Daftar 20 Ulama yang tidak Menikah demi Ilmu

1 jam yang lalu 2
ARTICLE AD BOX
Daftar 20 Ulama nan tidak Menikah demi Ilmu Ilustrasi.(Magnific)

DALAM tradisi intelektual Islam, pernikahan dipandang sebagai sunah nan sangat dianjurkan. Namun, sejarah mencatat ada sekelompok ustadz besar nan memilih untuk tidak menikah (melajang) hingga akhir kehidupan mereka. Keputusan ini bukan didasari oleh kebencian terhadap pernikahan, melainkan lantaran dedikasi nan luar biasa tinggi terhadap pengetahuan pengetahuan, pencarian hadis, dan pengabdian kepada umat.

Fenomena ini didokumentasikan dengan sangat apik oleh Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah dalam kitabnya nan masyhur, Al-Ulama al-Uzzab Alladzina Atsaru al-Ilma 'ala al-Zawaj (Para Ulama Lajang nan Lebih Memilih Ilmu daripada Menikah). Berikut daftar para ustadz nan mendedikasikan seluruh hidupnya untuk tinta dan kertas demi kemaslahatan agama.

Daftar Ulama nan Memilih Ilmu di Atas Pernikahan

Berdasarkan catatan sejarah dan referensi dari kitab Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah, berikut adalah profil singkat para ustadz tersebut:

  1. Abdullah bin Abi Najih al-Maki: Seorang tokoh dari kalangan tabi'ut tabi'in nan dikenal lantaran kedalaman ilmunya.
  2. Yunus bin Habib al-Bashri (90-182 H): Pakar sastra dan tata bahasa Arab (Adib an-Nahwiyi) nan menjadi rujukan di masanya.
  3. Husain bin Ali al-Ju'fiy (119-203 H): Ulama nan dikenal lantaran kezuhudannya dan penguasaan sabda nan mumpuni.
  4. Bisyr al-Hafi (150-227 H): Nama lengkapnya Abu Nasyr, Bisyr bin al-Harits al-Marwazi. Beliau adalah seorang zahid, mahir ibadah, muhaddits, sekaligus faqih nan sangat dihormati.
  5. Hannad bin as-Sariy (152-243 H): Ulama besar nan dikenal melalui karya-karyanya di bagian zuhud dan hadis.
  6. Imam Muhammad bin Jarir ath-Thobary (224-310 H): Sang Bapak Tafsir dan sejarawan besar. Penulis Tafsir ath-Thobari ini menghabiskan waktunya untuk menulis puluhan ribu lembar karya ilmiah.
  7. Abu Bakr bin al-Anbaari (271-328 H): Pakar bahasa dan sastra nan sangat produktif dalam menulis kitab.
  8. Abu Ali al-Farisi (288-377 H): Ulama terkemuka dalam bagian tata bahasa Arab (Nahwu).
  9. Abu Nashr as-Sajzi: Imam dalam bagian sabda nan dikenal dengan keteguhannya menjaga sunnah.
  10. Abu Sa'd as-Samaan ar-Rozi (371-445 H): Seorang hafizh, faqih, dan zahid nan mengabdikan hidupnya untuk ilmu.
  11. Abul Barokat Abdul Wahab al-Baghdadi (462-538 H): Dikenal sebagai Al-Hafizh al-Anmathi, seorang ustadz sabda terpandang di Baghdad.
  12. Imam az-Zamakhsyari (487-538 H): Penulis tafsir Al-Kasysyaf nan sangat fenomenal dalam kajian balaghah Al-Qur'an.
  13. Abu Muhammad bin al-Khosysyab (492-567 H): Ulama mufassir, muhaddits, dan mahir bahasa dari kalangan Hanbali.
  14. Ibn Maniy / Nashihuddin al-Hanbali (501-583 H): Tokoh faqih nan sangat disegani dalam ajaran Hanbali.
  15. Jamaluddin al-Qifthi (567-646 H): Seorang wazir sekaligus sejarawan nan sangat mencintai buku.
  16. Imam an-Nawawi (631-676 H): Penulis Arba'in Nawawiyah dan Riyadhus Shalihin. Beliau wafat di usia 45 tahun tanpa pernah menikah lantaran kesibukannya mengajar dan menulis.
  17. Ibnu Taimiyah (661-728 H): Syaikhul Islam nan menghabiskan sebagian besar hidupnya di medan dakwah, penulisan kitab, dan perjuangan memihak akidah.
  18. Syeikh Basyirul Ghozi al-Halaby (1274-1339 H): Ulama mufassir dan faqih dari Aleppo (Halab).
  19. Syeikh Abul Wafa' al-Afghani (1310-1395 H): Ulama kontemporer nan dikenal lantaran pengabdiannya pada pengetahuan sabda dan fikih.
  20. Karimah binti Ahmad al-Marwaziyah (365-463 H): Seorang ustadz wanita (Alimah Muhadditsah) nan menjadi perawi utama Shahih Bukhari di Mekkah. Beliau membuktikan bahwa dedikasi pengetahuan juga dilakukan oleh kaum wanita.

Catatan Penting: Pilihan para ustadz ini untuk tidak menikah bukanlah rekomendasi umum bagi umat Islam, melainkan kondisi unik (uzur) lantaran mereka merasa waktu dan perhatian mereka terserap sepenuhnya untuk menjaga warisan Nabi Muhammad SAW.

Mengapa Mereka Memilih tidak Menikah?

Dalam kitab Al-Ulama al-Uzzab, dijelaskan bahwa argumen utama mereka adalah kekhawatiran tidak bisa memenuhi hak-hak istri dan family lantaran kecintaan nan teramat besar pada ilmu. Sebagian dari mereka melakukan perjalanan ribuan kilometer (rihlah ilmiah) untuk mencari satu hadis, sementara nan lain menulis ratusan jilid kitab nan memerlukan konsentrasi penuh tanpa gangguan.

Imam an-Nawawi, misalnya, dikenal hanya makan sekali sehari dan tidur sangat sedikit demi bisa terus menelaah kitab. Bagi mereka, pengetahuan adalah pasangan hidup yang memberikan kebahagiaan batiniah nan tak terlukiskan.

FAQ: Pertanyaan Seputar Ulama nan tidak Menikah

1. Apakah tidak menikah dilarang dalam Islam?

Secara umum, menikah adalah sunnah. Namun, bagi perseorangan nan cemas bakal menzalimi pasangannya lantaran kesibukan nan tak bisa ditinggalkan atau bagi mereka nan tidak mempunyai syahwat, hukumnya bisa berbeda. Para ustadz ini masuk dalam kategori orang nan tenggelam dalam maslahat umat nan lebih besar.

2. Siapa ustadz paling terkenal nan tidak menikah?

Imam an-Nawawi dan Ibnu Taimiyah adalah dua nama nan paling sering disebut. Karya-karya mereka hingga sekarang menjadi rujukan utama di seluruh bumi Islam.

3. Apakah ada ustadz wanita nan tidak menikah?

Ya, salah satunya adalah Karimah binti Ahmad al-Marwaziyah. Beliau pembimbing besar sabda di Mekkah nan mempunyai sanad tinggi dalam periwayatan Shahih Bukhari.

4. Apa nama kitab nan membahas kejadian ini?

Kitabnya berjudul Al-Ulama al-Uzzab Alladzina Atsaru al-Ilma 'ala al-Zawaj karya Syekh Abdul Fattah Abu Ghuddah.

Semoga Allah merahmati mereka semua (rahimahumullah) dan memberikan kita faedah dari pengetahuan serta keberkahan hidup mereka. Amin.

Selengkapnya