukarela dalam pembiayaan keselamatan navigasi, perlindungan lingkungan, hingga operasi pencarian dan penyelamatan.

Perkembangan tersebut terjadi ketika ketegangan antara AS dan Iran mulai mereda setelah kedua pihak menghentikan tindakan saling serang nan berjalan selama sekitar dua pekan. Sentimen positif langsung tercermin di pasar global, ditandai dengan penguatan indeks saham dan pelemahan nilai minyak lantaran meningkatnya optimisme terhadap kesempatan tercapainya kesepakatan tenteram nan lebih permanen.

Meski demikian, situasi keamanan di Timur Tengah belum sepenuhnya kondusif. Arab Saudi melaporkan sukses mencegat sejumlah drone nan diduga diluncurkan oleh golongan milisi nan didukung Iran di Irak dengan sasaran akomodasi minyak milik kerajaan.

Namun, hingga sekarang belum ada pihak nan mengaku bertanggung jawab atas serangan tersebut. Kelompok Houthi di Yaman justru menyatakan telah menyerang akomodasi minyak Arab Saudi, sehingga identitas pelaku di kembali kejadian drone itu tetap belum dapat dipastikan. Sementara itu, militer Yordania juga mengumumkan telah menembak jatuh sebuah drone nan memasuki wilayah udaranya.

Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyambut positif perkembangan komunikasi dengan Iran. Ia menyebut tengah berjalan "pembicaraan nan bagus" meski Kementerian Luar Negeri Iran kembali membantah adanya negosiasi langsung dengan Washington dan menegaskan komunikasi hanya dilakukan melalui perantara.

Meski dalam perkembangan terbaru Rabu ini, militer AS menyatakan ada "serangan mendadak" Iran ke militer AS. Di mana empat rudal balistik ditembakkan meski bisa dihalau pasukan Washington.

(tfa/tfa)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya