ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Badan Pusat Statistik (BPS) mengingatkan pemerintah untuk tetap mewaspadai nilai beras dan minyak goreng nan tetap tinggi di tingkat konsumen. Meski laju kenaikan harganya mulai melandai, masyarakat dinilai tetap kudu membeli kedua komoditas tersebut dengan nilai nan mahal.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan, rendahnya perubahan Indeks Perkembangan Harga (IPH) bukan berfaedah nilai sudah murah. Justru, menurutnya, nilai beras dan minyak goreng saat ini relatif stabil di level nan sudah tinggi.
"Beras (dan) minyak goreng perlu mendapatkan perhatian walaupun perubahan IPH-nya relatif rendah, tetapi level harganya sudah sangat tinggi. (Level harga) ini nan sebenarnya dibayar oleh masyarakat kita, walaupun IPH-nya rendah, tetapi lantaran harganya sudah tinggi dia relatif stabil, tapi stabil pada nilai nan tinggi. Sehingga ini nan dirasakan oleh masyarakat sebagai harganya mahal," jelas Amalia dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (13/7/2026).
Ia menjelaskan, sejumlah komoditas pangan lain seperti bawang merah, cabe merah, cabe rawit, hingga daging ayam ras mulai menunjukkan tren penurunan nilai pada Juli 2026. Karena itu, konsentrasi perhatian pemerintah sekarang bergeser ke bawang putih, beras, dan minyak goreng.
"Dengan demikian nan perlu mendapatkan perhatian kita saat ini adalah bawang putih, beras dan minyak goreng," ujarnya.
Untuk minyak goreng, BPS mencatat nilai rata-rata nasional di pasar rakyat sekarang telah mencapai Rp20.224 per liter. Meski kenaikan nilai hanya terjadi di 97 kabupaten/kota alias sekitar 26,94% wilayah Indonesia, level harganya tetap dinilai tinggi.
Amalia juga menyoroti nilai Minyakita nan telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp15.700 per liter.
"Kalau kita perhatikan unik untuk Minyakita di pasar rakyat pantauan Kemendag pun juga sudah di atas HET, alias saat ini Rp16.380 per liter. Dan ada banyak kabupaten/kota, mungkin sekitar 40 kabupaten/kota nan juga mengalami kenaikan nilai Minyakita," katanya.
Tangkapan layar dari paparan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (13/7/2026). (Tangkapan layar youtube BPS) Foto: (Tangkapan layar youtube BPS)
Sementara itu, nilai beras secara nasional tercatat mencapai Rp15.499 per kilogram (kg). BPS mencatat jumlah wilayah nan mengalami kenaikan nilai beras justru bertambah dibandingkan pekan pertama Juli.
"Beras secara nasional saat ini harganya Rp15.499 per kg, dan jika kita perhatikan perkembangan jumlah kabupaten/kota nan mengalami kenaikan IPH beras, saat ini ada 128 kabupaten/kota nan mengalami kenaikan nilai beras. Ini jumlah kabupaten/kotanya lebih tinggi dibandingkan dengan minggu pertama bulan Juli," ujar Amalia.
Ia menambahkan, sebanyak 29 provinsi mengalami kenaikan nilai beras. Sementara lima provinsi mencatat nilai nan relatif stabil, ialah Kepulauan Bangka Belitung, Kepulauan Riau, Banten, Papua Selatan, dan Papua Pegunungan. Adapun penurunan nilai beras terjadi di Jawa Timur, Sumatra Barat, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat.
Di sisi lain, BPS mencatat nilai sejumlah komoditas protein hewani mulai membaik. Harga daging ayam ras saat ini berada di level Rp37.273 per kg, sedangkan telur ayam ras telah turun menjadi Rp29.200 per kg, alias sudah berada di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) konsumen.
Meski demikian, Amalia mengatakan tetap terdapat sejumlah kabupaten/kota nan mencatat nilai telur ayam ras jauh di atas HAP sehingga tetap memerlukan perhatian.
Tangkapan layar dari paparan Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), Senin (13/7/2026). (Tangkapan layar youtube BPS) Foto: (Tangkapan layar youtube BPS)
(dce)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·