ARTICLE AD BOX
Sugeng Paijo (kiri) dan istrinya, Khania Kendarsyah (kanan), mengembangkan upaya Jajanan Mamake.(MI/Lilik Darmawan)
USAI menikah dengan Khania Kendarsyah, Sugeng Paijo alias nan berkawan dipanggil Jojo, memutuskan untuk mengontrak sebuah rumah petak ukuran 4x5 meter dengan biaya sewa sekitar Rp500 ribu per bulan di Cilacap, Jawa Tengah.
Khania nan berasal dari Sukabumi, Jawa Barat, kudu rela meninggalkan pekerjaannya sebagai Human Resources Development (HRD) sebuah perusahaan untuk menjadi ibu rumah tangga (IRT). Waktu itu, Jojo nan seorang penyandang disabilitas daksa tetap sebagai penyiar sebuah radio terkenal di Cilacap.
Karena merasa rumah petak sempit, Jojo dan istrinya pun pindah ke rumah kontrakan milik ibu dari Jojo di Kelurahan Tambakreja, Kecamatan Cilacap Selatan.
“Tidak usah membayangkan luasannya, lantaran sama-sama sempitnya. Bahkan, dapur untuk masak hanya berukuran sekitar 3 meter persegi. Kecil sekali. Setiap malam, ketika anak-anak sudah tidur, saya berbareng istri memproduksi manggleng. Sebetulnya, itu upaya ibu sejak tahun 2016 nan kemudian saya kembangkan berbareng istri,” katanya beberapa saat lalu.
Usaha mulai jalan, kebetulan orang tua mau mengembangkan dan butuh modal. Kemudian, mereka berjumpa dengan PNM Mekaar.
“Ada tawaran dari PNM untuk mengembangkan usaha. Namun, lantaran ibu saya sudah tua, maka disarankan nan meminjam adalah istri saya. Akhirnya, Khania nan meminjam. Pinjaman pertama senilai Rp2 juta. Meski terlihat kecil, tapi bagi kami sangat bermanfaat. Maka ada lembaga selain PNM memberi pinjaman tanpa agunan. Paling kan rentenir, dan kami jelas tidak mau. Kami tidak punya sertifikat, lantaran rumah nan kami diami tanahnya milik sebuah perusahaan. Tanah ini hanya kewenangan guna saja. Makanya sebetulnya kami betul-betul tidak mempunyai agunan,” ujarnya.
Dari pinjaman Rp2 juta itulah, upaya bisa kembali jalan. Bahkan, Khania mulai me-rebranding jajanan manggleng dengan merek Jajan Mamake.
“Dengan modal itu, mulai tahun 2018, kami mencoba untuk mem-branding dengan packaging nan menarik. Selain itu, kami mulai berdagang lewat media sosial Instagram dan marketplace. Kami menjual di marketplace untuk meningkatkan trust publik,” katanya.
Semakin Fokus
Tahun 2019 awal, Jojo mundur dari penyiar radio, lantaran dia berbareng istrinya percaya untuk mengembangkan usaha. Apalagi, dirinya sudah memandang ada modal lain nan bisa diraih.
“Saya berani mundur, lantaran waktu itu saya mendapat job sebagai event organizer (EO) untuk beberapa event besar di Cilacap. Pemikiran saya, begitu job selesai, tentu bakal dapat modal untuk mengembangkan upaya nan mulai ditekuni istri dengan merek Jajanan Mamake,” jelasnya.
Skenario berubah. Mulai akhir 2019 hingga 2020, covid-19 merebak. Termasuk di Indonesia. Modal dari EO kandas diraih. Seluruh aktivitas dibatalkan. Jelas itu menjadi pukulan berat hingga kembali ke titik nadir. Namun, Jojo dan Khania tidak menyerah. Mereka mengintensifkan pemasarannya melalui media sosial dan marketplace.
“Ternyata ada hikmahnya juga ketika covid-19 melanda. Hampir semua orang mencari makanan secara online. Inilah titik baliknya, dagangan kami laku manis, ”ujarnya.
Meski serba terbatas, tetapi rupanya media sosial bisa mendongkrak pemasaran.
