ARTICLE AD BOX
Jakarta, CNBC Indonesia - Arab memanas lagi. Iran dilaporkan melakukan serangan ke Bahrain dan Kuwait, Rabu (8/7/2026).
Hal ini terjadi usai serangan Amerika Serikat (AS) nan menghantam 80 sasaran Iran, termasuk sistem pertahanan udara, jaringan komando dan kendali, serta keahlian rudal anti-kapal. AS menyatakan ini sebagai jawaban atas serangan Teheran terhadap tiga kapal jual beli nan melintasi Selat Hormuz.
Mengutip CNA, Pasukan Garda Revolusi Iran (IRGC) mengatakan mereka menargetkan 85 situs militer AS di dua negara itu sebagai tanggapan atas "pelanggaran gencatan senjata". Serangan luar biasa itu, tambahnya, sebagai "tanggapan terhadap serangan Iran terhadap kapal-kapal nan melintasi jalur air vital tersebut dan bakal menimbulkan kerugian besar bagi pihak nan menargetkan dan menyerang kapal-kapal komersial".
Sementara itu, tentara Kuwait mengatakan pada tanggal X bahwa mereka menanggapi serangan rudal dan drone, tanpa menyebut dari mana serangan itu berasal. Sirene udara juga diaktifkan di Bahrain, mendesak penduduk untuk menuju ke tempat kondusif terdekat.
Sebelumnya, Iran dan AS melakukan gencatan senjata sejak 8 April tetapi kondisi nan rentan membikin pelanggaran terus terjadi. Pada 19 Juni, AS dan Iran menandatangani langkah dieskalasi konflik.
Dalam unggahan, Tentara AS Centcom mengatakan bahwa serangan tersebut bermaksud "untuk memberikan kerugian besar atas penargetan dan penyerangan terhadap kapal jual beli nan diawaki oleh penduduk sipil nan tidak bersalah di jalur perairan internasional". Serangan baru AS dan Iran menakut-nakuti bakal menyulut kembali bentrok di area tersebut, dan dapat memicu kekhawatiran bahwa Selat Hormuz bakal ditutup kembali, membikin minyak naik drastis serta memicu inflasi di seluruh dunia.
(sef/sef)
Addsource on Google

1 jam yang lalu
2







English (US) ·
Indonesian (ID) ·