Jakarta, CNBC Indonesia - Fenomena pasangan muda nan memilih menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) kian ramai belakangan ini. Pilihan itu bukan semata soal menekan biaya, melainkan juga mencerminkan perubahan langkah pandang generasi muda terhadap pernikahan. Bagi sebagian Gen Z, pesta besar tak lagi jadi prioritas. nan lebih krusial justru kehidupan setelah akad, mulai dari menata rumah tangga, membeli hunian, hingga menyiapkan bulan madu.
Penghulu di KUA Setiabudi Abdul Hamid membenarkan bahwa tren menikah di KUA memang semakin terasa, terutama setelah pandemi Covid-19. Ia menuturkan, banyak pasangan muda nan datang dan memilih nikah di KUA saja dari kalangan Gen Z, namun tidak menutup kemungkinan juga milenial hingga mereka nan menikah lagi.
"Hampir betul Gen Z sekarang banyak nan pilih nikah di KUA saja. Tapi ada juga nan milenial. Kemudian mungkin juga nan menikah lagi gitu kan, nan sudah pernah berpisah menikah lagi kebanyakan di KUA, mereka jarang untuk menggelar pesta gitu," kata Hamid kepada CNBC Indonesia.
Ia mengatakan, perubahan itu sudah mulai terasa beberapa tahun terakhir. "Setelah Covid sih mulai ramai kejadian nan menikah di KUA saja," ujarnya.
Menurut Hamid, salah satu argumen utama Gen Z memilih menikah di KUA adalah style hidup nan serba praktis. Generasi ini dinilai terbiasa dengan kemudahan teknologi dan jasa serba instan, sehingga condong tak mau repot mengurus pesta besar.
"Satu, mungkin Gen Z ini lebih suka simpel, hal-hal nan simpel. Karena memang hidupnya ini sekarang dia simpel. Seperti jika dulu itu kan serba susah, misalnya mau nelpon kita kudu pergi ke wartel ya. Terus misalnya kita mau chattingan itu kita SMS nan dulu penuh dengan kesabaran gitu kan, nan agak susah. Kalau sekarang Gen Z itu lantaran memang dilatih dari kehidupan nan serba simpel gitu, mau nge-chat, mau teleponan dan lain sebagainya gampang. Order makanan pun gampang, sehingga hal-hal itu nan memicu 'Ah pernikahan mending lebih baik simpel' gitu kan, lantaran kan intinya ijab kabul saja," jelas dia.
Selain aspek praktis, Hamid menilai pertimbangan ekonomi juga ikut berperan. Biaya pesta nan tidak mini membikin banyak pasangan muda lebih berhitung. Dana nan semula bisa lenyap dalam satu hari resepsi sekarang lebih dipilih untuk kebutuhan setelah menikah.
Sepasang calon pengantin Azril 24 tahun dan Julia 23 tahun menjalani prosesi janji nikah di KUA Tebet, Jakarta, Jumat, (17/7/2026). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki) Foto: (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)
"Yang kedua, mungkin dari ekonomi juga ya, kan ekonomi sekarang kayaknya memang agak susah. Jadi memilih untuk di KUA menghemat ekonomi gitu. Untuk mungkin ke depannya setelah menikah. Betul mereka lebih memilih prospek uangnya digunakan untuk setelah nikah, seperti mungkin honeymoon-nya alias membangun upaya nan baru, alias rumah membeli properti nan lain," tutur Hamid.
Sementara itu, Kepala KUA Tebet Nasrulloh mengungkapkan makin banyak pasangan muda nan menikah di KUA khususnya di tahun ini.
"Khusus untuk KUA Tebet biasanya dari persentase 20% nikah di KUA, 80% nikah di Luar KUA. Nah di tahun 2026 ini naik 40% nikah di KUA, 60% nikah di Luar, kebanyakan iya nan nikah dari kalangan Gen Z meski ada beberapa di luar itu," beber dia.
Menurut Nasrulloh ada aspek utama nan membikin masyarakat sekarang lebih memilih menikah di KUA dibandingkan di gedung alias rumah.
"Kalau itu saya kurang tahu, tapi 1-2 pengantin bilang kita lebih duit ditabung masa depan daripada dihambur di aktivitas pesta," ujarnya.
Cerita serupa datang dari Seruni Cantika, salah satu Gen Z nan memutuskan menikah di KUA. Bagi dia, keputusan itu diambil bukan lantaran tak punya biaya, melainkan lantaran merasa duit pernikahan lebih baik disimpan untuk kehidupan rumah tangga setelah akad.
"Alasan utamanya simpel, dan mungkin banyak ya nan sudah berpikiran sama kayak saya: mending uangnya dipakai untuk kehidupan setelah pernikahan. Karena pernikahan itu bukan suatu akhir, tapi awal dari perjalanan," ujar Seruni.