“Lucunya, lantaran tampilan Instagram kami terlihat rapi dan profesional, banyak orang mengira upaya kami sudah besar. Padahal kenyataannya sangat sederhana. Kami apalagi belum mempunyai rak display. Produk-produk hanya disimpan di dalam kardus. Kalau sekarang cerita itu dikenang memang bisa ditertawakan, tetapi dulu betul-betul masa nan sulit,” katanya.
Bahkan, pernah ada dua bus wisata dari Teluk Penyu nan mau mampir ke Jajan Mamake setelah memandang promosi di Instagram.
“Mereka mengira kami sudah punya toko besar, padahal saat itu kami tetap berdagang dari rumah kontrakan kecil. Akhirnya kami hanya bisa mengatakan bahwa tempat sedang direnovasi dan menawarkan untuk mengantarkan pesanan langsung kepada pelanggan,” jelasnya.
Dari situlah perlahan mereka mendapatkan pelanggan, terutama dari kalangan menengah ke atas, seperti tamu hotel dan visitor nan mencari oleh-oleh unik Cilacap melalui internet.
“Pada saat banyak UMKM baru mulai belajar berdagang online, kami sudah lebih dulu terbiasa menggunakan media sosial dan marketplace. Karena tidak mempunyai modal produksi, kami meminta pengguna melakukan transfer terlebih dulu sebelum peralatan diproduksi. Jadi sebenarnya para pembeli itulah nan menjadi modal awal upaya kami. Pada titik ini, peran PNM sangat luar biasa, lantaran menjadi satu-satunya lembaga pembiayaan nan menyalurkan biaya ke kami,” ungkap dia.
Usaha Berkembang
Setelah manggleng, keduanya beranjak menekuni jajanan lainnya. Yakni keripik sukun, kentang hingga produk basah brownies dan frozen food. Produk nan sangat laku di pasaran adalah keripik sukun.
“Selama dalam perjalanan mengembangkan upaya kami, PNM selalu membersamai. Mulai dari pembiayaan, memfasilitasi training hingga pemasaran. Pokoknya dari hulu sampai hilir,” ungkapnya.
Menurutnya, exposure upaya semakin moncer ketika Jojo mengikuti sebuah arena kejuaraan Juragan Jaman Now nan diselenggarakan stasiun televisi swasta. “Program nan ditayangkan pada 2023 tersebut, dampaknya luar biasa. Kami sampai mendapat pesanan stik sukun dalam corak produk jadi sebanyak 1,5 ton hingga 2 ton. Pemesannya kebanyakan para penjual di marketplace. Produk kami sempat viral waktu itu,” katanya.
Bahkan, lanjutnya, permintaan stik sukun sebenarnya sudah datang dari Malaysia, Australia, sampai Taiwan. “Namun kami kewalahan memenuhi permintaan tersebut. Problem utamanya ada pada supply chain (rantai pasok). Sukun bukan tanaman budi daya, ditambah lagi sifatnya musiman. Jadi ketika sedang tidak musim, bahan bakunya betul-betul tidak ada. Dari situ kami mulai berpikir, sebenarnya produk ini punya kesempatan ekspor. Namun persoalannya tetap sama, ialah pasokan,” ujar dia.
Tidak berakhir di industri mini makanan, Jojo dan Khania mengepakkan sayap untuk produksi kerajinan. nan ditangani adalah produk kerajinan berbahan baku gedebok atau pelepah pisang. Bagi Jojo, kulit pohon pisang bukanlah limbah, namun dapat menjadi bahan baku kerajinan.
“Ide ini muncul dari pengalaman di Jajan Mamake. Ketika permintaan besar tetapi pasokan bahan baku tidak mencukupi. Nah, kulit pohon pisang ini bisa menjadi pengganti lantaran di mana-mana ada dan tidak berjuntai pada musim. Apalagi, produknya dipastikan ramah lingkungan. Saya mulai belajar mengolah pelepah pisang dari beragam sumber, termasuk YouTube dan Instagram. Sampai sekarang riset dan pengembangannya tetap terus berjalan,” ungkapnya.
Pelepah pisang itu diolah hingga menyerupai kulit sintetis. Bahkan ada pihak nan tertarik menggunakan material tersebut untuk sandal hotel. Ketika ada permintaan ekspor, kami sudah siap dari sisi bahan baku dan kualitas produksi. Karena memang arahnya mau masuk pasar ekspor.
Produk nan dihasilkan cukup beragam, mulai dari card holder alias dompet penyimpan kartu-kartu, wallpaper dekoratif, keranjang laundry, keranjang sampah, hingga topi. Beberapa produk juga dikolaborasikan dengan perajin lain.
“Untuk pemasaran produk-produk ramah lingkungan ini, kami juga mengarah ke pasar korporasi. Selain melalui Instagram dan marketplace, kami aktif menjalin relasi dengan perusahaan,” kata dia.
Sementara itu, Khania turut mengurus Kelompok Usaha Bersama (KUB) berjulukan Wijayapura. Kelompok ini melimpatkan para wanita di wilayah pesisir Laut Cilacap.
“Kami diberi training ecoprint dengan difasilitasi PNM. Sampai sekarang klaster ini tetap tetap berjalan. Karena mereka juga dilayani pembiayaan oleh PNM. Saya sendiri juga mendapat pembiayaan hingga Rp14 juta,” tambah Khania.
Berdasarkan kalkulasi dari Jojo dan Khansa, upaya nan dirintis dari nol tersebut, sekarang mulai menggeliat dan mempunyai omzet hingga puluhan juta.
“Omzet Jajan Mamake saat ini berkisar Rp30 juta per bulan dengan enam pekerja, semuanya perempuan. Dari awal memang kami mau memberdayakan perempuan, khususnya mereka nan menjadi tulang punggung family alias single parent,” ujarnya.
Kemudian untuk ecoprint, personil nan terlibat di KUD sekitar 15 orang, kebanyakan wanita dan ada juga teman-teman difabel. “Mereka rata-rata merupakan pengguna PNM lantaran awalnya memang dibentuk sebagai klaster binaan. Omzet ecoprint saat ini berkisar Rp15 juta per bulan. Produknya sering dibawa dalam beragam aktivitas pameran dan promosi, termasuk lewat jejaring kolaborasi,” katanya.
Sedangkan untuk kerajinan dari gedebok pisang, omzet per bulan saat ini berkisar Rp25 juta.
“Memang arah pasar kami lebih banyak ke korporasi, sehingga pola penjualannya tidak rutin harian, tetapi sekali ada pembelian biasanya langsung dalam jumlah besar. Misalnya, kemarin kami mendapat pesanan dari Baznas hingga Rp21 juta untuk kebutuhan suvenir aktivitas dan pelatihan,” ujarnya.
Pelibatan Difabel
Sebagai seorang penyandang disabilitas, Jojo juga tergerak untuk memperhatikan para difabel di Cilacap. Kemudian dia mendirikan Yayasan Dipa Mandiri Nusantara dan unit upaya Dipa Craft. Meski yayasan baru berdiri pada 2025, embrio aktivitas tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak 2022.
Berangkat dari pengalaman pribadi sebagai penyandang disabilitas sekaligus aktivitasnya sebagai Ketua Unit Layanan Inklusi Disabilitas Penanggulangan Bencana, Jojo banyak berbincang dengan sesama difabel mengenai persoalan nan mereka hadapi sehari-hari.
“Ketika sering kumpul dan ngobrol dengan teman-teman disabilitas, saya memandang sebenarnya support itu cukup banyak. Tetapi sering kali kurang merata, tidak tepat sasaran, dan sifatnya tetap charity,” ujar Jojo.
Menurutnya, pola support nan hanya berkarakter karitatif justru kerap memunculkan ketergantungan. Bahkan dalam jangka panjang dapat menciptakan mental block nan menghalang produktivitas dan produktivitas penyandang disabilitas.
“Kadang muncul emosi tidak percaya diri, merasa tidak bisa, dan akhirnya susah berkembang. Padahal mereka punya potensi,” katanya.
Berangkat dari pengalaman di bumi kewirausahaan, Jojo kemudian mencoba membagikan pengetahuan dan pengalamannya kepada organisasi difabel di Cilacap. Ia mau penyandang disabilitas mempunyai kesempatan untuk berdikari secara ekonomi.
