Ilustrasi: Sejumlah anak bermain di sungai Ciliwung nan debit airnya menyusut di wilayah Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat (17/7/2026). BMKG memprediksi musim tandus 2026 bakal berjalan lebih kering dan lebih panjang dari kondisi n(ANTARA FOTO/Arif Firmansyah)
FENOMENA suasana El Nino nan terus menguat menakut-nakuti ketahanan pangan global. Badan Program Pangan Dunia (WFP) PBB memperingatkan bahwa jumlah masyarakat nan menghadapi kerawanan pangan akut berpotensi melonjak hingga nyaris 49 juta jiwa pada akhir 2027.
Dalam kajian terbarunya nan dirilis Rabu (5/8), WFP menggarisbawahi potensi akibat jelek pergeseran suasana ini dibandingkan dengan periode sebelumnya.
"El Nino periode 2015-2016 berakibat pada ketahanan pangan 60-100 juta orang. Analisis awal WFP memproyeksikan bahwa El Nino periode 2026-2027 ini bisa menyebabkan sedikitnya 49 juta orang lainnya mengalami kerawanan pangan akut pada akhir 2027," papar WFP.
Kajian lembaga PBB tersebut menyasar 45 negara nan saat ini telah bergulat dengan ketidakstabilan pangan. Negara-negara tersebut berada di garis rentan akibat perubahan pola curah hujan, lonjakan suhu ekstrem, serta akibat kekeringan dan banjir.
WFP memperingatkan bahwa kejadian suasana kali ini berpotensi menjadi nan terkuat sejak 1950, menyusul rekor kenaikan suhu permukaan air laut. Puncak El Nino diproyeksikan berjalan antara September hingga Desember 2026, dengan akibat kehancuran nan tetap bakal membayang hingga sepanjang 2027.
Amerika Tengah dan Afrika Paling Rentan
Kawasan Amerika Tengah dan Afrika bagian selatan diperkirakan menjadi wilayah terparah nan terpukul krisis ini. Selain itu, penurunan ketahanan pangan nan signifikan juga menakut-nakuti wilayah Afrika Timur, Asia Selatan, hingga Asia Tenggara.
El Nino sendiri merupakan kejadian alam di mana suhu permukaan air laut di area Pasifik khatulistiwa memanas melampaui periode pemisah normal, sehingga memicu anomali cuaca ekstrim di beragam bagian dunia.
Ancaman ini datang di tengah tren penurunan nomor kelaparan. Laporan PBB pada Juli lampau menunjukkan bahwa jumlah penderita krisis pangan sempat menurun selama tiga tahun berturut-turut hingga 2025, meski tetap menyisakan 608 hingga 696 juta jiwa di seluruh bumi nan berada dalam jerat kelaparan. (Ant/Sputnik/RIA Novosti/P-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·