ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Otoritas bea cukai China, General Administration of Customs China (GACC), menangguhkan alias membekukan sementara izin atas 19 perusahaan ekspor sarang burung walet asal Indonesia. Badan Karantina Indonesia (Barantin) pun mengungkap penyebab tindakan China tersebut.
Permasalahan utamanya adalah kandungan aluminium nan melampaui periode pemisah nan ditetapkan negara tujuan ekspor.
Kepala Barantin Abdul Kadir Karding mengatakan, pemerintah sekarang bergerak membenahi tata kelola industri sarang burung walet, mulai dari memperketat pengawasan mutu (quality control/QC), memperbaiki regulasi, hingga menyiapkan langkah negosiasi dengan pemerintah China. Langkah tersebut dilakukan menjelang kunjungan otoritas General Administration of Customs China (GACC) ke Indonesia pada Juli mendatang.
"Kita di-suspend (ditangguhkan/ dibekukan sementara) (China), ada 19 perusahaan. Dan bulan Juli kelak teman-teman GACC China datang ke Indonesia. Langkah nan kami lakukan adalah memperkuat komunikasi dengan kedutaan kita nan ada di China. nan kedua, melakukan pembenahan izin maupun treatment dalam rangka memperbaiki QC nan ada di Indonesia," kata Karding dalam konvensi pers di kantornya, Jakarta, Rabu (1/7/2026).
"Dan nan ketiga, meminta masukan nih sama beliau-beliau (pengusaha) apa kira-kira nan perlu dinegosiasikan kelak dengan pihak China ke depan," tambahnya.
Ia menegaskan, Barantin mau menunjukkan kepada China, Indonesia juga tegas terhadap perusahaan nan tidak memenuhi standar.
"Intinya saya pengen sebenarnya begini, jangan China nan suspend, biar di-suspend di Indonesia saja. Jadi China sudah terima nanti. Kita mau menunjukkan bahwa kita memang juga serius menangani permasalahan-permasalahan dalam negeri," ujarnya.
Menurut Karding, perusahaan nan terbukti melanggar juga dapat dikenai hukuman lebih berat.
"Jadi ada nan kita suspend, mungkin ada nan kita bekukan. Artinya jika di-suspend itu tetap bisa dibuka, tapi jika dibekukan itu sudah nggak bisa beraksi dia," tutur dia.
Ia menjelaskan, berasas hasil evaluasi, persoalan utama nan dipermasalahkan China adalah kandungan aluminium nan melampaui 100 ppm.
Karena itu, pemerintah sekarang berupaya memperbaiki beragam aspek agar perusahaan nan disuspend dapat kembali memperoleh akses ekspor ke China, sekaligus membuka kesempatan bagi eksportir baru.
"Ini kita sedang lakukan segala upaya di internal, agar kelak nan di-suspend ini dibuka dan bisa buka kuota baru, alias ada perusahaan baru nan mendaftar juga boleh, itu nan sedang kita lakukan hari ini," ujar Karding.
Saat ditanya solusi untuk menekan kandungan aluminium tersebut, Karding mengatakan pihaknya tetap mendalami sumber penyebabnya.
"Ya solusinya direndahkan. Bagaimana caranya? Mungkin dari prosesnya, mungkin dari treatment-nya, mungkin dari langkah budidayanya. Nanti kita lihat, kita pelajari," katanya.
Selain pembenahan standar mutu, Barantin juga bakal memperketat penegakan norma dan memangkas birokrasi perizinan melalui digitalisasi.
"Kita buat standar kelak ke depan, tapi standarnya jangan nan panjang. Jangan sampai orang untuk mengurus izin saja sampai 7 bulan, sampai berbulan-bulan itu nggak. Makanya mungkin kita bakal pakai digitalisasi saja nanti. Banyak langkah nan kita sedang lakukan sekarang," jelas dia.
Karding menilai pembenahan tersebut penting, mengingat Indonesia merupakan pemasok utama sarang burung walet dunia.
"Karena kita ini pemain walet terbesar di dunia. Suplai walet bumi sekitar 70%-80% itu dari kita. Nah jadi itu melibatkan modal nan besar, tenaga kerja nan besar. Oleh lantaran itu kita kudu memperbaiki tata kelolanya di dalam agar tidak susah mereka ini," ujar Karding.
"Tidak dipersulit (perizinannya), jika daftar lama, tidak banyak penyelundupan. Nah ini kudu kita perbaiki semua di dalam. QC-nya kita perbaiki, traceability-nya kita perbaiki dan seterusnya," sambungnya.
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·