Bukan Cuma Pintar, Baim dan Artika Sari Devi Ingin Anak Tumbuh dengan Empati

17 jam yang lalu 5
Bukan Cuma Pintar, Baim dan Artika Sari Devi Ingin Anak Tumbuh dengan Empati Pasangan selebritas Baim dan Artika Sari Devi saat menghadiri aktivitas official launch Veritas Intercultural School (VIS) di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.(MI/Nunuy Nurhayati)

Setiap orang tua tentu mau anaknya tumbuh menjadi pribadi nan cerdas. Namun, bagi pasangan selebritas Baim dan Artika Sari Devi, kepintaran akademik bukan satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan. Ada perihal nan menurut mereka jauh lebih mendasar, ialah karakter.

Baim dan Artika mau anak-anak mereka tidak hanya pandai di sekolah, tetapi juga bisa menghargai diri sendiri dan orang lain. Karena itu, nilai-nilai seperti etika dan empati menjadi bagian krusial dalam pendidikan nan mereka cari. "Kami sebagai orang tua mau anak-anak menjadi seorang nan cerdas, apalagi secara akademis. Tapi etika, empati, dan segala macam memang kami kedepankan," ujar Baim saat menghadiri aktivitas official launch Veritas Intercultural School (VIS) di Kelapa Gading, Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026 .

Baim dan Artika menyekolahkan kedua putrinya di sekolah nan mengedepankan pendidikan karakter tersebut. Menurut mereka, di tengah banyaknya sekolah nan berlomba-lomba menawarkan kelebihan akademik, pendidikan karakter tetap menjadi fondasi nan tidak boleh dilupakan. Anak perlu belajar memahami bahwa setiap orang mempunyai latar belakang, karakter, dan kebutuhan nan berbeda. Dari sanalah empati tumbuh.

Bagi mereka, pendidikan semestinya tidak berakhir pada keahlian anak menjawab soal alias mendapatkan nilai tinggi. Lebih dari itu, sekolah juga mempunyai peran dalam membantu anak memahami bumi di sekitarnya. "Kita mau anak-anak bukan hanya tumbuh menjadi orang nan cerdas, tetapi juga bisa menghargai diri sendiri dan menghargai orang lain," kata Artika.
Pendidikan karakter juga terlihat dari gimana anak belajar menghadapi masalah sehari-hari. Ketika terjadi persoalan dengan kawan alias muncul emosi tidak nyaman di sekolah, anak tidak dibiarkan menghadapi semuanya sendirian. Guru ikut membantu mencari solusi dan melakukan mediasi. 

Baim dan Artika menilai hal-hal seperti itu mungkin terlihat sederhana bagi orang dewasa. Namun, untuk anak-anak, persoalan tersebut bisa sangat memengaruhi rasa kondusif dan kenyamanan mereka dalam belajar.

Karena itu, bagi pasangan ini, sekolah nan ideal adalah tempat di mana anak tidak hanya didorong untuk berprestasi, tetapi juga diberi ruang untuk belajar menjadi manusia nan mempunyai empati. Sebab, nilai akademik mungkin bakal berubah seiring waktu. Namun, karakter dan langkah seseorang memperlakukan orang lain adalah bekal nan bakal dibawa anak sepanjang hidupnya. (X-6)

Selengkapnya