Jakarta, CNBC Indonesia - Institute for Development of economics and Finance (Indef) menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 lebih rentan dibandingkan kuartal I-2026 alias kuartal II-2025.
Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2026 mencapai 5,29 persen alias melambat dari kuartal I-2026 sebesar 5,61 persen dan lebih sigap dari kuartal nan sama tahun lampau di 4,97%.
Namun, meskipun pertumbuhan ekonomi pada tahun ini lebih sigap dari pertumbuhan tahun sebelumnya, Direktur Pengembangan Big Data Indef Eko Listiyanto mengatakan bahwa kualitas pertumbuhan ekonomi lebih rendah.
"Kualitas pertumbuhan nan mencemaskan. Sungguh pun pertumbuhan ekonomi secara tahunan bisa mencapai 5,29 persen dan tetap di atas 5 persen, namun saya memandang dari sisi kualitas itu sebetulnya bisa saya katakan lebih jelek dibandingkan periode nan sama di tahun lalu," ujar Eko dalam obrolan publik Indef secara daring pada, Kamis (6/8/2026).
Ada beberapa perihal nan menjadi argumen Eko menyebut ekonomi Indonesia rapuh, ialah konsumsi murni nan belum solid, nilai ekspor bersih menurun, penyerapan tenaga kerja, dan kemiskinan.
Eko menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal kedua 2026 didorong oleh beragam kebijakan insentif pemerintah, sehingga mengungkit konsumsi. Namun, pertumbuhan konsumsi tersebut secara natural kata Eko belum solid.
"Pertumbuhan konsumsi ya baik itu pemerintah ya ataupun rumah tangga ya memang ini sebetulnya sangat berjuntai dari stimulus fiskal pemerintah," ujar Eko.
"Nah kita bisa membayangkan jika seandainya misalkan ya intervensi fiskal itu kita hilangkan begitu maka sebetulnya nan terjadi daya beli murni masyarakat itu sedang tertekan begitu. Ini terlihat dari konsumsi jika kita bandingkan ya di triwulan pertama tadi 5,52 triwulan kedua langsung turun ke 5,06," sambungnya.
Selanjutnya, eko juga memandang bahwa pada pertumbuhan ekonomi pada kuartal kedua 2026 ini, Indonesia kehilangan alas eksternal lantaran anjloknya nilai ekspor.
Pada kuartal kedua, dari sisi pengeluaran komponen ekspor bersih mengalami minus 0,78, lebih besar dari kuartal dua 2025 0,02 persen sehingga kata Eko menjadi penggerus.
Sebagai catatan, pada triwulan dua 2025, ekspor tetap tumbuh double digit sebesar 10,67 persen yoy. Pertumbuhan impor 11,65 persen bisa diimbangi sehingga net ekspor hanya mengurangi sumber pertumbuhan sebesar 0,02 persen.
"Ini gambaran sungguh kita sudah mulai kehilangan ya competitiveness di ini dunia gitu ya terutama dari hasil jualan export kita," lanjut Eko.
Ada anomali nan dilihat Eko dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal kedua 2026, ialah pertumbuhan industri nan meningkat namun penyerapan tenaga kerja nan turum.
Eko menunjukkan bahwa sektor perdagangan misalnya nan bisa tumbuh 6,39 persen pada kuartal dua 2026 dibandingkan dengan kuartal nan sama tahun lalu.
Di sisi lain, nomor penyerapan tenaga kerja di sektor perdagangan besar dan satuan mengalami penurunan 128.000 orang pada periode Februari 2026 hingga Mei 2026.
"Itu problem utamanya dimana nih ya jangan-jangan apakah ini tergerus oleh online ya alias perdagangan besar saja ini nan sebenarnya tumbuh ya nan kecil-kecil enggak gitu ya," kata Eko.
"Satu aspek nan lain terus kemudian ini kualitas nan lain jika tadi kita bicara adalah ada sektor perdagangan nan anomali ya tumbuh tapi penyerapan tenaga kerjanya berkurang."
Eko juga menyoroti soal kemiskinan, terutama di desa nan terlihat semakin memburuk. Dirinya mengatakan bahwa harusnya perihal ini menjadi perhatian serius oleh pemerintah.
"masalah kemiskinan kita tapi problemnya adalah jika kita lihat di desa itu kualitas kemiskinannya alias kualitas miskin desa itu turun. Jadi lebih parah gitu ya dari sisi kedalaman indeksnya, indeks kemiskinan juga di desa itu meningkat, kemudian juga dari sisi keparahannya itu juga memburuk," terang Eko.
Eko menilai situasi kemiskinan di desa nan kualitasnya disebut semakin parah lantaran keterbatasan wilayah dari sisi keuangan.
"Desa itu sebagian besar di wilayah gitu ya daerahnya sekarang enggak bisa ngapa-ngapain lantaran anggaran APBD-nya itu sangat terbatas ya hari ini itu nah ini tentu bakal menjadi gejolak ya artinya kualitas dari kehidupan masyarakat pedesaannya bakal memburuk," ujarnya.
Maka dari itu, Eko menilai bahwa masalah-masalah tersebut perlu perhatian nan lebih dari pemerintah.
(arj/arj)
[Gambas:Video CNBC]

1 jam yang lalu
4








English (US) ·
Indonesian (ID) ·