Ilustrasi(Dok Istimewa)
RATUSAN anggota TNI dari seluruh jejeran Kodam V Brawijaya, tiba tiba menyerbu di empat Kabupaten di Madura, Bangkalan, Pamekasan, Sampang dan Sumenep. Tidak ada musuh, tidak ada perang, tapi Madura menjadi sasaran empek penyerbuan.
Masyarakat banyak bertanya, ada gerangan di madura sampai kudu diserbu sedemikian besarnya pasukan dari TNI AD. Anehnya tidak ada nan merasa takut, apalagi kudu menghindari dari kerumunan personil TNI.
Mereka justru disambut ceria saat pasukan dengan berpakaian komplit ini berada di Madura. Apalagi, mereka berbanjar dengan membawa persenjataan komplit dan peralatan militer sederhana.
Ya, inilah pemandangan saat ribuan pasukan dari TNI AD menggelar Karya Bhakti Skala Besar TNI di Wilayah Madura Tahun 2026 nan dimulai dengan upacara pembukaan Bakti TNI Angkatan Darat untuk Rakyat Tahun 2026 di Alun-alun Kabupaten Bangkalan.
Inilah pengerahan prajurit dalam skala besar selain perang nan dilakukan TNI AD di Pulau Garam ini. Mereka dibekali dengan beragam keterampilan. Mereka tidak diperintahkan perang, tapi mereka diperintahkan memperbaiki memperbaiki beragam akomodasi milik masyarakat masyarakat Madura.
Tidak hanya perbaikan fisik, tapi keberadaan prajurit TNI AD ini juga membenahi non fisik. menghadirkan beragam program sosial dan kemanusiaan, seperti operasi katarak dan bibir sumbing, khitan massal, donor darah, hormat kesehatan, hormat lingkungan, support mesin irigasi, penanaman 2.000 pohon trembesi, hingga pemberian kaki tiruan dan bangku roda bagi masyarakat nan membutuhkan.
“Ada program fisik, ada program sosial dan kemanusiaan. Semuanya dibutuhkan oleh masyarakat dan pastinya berakibat langsung bagi mereka,” kata Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin dalam sebuah kesempatan di Madura.
Diantara program itu, salah satu konsentrasi utama Karya Bhakti Skala Besar tahun 2026 adalah peningkatan kualitas kediaman masyarakat melalui Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Program ini menjadi unggulan untuk memperbaiki rumah penduduk nan rusak. Jumlahnya juga tidak sedikit. Angka nan paling jelas adalah 377 rumah tidak layak huni (RTLH) nan menjadi sasaran pembaharuan di empat kabupaten Madura.
Program ini merupakan bagian dari Karya Bhakti Skala Besar TNI AD 2026 nan berjalan di Bangkalan, Sampang, Pamekasan, dan Sumenep. Rinciannya: Bangkalan 94 unit, Sampang, 94 unit, Pamekasan 94 unit, Sumenep 95 unit TOTAL 377 unit.
"Kami tetap banyak menjumpai rumah penduduk nan tidak layak huni, dan tanggungjawab kami di TNI AD untuk memperhatikan mereka, agar mereka bisa hidup nyaman dan tenang, kami mau mereka bisa tersenyum,” kata Pangdam..
Angka 377 unit tersebut berasal dari alokasi support pembaharuan 1.700 RTLH di wilayah Kodam V/Brawijaya pada 2026, dengan 377 unit di antaranya dialokasikan untuk Pulau Madura.
Tidak hanya berakhir di rumah tidak layak huni, Karya Bhakti TNI AD di Madura ini skalanya jauh lebih besar. Selain 377 RTLH, program tersebut mencakup antara lain: 33 jembatan, 52 sumur bor, 20 sekolah, 20 rumah ibadah, 4 panti asuhan, akomodasi MCK, pelayanan kesehatan, operasi katarak, operasi bibir sumbing, khitan massal, donor darah, penghijauan bantuan bagi penyandang disabilitas.
“Karya Bhakti tersebut merupakan corak nyata Operasi Militer Selain Perang (OMSP). Intinya, TNI tidak hanya menjalankan tugas pertahanan, tetapi juga datang membantu pemerintah menyelesaikan persoalan masyarakat,” katanya.
Kehadiran TNI di Madura bukan sekadar pembangunan fisik. Program tersebut diarahkan pada kebutuhan nyata masyarakat, mulai dari rumah layak huni, jembatan, air bersih hingga pelayanan sosial.
Selama di Madura mereka kudu menanggalkan semua predikat sebagai TNI AD, mereka kudu menyatu dengan warga, berbaur saling gotong royong tanpa sekat. “Jangan membikin mereka susah, tapi buatkan mereka senang berbareng TNI,” katanya.
Warga Menemukan Kebahagian
Kebahagian sangat dirasakan oleh penduduk nan disentuh oleh ringan tangganya para prajurit TNI AD. Salah satu rumah nan sedang dibedah adalah milik Rohman, penduduk Desa Ujung Piring, Bangkalan.
Rohman nan selama ini bekerja sebagai pemulung tinggal berbareng family di gubuk bambu. Rumah barunya berukuran sekitar 6 × 6 meter, dengan tiga bilik dan ruang tamu. Sangat tidak layak untuk ditempati, namun sekarang bisa tersenyum setelah rumahnya direnovasi dari lantai, genting hingga perabotan.
Rumah Bu Maninten di Dusun Jaddih Selatan, Desa Jaddih, Kecamatan Socah juga direnovasi agar betul benar layak huni. “Saya tidak bisa bayangkan jika tidak ada TNI, rumah saya tetap tetap rusak, tapi kali ini saya bisa bahagian rumahku bagus,” katanya.
Kehadiran TNI AD di Madura mendapat reaksi positif dari Pengamat Politik Unair Hari Fitrianto. Selama ini, katanya, banyak orang beranggapan bahwa TNI AD hanya melakukan di luar madura, namun kali ini kedekatan di bangun cukup bagus agar Madura juga merasa pemerintah dalam perihal ini TNI Hadir.
Memperbaiki prasarana di madura nan dilakukan TNI AD, mengubah gambaran luar biasa bagi tentara. Selama ini merek identik dengan peperangan, tapi saat mereka menyatu dengan masyarakat paradigma itu berubah. “Mereka menganggap bahwa TNI milik seluruh warga,” katanya.
Kegiatan Karya Bhakti Skala Besar TNI AD Tahun 2026 di Pulau Madura merupakan bentuk nyata Operasi Militer Selain Perang (OMSP) nan mengedepankan sisi humanis dan pengabdian masyarakat.
Aksi gotong royong tanpa sekat ini sukses menghadirkan kebahagiaan nyata bagi masyarakat kurang bisa sekaligus memperkuat kemanunggalan TNI dengan rakyat, mematahkan stigma kaku aparat, dan menegaskan kehadiran negara di tengah kebutuhan penduduk Madura. (H-2)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·