Keputusan itu juga dipengaruhi pengalaman orang terdekatnya. Ia mengaku sempat memandang sepupunya memaksakan pesta mewah sampai orang tua kudu terlilit utang. Pengalaman itu membuatnya mantap tak mau menggelar resepsi besar.
"Mulanya saya berpikiran untuk menikah di KUA saja itu lantaran saya memandang sepupu saya nan bela-belain gelar pesta mewah tapi orang tuanya kudu terlilit utang. Amit-amit saya, pas tahu itu saya langsung komitmen, nggak deh bikin pesta jika hanya bikin pusing sama utang. In this economy ya," kata dia.
Bukan hanya soal biaya, Seruni juga mengaku tak mau direpotkan oleh panjangnya daftar persiapan pesta. Menurut dia, meski tabungan sebenarnya cukup, kerumitan mengurus vendor dan perincian aktivitas membuatnya semakin percaya memilih janji sederhana di KUA.
"Lagipula, meski tabungan sudah kondusif ya, maksudnya kita sudah ada pegangan dan itungan untuk gelar pesta, saya dengar dari teman-teman saya sebelumnya itu, pusing juga mereka ngurusin tetek-bengek persiapan pestanya. Buat saya nan memang nggak mau ribet, udahlah mending KUA saja," ucapnya.
Pilihan menikah di KUA pun tak lantas menghilangkan unsur perayaan. Seruni tetap menyiapkan momen spesial dengan caranya sendiri. Ia menyewa ahli foto untuk mendokumentasikan akad, memakai jasa makeup artist, dan menggelar makan berbareng family inti di restoran.
"Untungnya pasangan saya juga sependapat. Akhirnya saya pilih sewa ahli foto nan mau diajak ke KUA, terus saya sudah makeup rapih ya, jadi selesai janji di balai nikah, saya langsung foto-foto dengan ahli foto nan disewa itu. Bagaimanapun kita tetap butuh dokumentasi," ujar dia.
Dengan konsep sederhana itu, total biaya nan dikeluarkan jauh lebih irit dibanding resepsi pada umumnya.
"Kayaknya waktu itu sekitar Rp6 juta alias Rp7 juta, soalnya rumah makan sundaan saja sih, nan per pax nya nggak sampai Rp200 ribu. Dan KUA nya gratis, paling saya bayar tukang rias, sewa baju dan ahli foto saja. Hemat banget pokoknya," ungkap Seruni.
Pasangan Gen Z lainnya Ade berbareng Intan juga mengatakan perihal nan sama. Pasangan Gen Z nan menikah di KUA Tanjung Priok ini mengungkapkan pilih nikah di KUA lantaran simpel dan tak menghamburkan banyak uang. Mereka berdua sepakat duit mahar pernikahan bakal disimpan untuk kebutuhan di kemudian hari.
"Kami sepakat nikah di KUA dan gelar syukuran kecil-kecilan dengan family di rumah," ucap Ade.
"Makan ala kadarnya. Uang lebihnya disimpan buat kebutuhan masa depan. Masih mikir buat kelak kebutuhan anak, duit kontrakan dan lain-lain," timpal Intan.
Ade dan Intan menghilangkan kata pamor dan omongan tetangga soal tak gelar pesta pada pernikahannya.
"Omongan tetangga biasanya muncul kayak kok gak ada undangan pernikahan, jangan-jangan apa nih. Ya cuekin aja," bebernya.
Bukan hanya Seruni, Ade, dan Intan, banyak utas di sosial media Thread mengungkapkan kalangan Gen Z pilih nikah di KUA. Alasannya beragam mulai dari simpel hingga efisiensi biaya. Mereka memilih untuk tak menggelar pesta dan mulai menghilangkan gengsi.
Nikah di KUA Gratis
Pilihan Gen Z untuk menikah di KUA juga tak lepas dari patokan biaya nan memang jauh lebih ringan. Hamid menjelaskan, menikah di KUA pada hari kerja dan jam kerja tidak dipungut biaya sama sekali. Fasilitas nan disediakan pun cukup untuk akad, mulai dari balai nikah, meja, hingga bangku untuk tamu.
"Tidak ada dipungut biaya jika di hari dan jam kerja, itu tidak ada biaya. Sewa tempat pun nggak ada gitu. Jadi full gratis," ujar Hamid.
Meski demikian, pasangan tetap kudu mendaftar lebih dulu. "Oh jika pendaftaran kan kita 10 hari kerja, jadi H-10 sebelum janji itu calon manten sudah berikan berkas. Ya jika lewat dari itu menyiapkan surat lagi, pengecualian dari kelurahan alias surat pernyataan kenapa melangsungkan pernikahan di bawah 10 hari gitu," katanya.
(wur/wur)
Addsource on Google

22 jam yang lalu
3







English (US) ·
Indonesian (ID) ·