Cerita di Balik Anjloknya Saham IBM Terburuk dalam Sejarahnya

4 hari yang lalu 10
Cerita di Balik Anjloknya Saham IBM Terburuk dalam Sejarahnya Ilustrasi.(Magnific)

DEWAN direksi International Business Machines (IBM) tengah menghadapi realita pahit setelah hasil keahlian kuartal kedua perusahaan dilaporkan jauh di bawah ekspektasi. Revolusi kecerdasan buatan (AI) nan diharapkan menjadi motor pertumbuhan justru memberikan tekanan lebih sigap dari nan diperkirakan, memaksa raksasa teknologi ini mengambil keputusan sulit.

Setelah melalui perdebatan internal mengenai langkah penyampaian buletin jelek ini kepada publik, CEO IBM Arvind Krishna akhirnya memilih jalur transparansi. Dalam surat kepada penanammodal nan diterbitkan Selasa (14/7) pagi waktu setempat, Krishna mengakui kegagalan tersebut.

"Kuartal ini kami goyah," tulisnya. Pengakuan ini memicu kepanikan pasar nan menyebabkan saham IBM anjlok hingga 25%, menandai hari terburuk dalam sejarah perusahaan nan telah berdiri lebih dari satu abad tersebut.

Terjepit di Tengah Demam AI

IBM, nan dikenal melalui sejarah panjangnya mulai dari membantu misi pendaratan manusia di bulan hingga menciptakan superkomputer Jeopardy!, sekarang kudu berhadapan dengan realitas keras dari booming AI. Meskipun IBM aktif membantu pengguna beradaptasi dengan era AI, perusahaan itu sendiri tampak tidak siap menghadapi kecepatan disrupsi teknologi tersebut.

Berbeda dengan penyedia prasarana AI seperti Nvidia alias raksasa cloud seperti Google dan Oracle nan menyewakan kapabilitas komputasi, model upaya IBM sangat berjuntai pada penjualan sistem perangkat keras dan lunak nan dipasang langsung di letak pelanggan. Saat ini, banyak pengguna korporat nan mulai mengalihkan anggaran mereka dari pembaruan perangkat keras tradisional menuju prasarana AI dan keamanan siber.

Daniel Morgan, manajer portofolio di Synovus Trust, menyebut bahwa pengguna sekarang memperlakukan pengeluaran untuk IBM sebagai pengeluaran diskresioner. "Beberapa mungkin berpikir untuk menunda pembaruan mainframe baru selama beberapa kuartal lantaran konsentrasi pada pembangunan AI," ujarnya.

Kepemimpinan Arvind Krishna dalam Ujian

Arvind Krishna, nan menjabat sebagai CEO sejak 2020, sekarang berada di bawah tekanan besar untuk segera memperbaiki keadaan. Don Bilson dari Gordon Haskett mencatat bahwa Krishna kudu bertindak sigap agar tidak dicap sebagai penyelenggara nan bertanggung jawab atas tindakan jual berhistoris ini.

Di bawah kepemimpinan Krishna, IBM sebenarnya melakukan transformasi strategis nan signifikan, termasuk akuisisi Red Hat senilai US$34 miliar dan pemisahan upaya Kyndryl. Namun, penurunan kapitalisasi pasar hingga di bawah US$200 miliar membikin IBM sekarang terlihat mini dibandingkan pesaing seperti Broadcom alias AMD.

Konteks Pasar: Ketakutan bahwa perangkat AI dari perusahaan seperti OpenAI bakal menggantikan perangkat lunak tradisional mengguncang saham perusahaan teknologi lain seperti Salesforce dan Workday. Namun, kasus IBM menunjukkan bahwa investasi prasarana AI juga mulai menggerus shopping perangkat keras.

Masa Depan Big Blue

Meskipun pasar bereaksi negatif, beberapa pihak menilai reaksi tersebut berlebihan. Debanjan Saha, CEO DataRobot dan mantan petinggi IBM, menyatakan bahwa balasan pasar tidak sebanding dengan kesalahan nan terjadi. Ia menekankan bahwa IBM mempunyai sejarah panjang dalam memenangkan beragam transisi teknologi, mulai dari era PC hingga internet.

Namun, Wall Street tampaknya mulai tidak sabar. Muncul obrolan mengenai kemungkinan masuknya penanammodal aktivis alias dorongan untuk memecah perusahaan jika keahlian tidak membaik dalam dua alias tiga kuartal mendatang. Dewan dewan IBM dijadwalkan bakal berjumpa kembali pada akhir Juli untuk memantau perkembangan tim kepemimpinan Krishna dalam menghadapi krisis ini.

Wakil Ketua IBM, Gary Cohn, memberikan pembelaan dengan menyatakan bahwa perubahan anggaran teknologi korporat mungkin hanya berkarakter sementara. Menurutnya, perusahaan-perusahaan mulai mempertanyakan pengembalian investasi (ROI) dari shopping AI nan masif dan mungkin bakal kembali berinvestasi pada prasarana perusahaan nan sudah terbukti. (Wall Street Journal/I-2)

Selengkapnya