Berjemur Saja tak Cukup, NIH Ungkap Faktor Penentu Kadar Vitamin D

2 hari yang lalu 5
Berjemur Saja tak Cukup, NIH Ungkap Faktor Penentu Kadar Vitamin D Ilustrasi suplemen vitamin D.(Dok. Magnific)

PAPARAN sinar mentari sering dianggap sebagai langkah paling mudah untuk memenuhi kebutuhan vitamin D. Namun, dugaan tersebut tidak sepenuhnya betul lantaran terdapat beragam aspek kompleks nan memengaruhi proses produksinya dalam tubuh.

National Institutes of Health (NIH) menjelaskan bahwa tubuh memang dapat memproduksi vitamin D ketika kulit terpapar sinar ultraviolet B (UVB). Namun, jumlah vitamin D nan dihasilkan berbeda pada setiap orang lantaran dipengaruhi oleh waktu paparan, musim, lama siang hari, tutupan awan, warna kulit, hingga kondisi lingkungan. Artinya, seseorang nan rutin beraktivitas di bawah sinar mentari belum tentu mempunyai kadar vitamin D nan optimal.

Kadar Vitamin D tidak Diukur dari Lama Berjemur

NIH menekankan bahwa status vitamin D seseorang tidak dinilai dari seberapa sering alias lama mereka berjemur, melainkan melalui pemeriksaan kadar 25-hidroksivitamin D [25(OH)D] dalam darah. Senyawa ini menjadi parameter kunci untuk mengetahui apakah tubuh mempunyai kecukupan vitamin D alias justru mengalami defisiensi.

Vitamin D nan diperoleh dari sinar matahari, makanan, maupun suplemen tidak langsung digunakan oleh tubuh. Nutrisi ini kudu diubah terlebih dulu di organ hati dan ginjal sebelum menjadi corak aktif nan fungsional.

Pentingnya Vitamin D bagi Tubuh

Vitamin D mempunyai peran krusial dalam membantu penyerapan kalsium dan fosfor di usus. Nutrisi ini sangat dibutuhkan untuk pertumbuhan, pembentukan, dan pembaruan tulang agar tetap kuat. Kekurangan vitamin D dapat memicu kondisi serius seperti rakitis pada anak-anak dan osteomalasia pada orang dewasa.

Bagi golongan usia lanjut, kecukupan vitamin D nan dibarengi dengan asupan kalsium sangat krusial untuk menjaga kepadatan tulang dan menurunkan akibat osteoporosis. Selain kesehatan tulang, vitamin D juga berkedudukan dalam:

  • Mendukung kegunaan otot.
  • Memperkuat sistem kekebalan tubuh.
  • Mengatur proses peradangan.
  • Mendukung proses metabolisme tertentu.

Sumber Makanan dan Risiko Kekurangan

NIH menyebut bahwa memperoleh vitamin D nan cukup hanya dari makanan alami tergolong sulit. Hanya sedikit makanan nan mengandung vitamin D secara alami, seperti ikan berlemak, minyak hati ikan, kuning telur, hati sapi, dan keju, itu pun dalam jumlah terbatas. Oleh lantaran itu, makanan nan difortifikasi dan paparan mentari tetap menjadi sumber pendukung nan penting.

Beberapa golongan nan mempunyai akibat tinggi kekurangan vitamin D antara lain:

  • Orang dengan paparan sinar mentari terbatas.
  • Individu dengan gangguan ginjal nan menghalang konversi vitamin D ke corak aktif.
  • Orang dengan gangguan penyerapan pada saluran pencernaan.
  • Individu dengan alergi susu, intoleransi laktosa, alias nan menjalani pola makan vegan dan ovo-vegetarian.

Pertimbangan Suplemen

Dalam kondisi tertentu di mana kebutuhan vitamin D tidak terpenuhi dari makanan dan matahari, penggunaan suplemen vitamin D dapat dipertimbangkan sesuai rekomendasi tenaga kesehatan. NIH mengingatkan agar orang dewasa tetap memenuhi nomor kecukupan gizi nan direkomendasikan.

Khusus bagi lansia, konsultasi dengan master sangat disarankan untuk menentukan dosis nan tepat guna menjaga kesehatan tulang dan mencegah akibat cedera. Pada akhirnya, status vitamin D paling jeli dinilai melalui pemeriksaan medis, bukan sekadar dari kebiasaan berjemur semata. (National Institutes of Health/H-3)

Selengkapnya