Anak-anak bermain sepakbola di Anak Sungai Citarum nan mengering di Kampung Sukarame, Desa Cileunyi Kulon, Kecamatan Rancaekek, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Senin (13/7/2026).(ANTARA/RAISAN AL FARISI)
UNTUK mengantisipasi akibat musim kemarau panjang nan diperkirakan berjalan hingga November 2026, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung bergerak lebih awal dengan melakukan beragam langkah mitigasi, mulai dari distribusi air bersih, pemasangan toren air di wilayah rawan kekeringan, hingga penyediaan pompa air untuk menjaga produktivitas lahan pertanian.
Berdasarkan pemetaan, sebanyak 27 dari 31 kecamatan di Kabupaten Bandung telah masuk dalam status siaga darurat kekeringan. Kondisi tersebut mendorong Pemkab Bandung memperkuat langkah antisipasi agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi dan sektor pertanian tidak terdampak.
Bupati Bandung, Dadang Supriatna nan menerangkan persiapan menghadapi tandus telah dilakukan sejak dua bulan lampau setelah adanya prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengenai potensi tandus nan lebih panjang dan kering.
"Dari 31 kecamatan, nan terdampak siaga darurat kekeringan ada 27 kecamatan. Dua bulan lampau kami sudah melaksanakan rapat koordinasi dengan seluruh lembaga terkait, termasuk PDAM, untuk mempersiapkan langkah-langkah menghadapi kekeringan berkepanjangan," ungkap nya kemarin.
Bupati menyebut, petunjuk pertama diberikan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung untuk memperkuat mitigasi dengan memetakan seluruh titik rawan kekeringan. Pemetaan tersebut menjadi dasar percepatan pengedaran support air bersih andaikan masyarakat mulai mengalami kesulitan memperoleh air.
Selain itu, Perumda Air Minum Tirta Raharja juga diminta menyiapkan toren alias tangki air di setiap kecamatan, khususnya di wilayah nan berdekatan dengan titik rawan kekeringan.
"PDAM bakal memasang toren di masing-masing kecamatan alias di wilayah nan mendekati titik lokus. Ini langkah nan kami lakukan agar kebutuhan air masyarakat tetap terpenuhi," tandasnya.
Di sektor pertanian, Dadang menerangkan Pemkab Bandung berupaya mencegah tandus panjang memicu kandas panen. Untuk itu, sebanyak 547 wilayah irigasi telah diusulkan kepada pemerintah pusat untuk mendapatkan penanganan, dengan 117 titik menjadi prioritas. Sebagian besar wilayah irigasi prioritas tersebut berada di sekitar aliran Sungai Citarum sehingga memungkinkan dilakukan pemompaan air untuk memenuhi kebutuhan irigasi sawah.
"Jangan sampai terjadi kandas panen. Dinas Pertanian kami sorong menyediakan pompa agar sawah nan bakal tanam maupun nan bakal panen tidak kehabisan air," tuturnya.
Menurut Dadang, Pemkab Bandung juga menyiapkan skema pemanfaatan air Sungai Citarum sebagai sumber irigasi pengganti guna menjaga ketahanan pangan selama musim kemarau. Langkah ini diharapkan bisa mempertahankan produktivitas pertanian meski curah hujan terus menurun.
Berdasarkan info BMKG, sekitar 51 persen wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah normal pada Juni 2026. Kondisi tersebut diperkirakan bersambung hingga November, dengan sekitar 64 persen wilayah Indonesia tetap berpotensi mengalami curah hujan di bawah normal.
Di Kabupaten Bandung, dampaknya diperkirakan cukup signifikan. Salah satunya di wilayah Cileunyi nan diprediksi belum memenuhi kriteria musim hujan hingga Oktober dan baru berpotensi memasuki musim hujan pada November 2026.
Menghadapi kondisi tersebut, bupati membujuk masyarakat untuk menggunakan air secara bijak dan menghindari pemborosan. Menurutnya, keterlibatan seluruh komponen masyarakat menjadi kunci dalam mengurangi akibat kekeringan nan diprediksi lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
"Manfaatkan air sebaik mungkin. Jangan sampai menghambur-hamburkan air sehingga kebutuhan pokok masyarakat untuk air minum bisa terganggu," ucapnya. (H-2)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·