Bukan Karena Kim Jong Un, Latihan Militer AS-Korsel Tiba-Tiba Batal

59 menit yang lalu 3

Jakarta, CNBC Indonesia - Amerika Serikat (AS) membatalkan latihan pendaratan amfibi campuran dengan Korea Selatan (Korsel) nan dijadwalkan bulan depan. Keputusan ini diambil lantaran keterbatasan kesiapan pasukan AS di tengah situasi perang Iran.

Korps Marinir AS telah memberi tahu mitranya di Korsel sejak Juni bahwa jumlah pasukan nan tersedia untuk latihan tingkat bagian Ssangyong bakal terbatas. "Korps Marinir AS secara resmi memberi tahu kami mengenai keterbatasan kesiapan pasukan," kata ahli bicara Korps Marinir Korea Selatan dalam taklimat pers, Senin (24/8/2026), seperti dikutip Reuters.

Ssangyong merupakan salah satu latihan militer campuran utama AS-Korsel nan mencakup latihan pendaratan amfibi. Kedua negara disebut tetap melakukan konsultasi erat mengenai kelanjutan latihan tersebut, meski Seoul belum merinci langkah untuk mengganti kesempatan latihan nan hilang.

Juru bicara Korps Marinir Korea Selatan tidak menjelaskan secara perincian apakah latihan tersebut bakal dijadwalkan ulang. Sementara itu, Komando Pasukan AS di Korea (USFK) belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.

Pembatalan Ssangyong terjadi tak lama setelah Presiden AS Donald Trump memerintahkan pengurangan skala latihan militer campuran tahunan Ulchi Freedom Shield. Trump menyebut biaya latihan dan keengganan Seoul untuk terlibat dalam perang Iran sebagai salah satu argumen keputusan tersebut.

Trump juga menyatakan melalui platform Truth Social bahwa latihan tersebut mengirimkan "sinyal nan sama sekali tidak layak dan bermusuhan" kepada negara nan menurutnya tidak menunjukkan ancaman selama masa kepresidenannya.

Meski skala Ulchi Freedom Shield dikurangi, Korea Utara (Korut) tetap merespons dengan meluncurkan 10 rudal balistik jarak pendek pada pekan lalu. Pyongyang juga kembali mengecam latihan militer campuran AS-Korea Selatan.

Korut selama bertahun-tahun menilai latihan campuran Washington dan Seoul sebagai simulasi persiapan untuk melakukan invasi. Perkembangan terbaru ini menambah tekanan terhadap kerja sama pertahanan kedua sekutu di Semenanjung Korea ketika sumber daya militer AS juga terserap oleh bentrok di Timur Tengah.

(luc/sef) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya