BPOM Perkuat Kerja Sama Strategis Ketahanan Pangan Obat RI-India

1 hari yang lalu 2
ARTICLE AD BOX

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia dan India memperkuat babak baru kemitraan strategis di sektor kesehatan dan izin produk medis. Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) Taruna Ikrar, mendampingi Presiden Prabowo Subianto dalam rangkaian kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi di Jakarta.

Pertemuan tingkat tinggi tersebut menjadi momentum krusial bagi kedua negara untuk mendorong kerja sama konkret, termasuk penguatan sistem izin obat, produk farmasi, bahan baku farmasi, produk biologi, kosmetik, keamanan obat, hingga peningkatan kapabilitas kelembagaan regulator.

Prabowo menegaskan kunjungan Perdana Menteri Narendra Modi mencerminkan kuatnya komitmen Indonesia dan India untuk terus memajukan Kemitraan Strategis Komprehensif melalui kerja sama nan konkret dan saling menguntungkan.

"Kunjungan ini merupakan cermin komitmen kedua negara untuk terus memajukan Kemitraan Strategis Komprehensif melalui kerja sama nan konkret dan saling menguntungkan," ujar Prabowo dalam keterangan resmi, Jumat (10/7/2026).

Dalam momentum tersebut, Prabowo dan Narendra Modi mengukuhkan 16 kesepakatan dalam kerangka Kemitraan Strategis Komprehensif Indonesia-India. Salah satu arsip strategis nan menjadi bagian dari pengukuhan itu adalah "Memorandum of Understanding on Cooperation in the Field of Medical Products Regulation", nan memperkuat fondasi kerja sama kedua negara dalam izin produk medis.

Kepala BPOM Taruna Ikrar datang langsung menyaksikan pengukuhan kesepakatan di Istana Negara. Kehadiran ketua BPOM menegaskan posisi strategis regulator obat dan makanan dalam diplomasi kesehatan Indonesia, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan bumi terhadap ketahanan farmasi, keamanan rantai pasok, penemuan bioteknologi, serta akses masyarakat terhadap produk kesehatan nan aman, bermutu, dan berkhasiat.

Taruna Ikrar menilai penguatan kerja sama Indonesia-India mempunyai makna strategis lantaran India merupakan salah satu kekuatan krusial bumi dalam industri farmasi, pengembangan obat, bahan baku farmasi, dan ekosistem kesehatan. Bagi Indonesia, kemitraan tersebut kudu diarahkan tidak semata-mata pada perdagangan, tetapi juga pada penguatan kapabilitas regulatori, transfer pengetahuan, peningkatan kompetensi sumber daya manusia, dan pembangunan kemandirian sektor kesehatan nasional.

"Arahan Presiden Prabowo sangat jelas, kerja sama internasional kudu menghadirkan faedah konkret bagi bangsa dan masyarakat. Dalam sektor kesehatan, kita mau membangun kerjasama nan memperkuat sistem regulasi, menjamin keamanan produk medis, meningkatkan kapabilitas nasional, dan mendukung kemandirian Indonesia di bagian farmasi serta kesehatan," kata Taruna.

Menurut Taruna, Indonesia tidak boleh hanya menjadi pasar bagi produk kesehatan global. Kemitraan strategis kudu menjadi jalan untuk memperbesar kapabilitas nasional, memperkuat industri dalam negeri, meningkatkan kualitas pengawasan, sekaligus membuka ruang lebih luas bagi riset, inovasi, dan pengembangan teknologi kesehatan.

"Indonesia kudu bergerak dari pasar menjadi bagian krusial dari ekosistem penemuan dan produksi kesehatan global. Kerja sama dengan India kudu menghasilkan nilai tambah, memperkuat ketahanan farmasi, dan pada akhirnya meningkatkan perlindungan kesehatan masyarakat," tegas Taruna.

Selain menghadiri agenda di Istana Negara, Taruna Ikrar juga mengikuti Indian Community Reception di Jakarta International Convention Center (JICC). Agenda tersebut memperlihatkan bahwa hubungan Indonesia dan India tidak hanya dibangun melalui diplomasi umum antarpemerintah, tetapi juga diperkuat oleh hubungan masyarakat, jejaring profesional, bumi usaha, pengetahuan pengetahuan, dan kedekatan budaya kedua bangsa.

Penguatan kerja sama tingkat kepala negara ini mempunyai fondasi teknis nan telah dipersiapkan BPOM. Sebelumnya, BPOM memperbarui komitmen kerja sama dengan otoritas pengawas obat India, Central Drugs Standard Control Organisation (CDSCO), pada 30 Juni 2026. Langkah tersebut menjadi kelanjutan kerjasama periode 2018-2023 sekaligus memperkuat sistem pengawasan produk medis dan hubungan bilateral Indonesia-India di sektor kesehatan.

Prosesi penandatanganan arsip dilakukan secara desk to desk oleh Kepala BPOM Taruna Ikrar dan Duta Besar Republik India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty nan mewakili pihak CDSCO dan Kementerian Kesehatan India.

Nota kesepahaman tersebut dirancang untuk memfasilitasi perbincangan konstruktif mengenai izin produk medis. Cakupannya meliputi produk farmasi, termasuk bahan baku farmasi, produk biologi, dan produk kosmetik. Kerja sama ini menjadi semakin relevan di tengah kebutuhan Indonesia memperkuat ketahanan kesehatan nasional serta memastikan rantai pasok produk medis memenuhi standar keamanan, mutu, dan khasiat.

Terdapat lima ruang lingkup utama nan menjadi konsentrasi kolaborasi. Pertama, peningkatan pemahaman terhadap sistem izin masing-masing negara, termasuk farmakope nasional dan kerangka regulatori. Kedua, pertukaran info dan praktik terbaik mengenai standar internasional, seperti good laboratory practices (GLP), good clinical practices (GCP), dan good manufacturing practices (GMP).

Ketiga, penguatan sistem keamanan obat melalui pertukaran info keselamatan, farmakovigilans, dan penanganan kejadian tidak diinginkan alias adverse events. Keempat, peningkatan partisipasi dalam forum ilmiah seperti konferensi, simposium, dan seminar. Kelima, penguatan koordinasi dan kapabilitas kedua lembaga dalam beragam forum internasional.

Kerja sama bilateral tersebut direncanakan bertindak selama lima tahun dan dilengkapi sistem perpanjangan otomatis untuk lima tahun berikutnya. Dengan kerangka jangka panjang itu, Indonesia dan India mempunyai ruang lebih besar untuk membangun kerjasama regulatori nan berkepanjangan dan adaptif terhadap perkembangan pengetahuan pengetahuan serta teknologi kesehatan.

Bagi BPOM, sinergi ini juga krusial untuk memperkuat pengawasan bahan baku farmasi, baik nan diimpor maupun diproduksi di dalam negeri. Penguatan sistem izin dan pertukaran info antarlembaga diharapkan bisa meningkatkan penemuan risiko, memperkokoh farmakovigilans, dan memastikan produk nan digunakan masyarakat memenuhi standar nan dipersyaratkan.

Pertemuan Prabowo dan Narendra Modi sekaligus menempatkan sektor kesehatan sebagai salah satu pilar krusial hubungan Indonesia-India. Di bawah penguatan diplomasi strategis kedua negara, BPOM mendorong agar kerja sama tersebut menghasilkan akibat nyata: izin nan semakin kuat, akses terhadap penemuan nan semakin baik, industri nasional nan semakin kompetitif, serta perlindungan masyarakat nan semakin kokoh.

(rah/rah)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya