ilustrasi(Antara)
Kepala Stasiun Klimatologi Kelas I Nusa Tenggara Timur (NTT), Rahmattuloh Adji, mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi tandus nan berjalan lebih panjang. Hal ini menyusul kondisi kejadian El Nino nan saat ini telah mencapai intensitas sangat kuat. Berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) hingga Dasarian II Agustus 2026, indeks ENSO di wilayah Nino3.4 telah menyentuh nomor +2,99. Kondisi ini diprediksi bakal terus memperkuat hingga awal tahun 2027.
“Kondisi El Nino saat ini berada pada intensitas sangat kuat. Hal ini ditunjukkan oleh indeks ENSO di wilayah Nino3.4 nan mencapai +2,99,” ujar Rahmattuloh kepada Media Indonesia, Selasa (25/8).
Ia menjelaskan bahwa kejadian ini perlu menjadi perhatian serius lantaran El Nino secara signifikan dapat mengurangi curah hujan dan memperpanjang masa kekeringan di beragam wilayah Indonesia, khususnya di NTT. Selain El Nino, dinamika atmosfer lainnya seperti Indian Ocean Dipole (IOD) juga turut memengaruhi.
Saat ini, IOD berada pada fase netral dengan indeks +0,394. Namun, BMKG memprediksi kejadian tersebut berkesempatan memasuki fase positif setidaknya hingga Oktober 2026. Kondisi IOD positif diketahui dapat menghalang pembentukan awan dan hujan di sebagian wilayah Indonesia.
Faktor lain nan memperkuat kondisi kering adalah aktifnya angin timuran nan diprediksi mendominasi hingga akhir Agustus. Selain itu, Monsun Australia terpantau tetap aktif, sementara Monsun Asia belum menunjukkan aktivitasnya. Kombinasi atmosfer ini mendukung cuaca nan lebih kering, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan, di mana sebagian besar wilayah NTT saat ini tengah berada pada puncak musim kemarau 2026.
Menyikapi kondisi tersebut, Rahmattuloh mengimbau masyarakat untuk melakukan langkah antisipasi, terutama dalam penggunaan air bersih. “Kami mengimbau masyarakat untuk menghemat dan menggunakan air secara bijak, mewaspadai potensi kekeringan, serta tidak melakukan pembakaran lahan secara sembarangan,” tegasnya.
Ia menambahkan, kondisi angin nan kering dapat meningkatkan akibat kebakaran rimba dan lahan (karhutla) secara drastis jika masyarakat tidak berhati-hati.
Kendati El Nino berada pada intensitas sangat kuat, Rahmattuloh memberikan catatan bahwa perihal tersebut tidak berfaedah seluruh wilayah NTT bakal mengalami hujan nol persen. Peluang pembentukan awan dan hujan lokal tetap tetap ada akibat pengaruh dinamika atmosfer lainnya di beberapa titik.
Masyarakat diharapkan tetap memantau info prakiraan cuaca dan peringatan awal nan dikeluarkan BMKG secara berkala guna mengantisipasi perubahan kondisi cuaca nan bergerak selama musim tandus berlangsung.









English (US) ·
Indonesian (ID) ·