Astronom Berhasil Petakan Medan Magnet Gugus Galaksi Abell 2255

1 jam yang lalu 2
Astronom Berhasil Petakan Medan Magnet Gugus Galaksi Abell 2255 Tekstur tak terlihat dari medan magnet di wilayah pusat gugus galaksi Abell 2255.(A. Botteon dkk. (INAF), A&A 2026)

PARA astronom untuk pertama kalinya sukses merekonstruksi struktur medan magnet sebuah gugus galaksi secara menyeluruh, mulai dari pusat inti hingga ke pemisah terluarnya. Pencapaian berhistoris ini diperoleh melalui pengamatan paling mendalam nan pernah dilakukan terhadap gugus galaksi Abell 2255, sebuah struktur raksasa nan berjarak sekitar satu miliar tahun sinar dari Bumi.

Keberhasilan pemetaan ini merupakan hasil observasi tim peneliti internasional menggunakan teleskop radio Eropa, Low Frequency Array (LOFAR). Melalui proyek LOFAR Galaxy Cluster Ultra-Deep Field, para intelektual mengumpulkan info pencitraan radio selama 224 jam untuk meneliti gugus Abell 2255 nan membentang hingga beberapa juta tahun cahaya.

Abell 2255 telah lama dikenal lantaran kompleksitas pancaran gelombang radionya. Emisi radio nan luas di gugus ini dihasilkan oleh partikel partikel nan bergerak mendekati kecepatan sinar (relativistik) saat berinteraksi dengan medan magnet. Oleh lantaran itu, pengamatan terhadap Abell 2255 menjadi laboratorium kosmik nan ideal untuk memahami gimana medan magnet terbentuk dan berevolusi, sekaligus menyibak dinamika gas panas dalam pembentukan struktur terbesar di alam semesta.

Dari hasil kajian data, peneliti menemukan bahwa pengedaran medan magnet berskala besar di Abell 2255 tidak tersebar secara acak. Medan magnet tersebut justru terorganisasi oleh pergerakan gas nan terjadi selama proses pembentukan gugus galaksi itu sendiri.

Pemimpin tim penelitian dari Institut Nasional untuk Astrofisika Italia (INAF), Andrea Botteon, menjelaskan pentingnya pencapaian ini. "Mendapatkan gambaran gugus galaksi nan sangat sensitif pada panjang gelombang radio sangat krusial untuk memahami gimana partikel dipercepat hingga kecepatan relativistik dan gimana medan magnet diperkuat dalam skala kosmik nan besar," ujar Botteon.

Ia menambahkan, "Kompleksitas penelitian ini disebabkan oleh sulitnya mendeteksi sinyal radio dari partikel nan bergerak dalam medan magnet nan sangat lemah. Kami percaya bahwa sistem nan 'menyalakan' emisi radio raksasa ini terhubung dengan proses pembentukan gugus galaksi."

Botteon dan timnya menggabungkan pengamatan radio terdalam dengan teknik kajian info inovatif untuk memetakan corak medan magnet tersebut. Hasil kajian menunjukkan bahwa di beberapa wilayah, medan magnet membentang secara radial mengikuti emisi radio nan memanjang. Sebaliknya, di area nan didominasi oleh gelombang kejut (shock waves), medan magnet berorientasi secara tangensial.

"Koherensi garis-garis medan magnet nan diamati di beberapa wilayah gugus menunjukkan bahwa morfologi medan tersebut terikat erat dengan dinamika gas di dalamnya, nan mana medan magnet dapat 'diregangkan' alias 'ditekan' oleh pergerakan nan berangkaian dengan pembentukan gugus itu sendiri," jelas Botteon.

Temuan ini menjadi bukti observasional pertama bahwa sistem nan mendorong pertumbuhan dan pengelompokan galaksi juga berkedudukan langsung dalam membentuk medan magnetnya. Hasil penelitian ini telah diterima untuk dipublikasikan dalam jurnal Astronomy & Astrophysics dan saat ini tersedia sebagai makalah pracetak di repositori arXiv. (space/Z-2)

Selengkapnya