Distribusi air bersih di Indramayu(Dok Istimewa)
BADAN Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cirebon memetakan sejumlah wilayah nan kesiapan air sudah menurun.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Cirebon, Syamsul Huda, menjelaskan penurunan persediaan debit air sekarang sudah mulai terlihat di beberapa wilayah . “Pemantauan kami menunjukkan debit air mulai mengalami penurunan, salah satunya di Situ Patok di Kecamatan Mundu,” tutur Syamsul, Senin (3/8). Dijelaskan Syamsul, menurunnya persediaan air disebabkan curah hujan nan tidak lagi turun dalam beberapa pekan terakhir.
Apabila hujan tidak segera turun, air nan tetap ada di Situ Patok diperkirakan hanya bisa memenuhi kebutuhan masyarakat sekitar hingga dua bulan ke depan. Kondisi tersebut menjadi perhatian serius mengingat Situ Patok merupakan salah satu sumber air krusial bagi wilayah sekitarnya.
Selain di Situ Patok, BPBD Kabupaten Cirebon juga mencatat empat wilayah lainnya juga mengalami penurunan debit air. Yaitu tersebar di Kecamatan Greged, Sedong, Klangenan, dan Kecamatan Gempol. Sumur-sumur penduduk di wilayah tersebut debit airnya sudah menurun.
Sebagai langkah antisipasi, BPBD sudah berkoordinasi dengan Perumda Air Minum (PDAM) Tirta Jati serta sejumlah pihak swasta untuk memastikan pengedaran air bersih tetap melangkah bagi masyarakat nan terdampak. “Distribusi air bersih sekarang mulai diprioritaskan ke wilayah nan paling membutuhkan,” tutur Syamsul.
BPBD Kabupaten Cirebon juga telah menyiapkan sarana pendukung berupa 10 unit tandon air, terdiri atas empat tandon berkapasitas 100 liter dan enam tandon berkapasitas 2.000 liter. Selain itu, satu unit mobil tangki berkapasitas 4.000 liter disiagakan untuk mendistribusikan air bersih ke wilayah nan mengalami kekeringan.
Sebagai upaya mitigasi jangka panjang, pompa sumur artesis air dalam nan berada di wilayah Cupang, Walahar, Beber, Greged, dan Sedong telah dioperasikan. Seluruh pompa tersebut dilaporkan berfaedah normal sehingga diharapkan bisa menjadi penopang kebutuhan air bersih masyarakat selama musim kemarau berlangsung. “Puncak kekeringan diperkirakan terjadi akhir Agustus ini. Untuk itu kita terus siaga,” tutur Syamsul. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·