ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Pelemahan nilai tukar rupiah menjadi perhatian serius industri pembiayaan. Kondisi tersebut dinilai berpotensi mendorong kenaikan nilai kendaraan bermotor lantaran sebagian komponen maupun bahan bakunya tetap berjuntai pada impor.
Ketua Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno mengatakan produsen kendaraan kemungkinan tetap menahan kenaikan nilai melalui beragam strategi bisnis. Namun ruang tersebut tidak bakal berjalan selamanya andaikan pelemahan rupiah terus berlanjut.
"Kalau kita bicara mengenai pelemahan rupiah, tentu semua peralatan impor bakal punya pengaruh. Kalau kita bicara kendaraan, harusnya juga naik," katanya kepada CNBC Indonesia, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan andaikan nilai kendaraan akhirnya mengalami penyesuaian, maka nilai pembiayaan dan besaran angsuran nan dibayar konsumen juga bakal ikut berubah. Karena itu perusahaan pembiayaan bakal semakin memperhatikan keahlian bayar calon debitur.
"Kalau kelak ada kenaikan nilai kendaraan, tentunya bakal ada kenaikan cicilan. Itu kudu dihitung kembali keahlian bayar debiturnya."
Di tengah kondisi tersebut, perusahaan pembiayaan memilih tetap berhati-hati dalam menyalurkan angsuran baru. Langkah ini dinilai krusial agar kualitas pembiayaan tetap terjaga andaikan tekanan ekonomi tetap berlanjut.
Suwandi mengatakan penyesuaian kembang maupun kenaikan nilai kendaraan tidak otomatis mengurangi minat masyarakat. Namun perusahaan tetap kudu memastikan setiap angsuran diberikan kepada konsumen nan betul-betul mempunyai keahlian membayar.
"Yang paling krusial bagi kami adalah keahlian bayar debitur tetap baik sehingga pembiayaan bisa melangkah sehat," katanya.
Meski menghadapi tantangan dari sisi kurs, industri pembiayaan tetap berambisi kondisi ekonomi nasional terus membaik sehingga daya beli masyarakat kembali meningkat.
"Harapan kita nilai tukar rupiah bisa kembali menguat sehingga kepercayaan penanammodal dan pertumbuhan ekonomi juga semakin baik," ujar Suwandi.
Sementara itu, Nilai tukar rupiah sukses ditutup menguat terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan terakhir pekan ini, Jumat (3/7/2026).
Merujuk info Refinitiv, mata duit Garuda berhujung di area hijau dengan menguat 0,24% ke level Rp17.945/US$. Penguatan ini sekaligus mematahkan tren pelemahan rupiah dalam tiga perdagangan beruntun sebelumnya.
Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di rentang Rp17.935-Rp17.965/US$. Penguatan rupiah sudah terlihat sejak awal perdagangan pagi tadi, seiring melemahnya dolar AS di pasar global.
(dce/dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2








English (US) ·
Indonesian (ID) ·