Bea Cukai China Mau Datang, Bakal Langsung Sidak 19 Perusahaan RI?

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Kepala Badan Karantina Indonesia (Barantin) Abdul Kadir Karding optimistis prospek perdagangan ekspor-impor Indonesia dengan China bakal semakin terbuka. Keyakinan itu muncul seiring rencana kehadiran otoritas bea cukai China, General Administration of Customs China (GACC), ke Indonesia pada pertengahan Juli 2026.

Karding mengatakan, kunjungan GACC bakal membahas beragam kesempatan ekspor komoditas RI ke pasar China, mulai dari sektor tumbuhan hingga perikanan.

Namun, salah satu agenda krusial dalam pertemuan itu adalah penyelesaian persoalan kandungan aluminium pada sarang burung walet, nan sempat memicu penghentian sementara ekspor dari sejumlah perusahaan Indonesia.

"Barantin secara aktif terus melakukan langkah pembenahan, mulai dari memperkuat komunikasi dengan China, (hingga) membenahi regulasi," kata Karding dalam keterangannya, dikutip Kamis (2/7/2026).

Ia menegaskan, persoalan kadar aluminium pada sarang burung walet nan saat ini ditangani hanya berkarakter sementara, dan sekarang sudah memasuki tahap akhir penyelesaian. Menurut dia, kehadiran GACC justru bisa menjadi momentum untuk memperluas akses ekspor Indonesia ke Negeri Tirai Bambu.

"Kedatangan GACC ke Indonesia justru bakal semakin bisa membuka lebarnya ekspor ke China," ucapnya.

Sebelumnya, rumor kadar aluminium pada sarang burung walet membikin 19 perusahaan eksportir Indonesia terkena penangguhan alias pembekuan izin sementara ke China.

Adapun info Barantin menunjukkan, saat ini terdapat 75 perusahaan sarang burung walet nan terdaftar di Barantin. Dari jumlah itu, 50 perusahaan telah terdaftar di China Import Food Enterprises Registration (CIFER), sementara 25 perusahaan lainnya tetap dalam proses pendaftaran.

Selain itu, hingga Juni 2026 tercatat sudah ada 4.204 rumah walet nan teregistrasi, dengan 104 rumah walet lainnya tetap dalam proses registrasi.

Dari sisi keahlian ekspor, sektor tumbuhan tetap menjadi penyumbang terbesar. Komoditas sawit dan turunannya mencatatkan nilai ekspor lebih dari Rp32,03 triliun. Setelah itu, ekspor kopi biji mencapai Rp6,9 triliun, dan pinang biji sebesar Rp2,9 triliun.

Sementara dari sektor hewan, sarang burung walet menjadi salah satu komoditas jagoan dengan nilai ekonomi mencapai Rp3,6 triliun.

Tenaga Ahli Barantin Bidang Komunikasi, Moksa Hutasoit mengatakan pihaknya terus membuka ruang komunikasi dengan pelaku upaya guna memaksimalkan ekspor-impor ke negara mitra. Menurut dia, masukan dari pelaku upaya diperlukan agar persoalan tata kelola maupun halangan di lapangan bisa langsung ditangani.

"Tujuan Kepala Badan Karantina membuka ruang komunikasi memang untuk menyerap masukan langsung dari pelaku upaya sehingga tata kelola bisa diperbaiki nan bisa meningkatkan perekonomian negara," kata Moksa.

(dce)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya