Presiden Argentina Javier Milei(AFP)
PEMERINTAH Brasil memanggil Duta Besar Argentina pada Minggu, menyusul kejadian "penghinaan" nan dilontarkan Presiden Javier Milei terhadap Presiden Brasil Luiz Inacio Lula da Silva dan sejumlah pejabat tinggi negara tersebut.
Langkah ini diambil setelah Kementerian Luar Negeri Brasil terlebih dulu menarik pulang Duta Besar Brasil untuk Argentina, Julio Bitelli, ke Brasilia untuk berkonsultasi.
Ketegangan diplomatik ini dipicu pernyataan Milei saat menghadiri aktivitas politik di Sao Paulo pada Sabtu, nan meresmikan pencalonan kandidat presiden sayap kanan Flavio Bolsonaro. Dalam pidatonya, pemimpin libertarian Argentina tersebut merujuk pada Presiden Lula da Silva sebagai seorang "narapidana" dan "pencuri", meskipun tidak menyebut namanya secara eksplisit.
Selain menyasar Lula, Milei juga menyerang Hakim Mahkamah Agung Brasil Alexandre de Moraes dengan julukan "sampah botak".
"Ia [Milei] telah menghina dua bagian pemerintahan, rakyat Brasil, dan kerakyatan Brasil," ujar seorang sumber diplomatik Brasil kepada AFP.
Dalam pidatonya di Brasil, Milei juga memperingatkan ancaman apa nan dia sebut sebagai "risiko Lula" dan mendesak rakyat Brasil untuk membebaskan diri dari "penundukan oleh golongan kiri." Ia pun menuding Hakim Moraes telah menghalanginya untuk mengunjungi temannya, mantan Presiden Jair Bolsonaro, ayah dari Flavio Bolsonaro, nan dikenai tahanan rumah mengenai kasus persekongkolan kudeta pada 2022.
Menanggapi penarikan duta besar oleh Brasil, Milei justru menyampaikan tuduhan baru melalui siaran Radio Mitre Argentina pada Minggu malam. Ia menyatakan negaranya menjadi sasaran "kampanye" negatif nan didanai oleh Brasil, Meksiko, dan Partai Demokrat Amerika Serikat.
"Merekalah para pemimpin progresif nan tidak mau ide-ide kebebasan berhasil," kata Milei.
Meski demikian, Milei tidak memberikan bukti konkret mengenai tuduhan kampanye negatif maupun pendanaannya. Pernyataannya tersebut tampaknya sebagian merujuk pada kritik nan diarahkan kepada tim nasional sepak bola Argentina pascakekalahan 0-1 dari Spanyol di laga final Piala Dunia, nan diwarnai keributan di lapangan. (AFP/Z-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·