TPA Burangkeng di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat.(Dok. Pemkab Bekasi)
UNIT Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Burangkeng memperkuat langkah antisipasi kebakaran selama musim kemarau dengan meningkatkan patroli siang dan malam.
Caranya dengan menyiapkan sarana pemadaman serta memperketat upaya pencegahan di area TPA sampah seluas sekitar 14 hektare di Desa Burangkeng, Kecamatan Setu, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat itu.
Kepala UPTD TPA Burangkeng, Samsuro Mandiansyah, mengatakan, penguatan sistem pengawasan dilakukan sebagai langkah preventif menyusul terjadinya kebakaran di sejumlah TPA di beragam wilayah Indonesia.
"Kami sudah mendapat sirine dari beberapa TPA di Indonesia nan mengalami kebakaran, seperti di Tangerang dan Depok. Dari situ kami melakukan beragam upaya untuk meminimalisir potensi kebakaran di TPA Burangkeng," ujar Samsuro dalam keterangannya, Rabu (22/7).
Ia menjelaskan, patroli rutin dilakukan untuk memantau titik-titik nan dinilai rawan munculnya percikan api. Selain itu, pihaknya juga mengedepankan edukasi kepada seluruh pihak nan beraktivitas di lingkungan TPA agar turut menjaga keselamatan kawasan.
"Yang pertama kami lakukan adalah sosialisasi kepada para pemulung dan masyarakat sekitar. Kami juga memasang banner larangan merokok, larangan membakar sampah sembarangan, serta imbauan agar segera melapor andaikan memandang adanya percikan api," katanya.
Menurut Samsuro, sistem pengawasan dijalankan secara bergantian selama 24 jam. Pada siang hari sebanyak tujuh personel ditugaskan melakukan pemantauan setiap satu jam sekali ke sejumlah titik rawan, sedangkan pada malam hari jumlah personel nan disiagakan juga sebanyak tujuh orang.
"Ada pergantian sif sehingga pemantauan berjalan terus menerus. Petugas secara berkala berkeliling ke titik-titik nan berpotensi menimbulkan kebakaran," ungkapnya.
Koordinasi dengan Damkar
Untuk mempercepat penanganan andaikan terjadi keadaan darurat, UPTD TPA Burangkeng juga telah menyiapkan dua unit mobil truk tangki air, dua pompa portabel, serta berkoordinasi dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan setempat.
"Dua mobil truk tangki sudah kami siapkan. Jadi ketika ada percikan api, kendaraan tersebut langsung bergerak menuju letak agar api bisa segera dikendalikan," jelas Samsuro.
Ia menambahkan, skenario penanganan darurat juga melibatkan perangkat berat berupa ekskavator nan selalu disiagakan di lokasi. Alat itu berfaedah membantu membuka akses sekaligus menutup titik api menggunakan material timbunan agar penyebaran kebakaran dapat diminimalkan.
"Langkah pertama ketika terjadi kebakaran adalah mengerahkan dua truk tangki air dan ekskavator nan sudah standby. Kami juga langsung berkoordinasi dengan Damkar sehingga penanganan bisa dilakukan secara sigap dan terukur," tuturnya.
Penataan area pembuangan
Selain pengawasan dan kesiapsiagaan personel, pengelola TPA juga terus melakukan penataan area pembuangan melalui sistem sanitary landfill dan pembuatan terasering. Penataan bermaksud mengurangi akibat munculnya titik panas nan berpotensi memicu kebakaran, terutama pada musim kemarau.
"Kami menata zona-zona sampah dengan baik melalui sistem sanitary dan membikin terasering. Sampah nan tetap lembap kami tempatkan di bagian atas sebagai salah satu upaya mengantisipasi kebakaran. Musim tandus sekarang memang cukup ekstrem sehingga kewaspadaan kudu terus ditingkatkan," kata Samsuro.
Ia juga membujuk masyarakat sekitar, para pemulung, maupun seluruh pihak nan beraktivitas di area TPA Burangkeng untuk bersama-sama menjaga keamanan lingkungan dengan mematuhi seluruh patokan nan telah diterapkan.
"Harapan kami kepada masyarakat sekitar, para pemulung, dan seluruh pihak nan beraktivitas di TPA agar selalu menaati peraturan nan telah kami sampaikan, khususnya nan berangkaian dengan pencegahan kebakaran. Dengan kerja sama semua pihak, kita dapat menjaga TPA Burangkeng tetap kondusif selama musim kemarau," pungkasnya. (Z-10)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·