China Siaga di Hadapan AS-Eropa, Muncul "Garis Merah" Ekonomi

57 menit yang lalu 2

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintah China secara garang mempertahankan kebijakan ekonominya nan lebih memprioritaskan support pada industri tingkat tinggi daripada memacu konsumsi domestik. Sikap percaya diri Beijing ini ditunjukkan menjelang negosiasi perdagangan krusial berbareng Amerika Serikat (AS) dan Uni Eropa (UE).

Mengutip laporan Reuters, Senin (3/8/2026), Presiden Xi Jinping dijadwalkan menggelar beberapa pertemuan tatap muka dengan Presiden AS Donald Trump tahun ini. Di sisi lain, Uni Eropa menetapkan tenggat waktu hingga Oktober bagi Beijing untuk menyelesaikan perselisihan mengenai surplus perdagangan China nan telah menembus US$1 triliun (Rp18.000 ribu triliun).

Negara-negara Barat menilai model ekonomi China berkarakter merkantilistik dan bertentangan dengan patokan perdagangan global. Prioritas Beijing pada sektor manufaktur daripada shopping rumah tangga dinilai membanjiri pasar dunia dengan produk murah, nan pada akhirnya menggerus industri lokal di negara-negara mitra dagangnya.

Tekanan Amerika Serikat melalui tarif impor di atas 100% sebelumnya sempat tertahan setelah China memanfaatkan posisi dominannya pada rantai pasok logam tanah jarang (rare earths). Sementara itu, Uni Eropa nan mencatatkan defisit perdagangan harian mencapai US$ 1,00 miliar mulai menerapkan kebijakan industri dan pengadaan domestik untuk melindungi pasarnya.

Kanselir Jerman Friedrich Merz apalagi secara terbuka mengkritik Beijing lantaran dinilai sengaja menjaga nilai tukar mata uangnya tetap rendah. Kendati demikian, laporan dari OECD dan Bank of Italy menunjukkan bahwa sekitar 75% pertumbuhan ekspor China dan penguasaan pangsa pasarnya sangat didorong oleh subsidi pemerintah serta kelemahan konsumsi domestik.

Kendati mendapat kritik, rapat jejeran tertinggi Partai Komunis China mengonfirmasi keberlanjutan arah kebijakan tersebut. Beijing memilih memberikan support terarah pada industri daripada menggelontorkan stimulus berorientasi konsumen.

Kementerian Perdagangan China apalagi menolak keras tuduhan kelebihan kapabilitas industri nan dilayangkan Barat melalui arsip posisi resminya. Pihak kementerian menilai narasi kelebihan kapabilitas tersebut mempunyai abnormal logika dan didasari oleh motif-motif tersembunyi.

Jurnal teoretis utama Partai Komunis, Qiushi, turut memihak tingkat konsumsi domestik China nan rendah sebagai hasil nan dapat dibenarkan secara historis dari model pembangunan berbasis investasi. Namun, jurnal tersebut juga mengakui bahwa pembenaran historis bukan berfaedah pembenaran jangka panjang, sehingga penyesuaian model ekonomi tetap diperlukan secara bertahap.

Senior Economist Economist Intelligence Unit, Xu Tianchen, menilai sinyal tegas Beijing ini bermaksud agar negara lain memahami latar belakang kebijakan internalnya sekaligus mematok "garis merah".

"China memperjelas bahwa mereka tidak bakal menerima tindakan alias patokan diskriminatif nan menyasar perusahaan maupun produk ekspornya," tuturnya.

Pemerintah China menegaskan bahwa produk ekspor mereka tidak hanya lebih murah, tetapi juga mempunyai kualitas nan kian meningkat berkah investasi teknologi. Perdana Menteri Li Qiang merespons peringatan Barat mengenai skenario China shock 2.0-di mana manufaktur canggih China menggeser pesaing Barat-dengan menggambarkan kejadian ini sebagai China opportunity 2.0 bagi ekonomi global.

"Argumentasi China sekarang disampaikan lebih sering dan umum lantaran bukti masalah ekonomi domestik sistemik nan berakibat pada seluruh bumi meningkat makin cepat," ujar Co-Founder Rhodium Group, Daniel Rosen.

(tps/tps) [Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya