ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia resmi menurunkan nilai gas hulu ialah Liquefied Natural Gas (LNG) untuk sektor industri menjadi US$ 13 per MMBTU dari nan sebelumnya US$ 20 - US$ 23 per MMBTU.
Dibalik itu, Bahlil menjelaskan argumen kenapa nilai gas industri itu bisa tinggi hingga mencapai US$ 23 per MMBTU.
Pada dasarnya, kata Bahlil, nilai gas bumi tertentu (HGBT) tetap tetap US$ 6,5 - US$ 7 per MMBTU. Bahkan nilai gas pipa untuk industri juga tetap dikisaran US$ 9,6 per MMBTU.
Namun nan terjadi saat ini dan menjadi keluhan adalah lantaran industri kudu membeli sebagian gasnya melalui LNG akibat dari penurunan produksi dari kilang-kilang nan ada di Jawa Barat nan mengcover bagian Jawa Barat, Banten dan DKI Jakarta.
"Maka nan terjadi adalah (industri) mempergunakan LNG. LNG ini diambil dari wilayah Papua, Sulawesi, Kalimantan dan beberapa wilayah luar Jawa lainnya kemudian harganya naik sampai dengan nilai di pasaran itu US$ 20 sampai dengan US$ 23 per MMBTU,"
Atas dasar itu, kata Bahlil, industri meminta pemerintah untuk turun tangan. Dan atas pengarahan Presiden RI Prabowo, agar industri dan lapangan kerja tetap terjaga, maka pemerintah menurunkan nilai gas hulu nan berasal dari LNG turun menjadi US$ 13 per MMBTU.
"Dan kami sudah lapor ke bapak Presiden (Prabowo Subianto) diturunkan menjadi US$ 13 per MMBTU," tegas Bahlil.
(pgr/pgr)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·