Ilustrasi(Dok. Istimewa)
DINAS Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon Jawa Barat melakukan langkah preventif guna mencegah kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Kopiluhur, Kelurahan Argasunya, Kecamatan Harjamukti, selama musim kemarau. Upaya utama nan dilakukan adalah pemasangan sistem ventilasi udara untuk mengurangi akumulasi gas metana di dalam gunungan sampah.
Kepala DLH Kota Cirebon, Fina Amalia Purwantini, menjelaskan bahwa gas metana merupakan pemicu utama kebakaran di TPA akibat proses pembusukan sampah organik dalam kondisi suhu panas dan minim oksigen. "Gas metana dapat terbakar hanya lantaran percikan api kecil. Melalui ventilasi ini, gas bakal keluar berjenjang sehingga konsentrasinya berkurang," ujar Fina, Senin (10/8).
Sistem ventilasi tersebut melibatkan penanaman dua pipa berdiameter besar hingga kedalaman 28 meter di area gunungan sampah. Langkah ini diambil berasas pertimbangan kasus kebakaran di beragam wilayah nan menunjukkan bahwa penumpukan gas metana di bawah permukaan sampah menjadi aspek akibat tertinggi.
Selain ventilasi, DLH juga menyiagakan material pasir di sejumlah titik strategis area TPA. Pasir dipilih sebagai media pemadaman utama untuk menggantikan air. Menurut Fina, penggunaan air pada kebakaran TPA justru berisiko memperbesar kobaran api akibat reaksi kimia tertentu di dalam timbunan sampah.
"Kami sudah siagakan pasir di beberapa titik. Jadi saat ada kepulan asap, langsung diurug dengan pasir agar tidak membesar," tambahnya. Personel juga disiagakan untuk melakukan patroli selama 24 jam guna mendeteksi awal titik panas maupun aktivitas manusia nan berpotensi memicu api.
Langkah antisipasi ketat ini merupakan respons atas kejadian besar pada 9 September 2023 lalu, di mana kebakaran seluas tiga hektare di TPA Kopiluhur menyebabkan asap tebal masuk ke permukiman. Saat itu, sebagian dari 1.500 KK penduduk sekitar terpaksa mengungsi akibat gangguan pernapasan dari asap kebakaran sampah tersebut. (UL/I-`)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·