BMKG Ingatkan Dampak El Nino Kuat di Jawa Tengah, Waspada Kekeringan Hidrologis

15 jam yang lalu 6
BMKG Ingatkan Dampak El Nino Kuat di Jawa Tengah, Waspada Kekeringan Hidrologis Lahan penduduk mengalami kekeringan di musim kemarau.(Dok. MI)

BADAN Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan awal bagi masyarakat untuk mewaspadai peningkatan akibat kekeringan di wilayah Jawa Tengah. Hal ini dipicu oleh menguatnya kejadian El Nino nan memperparah musim tandus 2026, sehingga menakut-nakuti sektor pertanian, kesiapan sumber daya air, hingga stabilitas sosial ekonomi.

Sekretaris Utama BMKG, Guswanto, menjelaskan bahwa musim kemarau tahunan nan biasanya berjalan dari April hingga Oktober sekarang mengalami anomali akibat El Nino nan telah mencapai kategori kuat. Pernyataan tersebut disampaikan dalam pembukaan Sekolah Lapang Cuaca Nelayan (SLCN) 2026 di Cilacap, Rabu (29/7).

"Pada awalnya kami memprediksi El Nino berada pada kategori moderat, tetapi sekarang indeksnya sudah sekitar dua sehingga masuk kategori kuat. Dampaknya adalah meningkatnya potensi kekeringan," ujar Guswanto.

Tahapan Kekeringan nan Perlu Diwaspadai

Guswanto memaparkan bahwa kekeringan berkembang secara berjenjang melalui tiga fase utama:

  • Kekeringan Meteorologis: Berkurangnya kandungan uap air di atmosfer nan menyebabkan intensitas hujan semakin jarang.
  • Kekeringan Pertanian: Kondisi di mana kelembapan tanah tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.
  • Kekeringan Hidrologis: Penurunan pasokan air secara drastis di sungai, waduk, embung, hingga jaringan irigasi.

"Jika pasokan air di embung, danau, dan irigasi sudah tidak ada lagi, itu sudah masuk kekeringan hidrologis. Saat ini arahnya mulai menuju ke sana," tegasnya. Dampak paling krusial nan kudu diantisipasi adalah akibat kandas panen dan berkurangnya kesiapan air bersih bagi masyarakat.

Pengaruh Angin Muson Timur dan Fenomena Embun Es

Saat ini, sejumlah wilayah di Pulau Jawa dilaporkan telah mengalami Hari Tanpa Hujan (HTH) selama puluhan hari. Kondisi ini disebabkan oleh kekuasaan angin muson timur nan bertiup dari Australia menuju Asia melewati Indonesia. Angin nan berkarakter kering ini menghalang pembentukan awan hujan dan memicu suhu udara nan lebih rendah pada malam hingga pagi hari.

Fenomena ini juga berakibat pada munculnya embun es alias "embun upas" di area dataran tinggi seperti Dieng, nan biasanya terjadi pada periode Juni hingga Agustus.

Tantangan Modifikasi Cuaca

Terkait upaya mitigasi, BMKG menyebut Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai salah satu solusi. Namun, Guswanto menekankan bahwa teknologi ini sangat berjuntai pada keberadaan awan hujan nan potensial.

Berdasarkan pantauan radar cuaca BMKG di Jeruklegi, Cilacap, potensi awan saat ini didominasi oleh awan lapisan tinggi nan belum mendukung penyelenggaraan modifikasi cuaca. "Kalau awan hujannya tidak ada, modifikasi cuaca juga susah dilakukan lantaran prinsipnya hanya mempercepat proses kondensasi pada awan nan memang berpotensi menghasilkan hujan," jelasnya.

BMKG terus bersinergi dengan Komisi V DPR RI, Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian Perhubungan, dan pemerintah wilayah untuk memperkuat jasa info cuaca serta literasi masyarakat melalui Sekolah Lapang Iklim. Sinergi lintas sektoral diharapkan bisa meminimalisir akibat kekeringan terhadap operasional pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dan kebutuhan irigasi nasional. (Ant/H-3)

Selengkapnya