Bendungan Cipancuh Kering, 10 Ribu Hektare Sawah di Indramayu Terancam Puso

1 jam yang lalu 2
Bendungan Cipancuh Kering, 10 Ribu Hektare Sawah di Indramayu Terancam Puso Bendungan Cipancuh di Kecamatan Gantar, Indramayu, Jawa Barat .(MI/Nurul Hidayah)

BENDUNGAN Cipancuh di Kecamatan Gantar, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, dilaporkan mengering total. Kondisi ini membikin waduk tadah hujan tersebut tidak bisa lagi menyuplai air untuk kebutuhan irigasi ribuan hektare areal pertanian di wilayah Indramayu Barat.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Sutatang, mengungkapkan bahwa krisis air ini langsung berakibat signifikan terhadap pertumbuhan tanaman padi petani lokal.

“Laporan nan kami terima, Bendungan Cipancuh sudah tidak lagi bisa menyuplai kebutuhan irigasi Kini, satu-satunya angan mereka hanyalah aliran Sungai Cipunegara nan debitnya juga terbatas,” tutur Sutatang, Jumat (7/8).

LIMA KECAMATAN TERDAMPAK KRISIS AIR
Bendungan Cipancuh selama ini menjadi tumpuan utama pengairan sawah di lima kecamatan, yakni:

  •     Kecamatan Gantar
  •     Kecamatan Haurgeulis
  •     Kecamatan Kroya
  •     Kecamatan Anjatan
  •     Kecamatan Bongas

Minimnya pasokan air menakut-nakuti produktivitas padi pada musim tanam gadu tahun ini, mengingat tanaman penduduk berada dalam beragam fase pertumbuhan.

Kekeringan ini sangat memengaruhi pertumbuhan tanaman padi nan saat ini berada pada fase nan berbeda-beda,” tutur Sutatang.

Sebagian tanaman petani diketahui baru memasuki fase vegetatif menuju generatif (pembentukan anakan), sebagian lainnya berada di fase mengandung (primordia), dan beberapa lahan apalagi baru memulai masa tanam pertama.

PASOKAN DARURAT BELUM MENCUKUPI
Sebagai langkah tanggap darurat, pemerintah telah mengalokasikan tambahan aliran air dari Bendungan Salam Darma sebesar tiga meter kubik per detik untuk wilayah Indramayu Barat. Namun, support tersebut dinilai belum sebanding dengan total luas lahan nan terdampak.

Tambahan pasokan itu diperkirakan baru bisa menyuplai sekitar 25% kebutuhan irigasi untuk areal persawahan seluas 10.673 hektare.

“Meski membantu, pasokan tersebut tetap jauh dari cukup mengingat luasnya area persawahan nan memerlukan irigasi,” tutur Sutatang.

Melihat kondisi ini, Sutatang mengimbau para petani nan belum bercocok tanam untuk menunda proses penanaman guna menghindari kerugian total.

"Jangan memaksakan tanam andaikan air tidak mencukupi. Prioritaskan lahan nan sudah ditanami agar tidak mengalami puso," kata Sutatang.

Sementara bagi petani nan sudah terlanjur menanam, disarankan memanfaatkan sumber air pengganti seperti pompa sumur dalam alias sumur pantek.

“Kami juga meminta pemerintah segera menambah pasokan air ke wilayah Indramayu Barat alias dengan penyelenggaraan teknologi modifikasi cuaca alias hujan buatan andaikan kondisi tandus terus berlangsung,” ungkap Sutatang.

DEBIT AIR MENCAPAI ANGKA NOL
Secara terpisah, Operator Bendungan Cipancuh, Derry, menjelaskan bahwa waduk ini murni mengandalkan air hujan tanpa adanya suplai langsung dari aliran sungai. Dampaknya, penyusutan debit air menjadi masalah tahunan setiap kali musim tandus tiba.

“Saat musim hujan Bendungan Cipancuh bisa menampung air dalam jumlah besar,” tutur Derry.

Namun, merujuk pada info teknis terakhir, persediaan air waduk sudah lenyap total sejak awal bulan lalu. Saat ini hanya tersisa genangan mini di bagian dasar waduk akibat kontur tanah nan tidak rata.

"Kami minta maaf kepada para petani lantaran saat ini waduk betul-betul tidak dapat lagi menyuplai kebutuhan air irigasi," tutur Derry. (UL/P-2)

Selengkapnya