Ilustrasi.(Magnific)
DUNIA sekarang tengah menghadapi kejadian nan disebut sebagai China Shock kedua. Gelombang ekspor produk murah dari Tiongkok kembali membanjiri pasar global. Namun kali ini cakupannya lebih luas dan menyasar sektor teknologi tinggi, memicu kekhawatiran bakal deindustrialisasi dan gejolak politik di beragam bagian dunia.
Dua puluh lima tahun lalu, gelombang pertama China Shock terjadi saat barang-barang murah Tiongkok membanjiri pasar Amerika Serikat (AS), nan berkontribusi pada hilangnya 3 juta lapangan kerja pabrik. Kini, guncangan serupa merambah ke Eropa, Asia Tenggara, Afrika, hingga Amerika Latin.
Akar Masalah: Kelebihan Kapasitas dan Krisis Domestik
Ledakan ekspor Tiongkok saat ini berakar pada respons Beijing terhadap runtuhnya gelembung pasar properti beberapa tahun lalu. Menurut firma investasi KKR, krisis tersebut menghapus kekayaan rumah tangga sebesar US$10 triliun (sekitar Rp162.000 triliun). Sejak 2020, otoritas Tiongkok mengalihkan investasi ke kapabilitas manufaktur tambahan untuk mengompensasi penurunan real estat.
Fokus dialihkan pada industri maju seperti kendaraan listrik (EV), baterai lithium-ion, dan tenaga surya. Namun, pabrik-pabrik ini memproduksi lebih banyak peralatan daripada nan bisa dibeli oleh konsumen domestik Tiongkok. Untuk menjaga jutaan pekerja tetap bekerja, produsen Tiongkok beranjak ke pasar luar negeri. Data Bea Cukai Beijing menunjukkan ekspor pada paruh pertama tahun ini melonjak 18 persen dibandingkan periode nan sama tahun lalu.
"Terjadi peningkatan besar dalam kapabilitas manufaktur selama lima hingga enam tahun terakhir. Namun pertumbuhan permintaan domestik tidak cukup untuk menyerapnya," ujar Julian Evans-Pritchard, kepala ekonomi Tiongkok di Capital Economics, Singapura.
Perbedaan dengan Guncangan Pertama
Jika guncangan pertama pada awal 2000-an didominasi oleh peralatan dasar seperti busana dan dasar kaki, China Shock kedua ini menampilkan produk teknologi tinggi seperti semikonduktor dan kendaraan listrik. Dampaknya sekarang terasa lebih keras di luar Amerika Serikat, terutama Eropa.
AS sejauh ini sukses meredam akibat gelombang terbaru ini melalui kebijakan tarif nan ketat. Sebaliknya, Eropa tengah berjuang keras. Kanselir Jerman Friedrich Merz dan Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan tindakan berbareng untuk melindungi industri Eropa dari serbuan produk Tiongkok nan disubsidi.
Statistik Kunci:
- Pangsa Tiongkok dalam perdagangan peralatan dunia naik dari 4% pada tahun 2000 menjadi 16% saat ini.
- Mata duit Tiongkok diperkirakan undervalued hingga 21% oleh IMF, membikin nilai ekspor semakin murah.
- Lebih dari 1 juta mobil buatan Tiongkok diimpor ke Uni Eropa tahun lalu.
Dampak pada Industri Otomotif Eropa
Jerman, sebagai kekuatan manufaktur tradisional Eropa, berada dalam posisi nan sulit. Volkswagen dilaporkan berencana menutup empat pabrik di Jerman dan memangkas 100.000 pekerja sebagai upaya restrukturisasi menghadapi persaingan Tiongkok.
Produsen mobil Tiongkok saat ini bisa memproduksi nyaris dua kali lipat jumlah mobil nan bisa mereka jual di pasar domestik mereka sendiri. "Tidak ada duit nan bisa dihasilkan dengan menjual di pasar Tiongkok nan sangat kompetitif dan kelebihan pasokan," kata Brad Setser, ahli ekonomi dari Council on Foreign Relations.
Respons Global dan Ketidakpastian Ekonomi
Menteri Keuangan AS Scott Bessent mendesak Tiongkok untuk beranjak dari kebijakan industri ke support konsumsi rumah tangga. Ia menyebut model ekonomi Tiongkok saat ini tidak berkepanjangan dan merugikan dunia. AS diperkirakan bakal meluncurkan tarif tambahan bulan ini untuk memerangi kelebihan kapabilitas struktural.
Di sisi lain, ekonomi Tiongkok sendiri menunjukkan tanda-tanda pelemahan. Pertumbuhan ekonomi kuartal kedua melambat menjadi 4,3 persen. Dengan nilai rumah nan terus turun enam tahun setelah gelembung pecah, konsumen Tiongkok tetap enggan berbelanja, memaksa pemerintah untuk terus mengandalkan ekspor sebagai mesin pertumbuhan.
Meskipun ada tekanan koordinasi dari mitra dagang, beberapa negara seperti Inggris dan Kanada mulai mengambil langkah berdikari dengan memotong kesepakatan terpisah untuk mempertahankan akses ke pasar Tiongkok, menambah kompleksitas dalam menghadapi kekuasaan manufaktur Beijing di panggung global. (The Washington Post/I-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·