Asia Siaga Perang Baru, Manuver 2 Tetangga Bermusuhan Mulai Memanas

1 hari yang lalu 10

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Pertahanan Taiwan mengumumkan bakal menguji coba pemindahan jalur produksi senjata dan mengalihfungsikan pabrik-pabrik sipil untuk kebutuhan militer dalam latihan perang tahunan bulan depan. Langkah simulasi ini digelar guna memastikan kelangsungan operasi tempur jika pusat-pusat pasokan militer dihantam serangan China.

Mengutip laporan Reuters, Selasa (28/7/2026), simulasi tersebut menjadi bagian dari latihan perang tahunan Han Kuang nan dijadwalkan berjalan pada 5 hingga 14 Agustus mendatang. Latihan ini mengasumsikan skenario di mana China memanfaatkan latihan militer rutin untuk menyembunyikan persiapan invasi penuh, sehingga memaksa angkatan bersenjata Taiwan segera meningkatkan kesiapsiagaan tempur.

"Latihan ini mengasumsikan pasukan China menggunakan latihan militer campuran tahunan rutin sebagai kedok untuk training pendaratan skala besar, menyembunyikan rencana menyerang Taiwan sembari menyelesaikan persiapan penyerangan akhir," jelas Kepala Divisi Operasi Gabungan Kemhan Taiwan, Mayor Jenderal Lu Wen-yuan.

Uji coba ini difokuskan untuk menilai keahlian Taiwan dalam memencarkan produksi industri pertahanan sembari tetap mempertahankan output komoditas vital militer. Pemerintah Taipei cemas China bakal berupaya melumpuhkan pusat komando, pelabuhan, letak logistik, dan akomodasi industri pertahanan pada tahap awal penyerangan.

Secara teknis, latihan ini bakal mensimulasikan pemindahan letak 202nd Arsenal milik Biro Persenjataan di ibu kota Taipei dalam kondisi darurat perang. Pemerintah juga bakal mengerahkan dan mengonsolidasikan pabrik-pabrik sipil nan bertanggung jawab atas perakitan seluruh sistem persenjataan setelah perintah darurat dikeluarkan.

Selain pemindahan industri pertahanan, latihan Han Kuang bakal menguji keahlian Taiwan dalam menjaga jalur pelayaran tetap terbuka serta melindungi pengiriman pasokan peralatan kritis. Angkatan Laut dan Penjaga Pantai Taiwan bakal menggelar latihan campuran menggunakan pasukan, peralatan, dan amunisi jarak dekat untuk uji coba meriam, serangan pantai, penegakan norma maritim, hingga pengawalan kargo vital.

Latihan skala besar ini digelar di tengah lonjakan tajam aktivitas kapal penjaga pantai China di sekitar perairan Taiwan. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran di Taipei bahwa Beijing dapat meningkatkan tekanan di lepas pantai Pasifik dan menakut-nakuti rute pasokan logistik pulau tersebut.

"Amerika Serikat menghargai kemitraan Taiwan dalam keamanan dan keselamatan maritim, serta mendukung kontribusi berarti Taiwan dalam isu-isu dunia termasuk pertukaran penegakan norma maritim dan kerja sama internasional," tulis pernyataan resmi American Institute in Taiwan (AIT).

Kedutaan de facto AS di Taiwan tersebut membikin pengungkapan publik nan jarang terjadi mengenai koordinasi antara penjaga pantai AS dan Taiwan. AIT turut mengunggah foto nan memperlihatkan kapal penjaga pantai Taiwan berlayar dalam susunan berbareng kapal U.S. Coast Guard Cutter Midgett.

Adapun untuk pertama kalinya dalam sejarah, Taiwan juga bakal secara sengaja memperlambat kecepatan internet seluler di seluruh wilayah selama 10 hari masa latihan perang. Langkah penelitian ini bermaksud untuk menguji gimana penduduk sipil berkomunikasi jika terjadi kelangkaan pita daya (bandwidth) dalam situasi darurat musibah maupun invasi militer China.

Pemerintah Taiwan secara tegas menolak klaim kedaulatan Beijing atas wilayahnya dan menyatakan hanya rakyat Taiwan nan berkuasa menentukan masa depan mereka. Di sisi lain, China terus menyatakan pulau nan diperintah secara demokratis tersebut sebagai bagian dari wilayah teritorialnya.

(tps/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya