Bukan China, Raksasa Nuklir Asia Ini Waswas Terseret Perang Timteng

4 hari yang lalu 7

Jakarta, CNBC Indonesia - Posisi Pakistan dalam perang Timur Tengah makin rumit setelah golongan Houthi di Yaman nan didukung Iran melancarkan serangan ke Arab Saudi pekan ini. Islamabad disebut frustrasi terhadap eskalasi tersebut lantaran berpotensi menyeret negara itu ke dalam konflik, sekaligus menakut-nakuti perannya sebagai mediator antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Sejumlah analis regional dan pejabat Pakistan mengatakan serangan Houthi ke Arab Saudi telah meningkatkan kekhawatiran Islamabad bahwa bentrok dapat meluas menjadi perang baru antara Riyadh dan golongan bersenjata Yaman tersebut. Kondisi ini dinilai jauh lebih berisiko dibandingkan serangan rudal Iran terhadap Arab Saudi pada awal tahun.

Pakistan, nan mempunyai senjata nuklir, sebelumnya berkedudukan membantu memediasi kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran pada bulan lalu. Di sisi lain, Islamabad juga mempunyai perjanjian pertahanan berbareng dengan Arab Saudi nan ditandatangani tahun lampau serta menempatkan ribuan tentaranya di kerajaan tersebut, termasuk satu skuadron jet tempur.

Houthi meluncurkan rudal ke Arab Saudi setelah menuduh kerajaan itu membombardir airport nan berada di bawah kendali mereka pada Senin. Serangan lintas pemisah itu mengakhiri gencatan senjata selama empat tahun, meski hingga sekarang tetap terbatas pada satu insiden.

"Pimpinan sipil dan militer tertinggi kami telah menyampaikan kepada Iran pada level tertinggi bahwa serangan terhadap Arab Saudi adalah serangan terhadap Pakistan. Itu adalah garis merah kami," kata seorang pejabat Pakistan kepada Reuters, dilansir Jumat (17/7/2026).

Pejabat tersebut, berbareng sejumlah pejabat Pakistan lainnya, berbincang dengan syarat anonim lantaran tidak berkuasa memberikan pernyataan kepada publik.

Analis keamanan Pakistan Muhammad Amir Rana mengatakan Islamabad tidak memperkirakan situasi bakal memburuk dalam waktu singkat.

"Pakistan tidak mengantisipasi bahwa ketegangan bakal meningkat begitu cepat," ujarnya.

Dua pejabat Pakistan mengatakan pasukan negara itu ditempatkan di dekat perbatasan Arab Saudi dengan Yaman. Kondisi tersebut membikin personel militer Pakistan lebih rentan andaikan bentrok meluas.

Selain itu, Islamabad juga cemas eskalasi Houthi dapat mengganggu pelayaran di Laut Merah, jalur perdagangan krusial nan digunakan Pakistan dan banyak negara lainnya.

Jika bentrok semakin meluas dan menakut-nakuti kepentingan Arab Saudi, Pakistan berpotensi kudu turun tangan secara militer berasas isi perjanjian pertahanan berbareng kedua negara.

Jenderal purnawirawan Pakistan Ghulam Mustafa mengatakan pemerintah saat ini tetap berupaya menjaga keseimbangan diplomatik.

"Pimpinan tertinggi Pakistan saat ini tetap berupaya menenangkan semua pihak nan terlibat," ujarnya.

Namun, dia mengingatkan situasi dapat berubah andaikan Houthi memperluas cakupan serangannya. "Jika Houthi memperluas radius serangan mereka di Arab Saudi."

Ketegangan terbaru juga memicu kekhawatiran baru Pakistan terhadap dinamika internal Iran.

Dua pejabat pemerintah Pakistan mengatakan Islamabad mencermati meningkatnya perbedaan pandangan antara para pemimpin politik Iran seperti Presiden Masoud Pezeshkian, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Analis pertahanan Pakistan Muhammad Ali menilai militer Iran sekarang makin dominan dalam proses pengambilan keputusan. "Militer tampaknya mendominasi proses pengambilan keputusan di Iran," katanya.

Ia menambahkan kondisi tersebut sekarang semakin dipahami oleh Islamabad. "Hal ini semakin diakui di Islamabad."

Meningkatnya ketegangan tersebut juga disebut menyebabkan kunjungan delegasi Iran ke Islamabad tertunda.

Dua pejabat Pakistan mengatakan delegasi nan dipimpin Menteri Dalam Negeri Iran Eskandar Momeni semula dijadwalkan tiba lebih awal pekan ini. Namun kunjungan nan sebelumnya tidak diumumkan kepada publik itu baru terlaksana pada Rabu, dua hari lebih lambat dari rencana.

Menurut mereka, pembicaraan kedua negara diperkirakan juga bakal mencakup perkembangan kesepakatan antara AS dan Iran.

Dalam konvensi pers Kamis, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Pakistan Tahir Andrabi kembali menegaskan posisi Islamabad nan mendorong penyelesaian secara damai. "Kami menyerukan kepada semua pihak untuk menahan diri semaksimal mungkin," kata Andrabi.

Ia menambahkan bahwa jalur diplomasi tetap menjadi pilihan utama.

(luc/luc)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya