Bea Cukai Tak Jadi Dibubarkan Prabowo

15 jam yang lalu 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, Presiden Prabowo Subianto telah puas terhadap perkembangan perbaikan di Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).

Ia memastikan, kepala negara apalagi memberikan sinyal untuk tak jadi membubarkan DJBC, setelah sebelumnya DJBC terancam dibubarkan Kepala Negara jika tak melakukan pembenahan dan diganti dengan Société Générale de Surveillance (SGS) asal Swiss pada awal tahun lalu.

"Jadi kemungkinannya sih Bea Cukai bakal tetap bertahan," kata Purbaya di kantornya, Jakarta, Selasa (21/7/ 2026).

Menurut Purbaya, Presiden Prabowo apalagi sekarang telah memberikan penghargaan DJBC untuk perbaikan nan telah dilakukan, seperti memperkuat kebijakan pengawasan terhadap peralatan ilegal.

"Kalau kita lihat dari penghargaan alias dari pidato presiden ke Bea Cukai Pak Prabowo sudah memandang ada perbaikan nan signifikan dari Bea Cukai," tutur Purbaya.

"Kalau dulu dia bilang bubarkan, sekarang dia pernah bilang di salah satu rapat dengan kabinet, Bea Cukai bisa diperbaiki dan kudu diperbaiki, itu adalah signal nan clear, ada perkembangan positif di bea cukai nan diakui oleh ketua kita," tegasnya.

Bea Cukai apalagi kata Purbaya telah mengembangkan sistem berbasis kepintaran buatan namalain artificial intelligance (AI) untuk memperkuat pengawasan aktivitas kelar masuk peralatan di Indonesia. Sistem rencananya bakal mulai digunakan dalam dua pekan ke depan.

"Ada software AI di lapangan nan digunakan di pusat Bea Cukai ini nan link di banyak tempat Indonesia. Dua minggu lagi tadi Pak Djaka bilang bisa demonstrasi ke teman-teman media untuk memandang bahwa kita sekarang lebih canggih dari sebelumnya," papar Purbaya.

Purbaya menganggap, perbaikan ini tak terlepas dari caranya melakukan perombakan ulang jejeran Bea Cukai sejak awal tahun ini. Kini, jejeran pejabat alias pucuk pimpinanya di Bea Cukai kata Purbaya sudah merupakan orang-orang nan relatif lebih baik.

"Dan mereka tahu jika mereka enggak baik bakal dibubarkan. Pertumbuhan penerimaannya sekarang sudah 6% lebih dan sekarang jika kita lihat di pasar balpres sudah berkurag banyak, peralatan selundupan sudah berkurang banyak, terus bea cukai aktif penangkapan-penangkana peredaran rokok ilegal," ujar Purbaya.

Bea Cukai kata Purbaya sekarang juga tidak asal melepas para pelaku pengedar peralatan terlarangan setelah menyita peralatan bawaannya, melainkan langsung menyita perangkat angkutnya sehingga biaya pengedaran peralatan terlarangan menjadi lebih mahal di tanah air.

"Sekarang setiap truk alias kendaraan nan melakukan praktik terlarangan ditahan dulu sampai clear agar cost praktik terlarangan jadi mahal. Jadi sekarang seluruh instansi bea cukai penuh dengan truk-truk alias mobil-mobil nan angkut peralatan terlarangan itu," ungkapnya.

Sebagai informasi, penerimaan kepabeanan dan cukai pun sekarang bisa terus mengalami pertumbuhan. Hingga Semester I-2026, realisasi penerimaan negara dari sisi bea dan cukai sudah Rp 152 triliun alias naik 3,4% dari realisasi periode nan sama tahun lampau Rp 147 triliun.

Realisasi hingga akhir Juni 2026 itu sudah setara 45,2% dari sasaran APBN sepanjang tahun ini nan sebesar Rp 335 triliun. Hingga akhir tahun, setoran kepabeanan dan cukai pun diperkirakan Purbaya bakal mencapai Rp 320,6 triliun alias 95,4% dari target. Meski tak capai target, tetap lebih tinggi dibanding tahun lampau Rp 300,3 triliun.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya