loading...
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan rayuan melakukan kekerasan. Foto: Istimewa
JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengingatkan bahwa radikalisasi di ruang digital tidak selalu dimulai dengan rayuan melakukan kekerasan. Proses itu dapat berasal dari hubungan sederhana, support personal, percakapan dalam permainan daring, hingga rekomendasi konten nan terus berulang lantaran kerja algoritma .
“Ketika kekuatan narasi di era digital berasosiasi dengan kekuatan algoritma untuk sesuatu nan buruk, dampaknya bakal termultiplikasi,” kata Meutya dalam Diskusi Publik dan Bedah Buku Atas Nama Surga: Algoritma Radikalisasi hingga Manipulasi Kesadaran di Jakarta, Rabu (29/7/2026).
Dia berpendapat, perpaduan narasi ekstrem dan algoritma dapat menciptakan ilusi bahwa info nan terus muncul di layar merupakan kebenaran. Fakta kemudian kalah oleh emosi, keyakinan, dan paparan berulang nan membentuk situasi post-truth.
Baca juga: Fahri Bachmid Soroti Algoritma dan Teknologi Digital saat LK II HMI Kota Bogor 2026
Menkomdigi menuturkan bahwa proses radikalisasi tidak terjadi secara instan. Pendekatan dapat dimulai dari uluran tangan, pemberian bantuan, pengobatan, pelunasan utang, hingga janji memperoleh pendidikan alias kehidupan nan lebih baik. Setelah kepercayaan korban terbentuk, jaringan mulai memasukkan narasi ideologis dan mengarahkan korban pada tindakan nan bertentangan dengan nilai kemanusiaan.
Meutya juga meminta orang tua mencermati perubahan pola komunikasi anak. Dampak paparan konten rawan tidak selalu terlihat dalam satu alias dua hari, tetapi dapat terbentuk perlahan selama berbulan-bulan apalagi bertahun-tahun.








English (US) ·
Indonesian (ID) ·