“Yayasan Dipa Mandiri Nusantara nan berfokus pada rumor strategis pemberdayaan wanita dan disabilitas. Yayasan tersebut tidak hanya memberikan training keterampilan, tetapi juga membangun sistem pendampingan agar peserta betul-betul bisa menjalankan usaha,” jelasnya.
Jojo mengatakan, salah satu persoalan terbesar nan dihadapi pelaku UMKM difabel adalah pemasaran dan permodalan. Banyak penyandang disabilitas sebenarnya mempunyai keterampilan, tetapi kesulitan mengembangkan upaya lantaran terbatas modal dan akses pasar.
Untuk menjawab persoalan tersebut, yayasan membentuk Dipa Craft sebagai unit upaya sekaligus ruang produksi bersama. Dalam sistem itu, yayasan berkedudukan sebagai fasilitator.
“Mereka kami beri bahan untuk dikerjakan, lampau produk nan dihasilkan kami bantu pasarkan. Jadi teman-teman difabel bisa konsentrasi berkarya,” ujarnya.
Saat ini, sekitar 20 hingga 25 penyandang disabilitas aktif terlibat dalam beragam aktivitas produksi dan pemberdayaan di Dipa Craft. Namun dalam proses pendampingan, Jojo menyadari persoalan nan dihadapi penyandang disabilitas rupanya jauh lebih kompleks daripada sekadar ekonomi.
“Ada persoalan sosial, kekerasan, sampai pendampingan hukum. Karena itu kami mulai bekerja sama dengan dengan beragam pihak lain untuk membantu advokasi,” katanya.
Menurut Jojo, yayasan nan baru resmi berdiri pada Juni 2025 itu terus berkembang melalui beragam kerjasama baru nyaris setiap bulan. Salah satu mitra nan aktif mendukung adalah PNM nan selama ini membantu penyerapan produk sekaligus memberikan training usaha.
“PNM bukan hanya menyalurkan kredit, tetapi juga mendampingi dari hulu sampai hilir. Itu nan sebenarnya sangat dibutuhkan teman-teman difabel,” ujarnya.
Melalui Dipa Craft, Jojo dan istrinya mencoba membangun blueprint alias model pengembangan masyarakat inklusif di Cilacap. Mereka mau membuktikan bahwa upaya tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga kudu memberikan akibat sosial dan lingkungan.
“Pola pikir upaya ya tetap usaha, tetapi kudu ada akibat sosial dan lingkungan. Mudah-mudahan kelak ada penerusnya dan bisa berkelanjutan,” ujarnya.
Selain membangun upaya bersama, yayasan juga mulai merintis sistem pendataan penyandang disabilitas di tingkat kecamatan. Setiap wilayah mempunyai perwakilan nan bekerja mendata jumlah penyandang disabilitas, jenis disabilitas, hingga kebutuhan nan mereka hadapi.
Pendataan itu disertai proses mitigasi agar info nan dimiliki betul-betul riil dan lebih akurat. Sebab hingga kini, menurut Jojo, salah satu persoalan utama dalam rumor disabilitas adalah minimnya info nan sah dan merata.
“Sebenarnya yayasan ini bukan mau melangkah sendiri secara eksklusif. Kami mau menjadi jembatan alias penyedia agar support dari beragam pihak bisa lebih terarah dan berakibat nyata,” katanya.
Ia mencontohkan, banyak support nan sebenarnya diberikan dengan niat baik, tetapi tidak berkepanjangan lantaran tanpa pendampingan. Misalnya support mesin jahit nan akhirnya mangkrak dan tidak digunakan.
“Bukan berfaedah mereka tidak peduli. Mungkin hanya belum tahu langkah membantu nan tepat,” ujarnya.
Karena itu, dia berambisi aktivitas inklusivitas tidak berakhir pada support sesaat. Bagi Jojo, penyandang disabilitas memerlukan ruang untuk berkembang, kesempatan untuk bekerja, dan sistem pendampingan nan berkepanjangan sehingga bisa hidup berdikari di tengah masyarakat. (LD/E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·