Bali Jadi Laboratorium Latihan Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami TNI 2026

1 jam yang lalu 3
Bali Jadi Laboratorium Latihan Kesiapsiagaan Gempa dan Tsunami TNI 2026 Latihan Kesiapsiagaan Operasional (LKO) Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami Kogabwilhan II Tahun 2026 di Pantai Mertasari Denpasar, Bali.(Antara)

Bali menjadi laboratorium letak pengetesan kesiapan TNI dalam menghadapi ancaman gempa bumi dan tsunami. Melalui Latihan Kesiapsiagaan Operasional (LKO) Penanggulangan Bencana Alam Gempa Bumi dan Tsunami Kogabwilhan II Tahun 2026, keahlian personel hingga koordinasi lintas lembaga diuji langsung melalui skenario musibah berskala besar.

Memasuki hari keenam latihan pada Sabtu (9/8), Kogasgabpad Kodam IX/Udayana menggelar aplikasi lapangan di area Pantai Merta Sari, Denpasar, Bali. Tahapan ini menjadi bagian krusial untuk memandang kesiapan nyata seluruh unsur ketika menghadapi kondisi darurat.

Pengujian tidak hanya menyasar keahlian personel di lapangan. Prosedur operasi, komando dan pengendalian, interoperabilitas antarsatuan, hingga koordinasi antara TNI dan lembaga mengenai turut diuji dalam rangkaian latihan tersebut.

Pangkogabwilhan II Marsekal Madya TNI Muzafar menyatakan Indonesia mempunyai tingkat kerawanan tinggi terhadap beragam musibah alam, khususnya gempa bumi dan tsunami. Kondisi tersebut membikin kesiapan seluruh unsur menjadi perihal nan kudu terus diuji dan ditingkatkan.

“Latihan Kesiapsiagaan Operasional ini bermaksud menguji kesiapan prosedur, komando dan pengendalian, interoperabilitas, serta sinergi antarinstansi dalam menghadapi skenario musibah berskala besar,” ujar Muzafar.

Ia mengatakan latihan juga ditujukan untuk memastikan seluruh unsur mempunyai kesamaan persepsi dan bisa memberikan respons secara cepat, tepat, terpadu serta terkoordinasi ketika musibah terjadi.

Alasan Pemilihan Bali

Bali dipilih sebagai letak latihan lantaran mempunyai karakter geografis dengan potensi ancaman gempa bumi dan tsunami akibat aktivitas tektonik di wilayah Indonesia bagian tengah. Selain itu, Bali merupakan destinasi pariwisata internasional dengan tingkat mobilitas masyarakat dan visitor nan tinggi.

Kondisi tersebut membikin kesiapsiagaan musibah di Bali mempunyai dimensi nan lebih luas. Respons terhadap musibah tidak hanya menyangkut keselamatan masyarakat lokal, tetapi juga memerlukan keahlian menangani mobilitas visitor dan beragam aktivitas masyarakat nan berjalan di area pariwisata.

Dalam latihan tersebut, kekuatan TNI dari Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara di jejeran Kogabwilhan II dilibatkan. Kekuatan tersebut kemudian bersinergi dengan BNPB/BPBD, Basarnas, Polri, pemerintah daerah, unsur kesehatan, kementerian/lembaga terkait, serta beragam pemangku kepentingan lainnya.

Muzafar menegaskan sinergi lintas lembaga menjadi salah satu aspek krusial nan mau diuji melalui latihan. Menurutnya, sistem penanggulangan musibah memerlukan kerja berbareng sehingga setiap unsur memahami tugas dan perannya ketika kondisi darurat betul-betul terjadi.

“Yang tidak kalah penting, kita mau membangun dan memperkuat sinergi antara TNI, kementerian/lembaga, pemerintah daerah, Polri dan seluruh komponen bangsa, sehingga sistem penanggulangan musibah nasional semakin tangguh, responsif dan efektif,” katanya.

Aspek Kemanusiaan dan Bakti Kesehatan

Selain menguji keahlian operasional, latihan juga memasukkan aspek kemanusiaan. Sebanyak 1.200 paket sembako dibagikan kepada masyarakat di sekitar wilayah latihan sebagai corak kepedulian terhadap warga.

Bakti kesehatan berupa pengobatan cuma-cuma juga dilaksanakan di Lapangan Puputan Niti Mandala Renon. Dalam skenario latihan, letak tersebut disimulasikan sebagai tempat pengungsian bagi masyarakat terdampak bencana.

Kapendam IX/Udayana Kolonel Inf Amrizal Nasution mengatakan keterlibatan Kodam IX/Udayana dalam LKO Kogabwilhan II merupakan bagian dari upaya menguji kesiapan satuan dalam mendukung penanggulangan musibah di wilayah Bali.

“Latihan ini menjadi sarana untuk menguji kesiapan personel dan satuan, termasuk efektivitas komando dan pengendalian serta keahlian Kodam IX/Udayana dalam mengintegrasikan kekuatan TNI dan unsur mengenai agar bisa memberikan respons nan cepat, tepat dan terkoordinasi ketika menghadapi bencana,” ujar Amrizal.

Ia menambahkan Kodam IX/Udayana bakal terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah, BNPB/BPBD, Basarnas, Polri, tenaga kesehatan dan masyarakat dalam membangun kesiapsiagaan bencana.

Melalui latihan tersebut, kesiapan menghadapi gempa bumi dan tsunami tidak hanya diuji dari sisi kekuatan personel dan peralatan, tetapi juga dari keahlian seluruh unsur untuk bergerak dalam satu sistem. Ujung dari seluruh kesiapan tersebut adalah memastikan masyarakat mendapat perlindungan, pertolongan dan support secara sigap ketika musibah betul-betul terjadi.

Selengkapnya