Dampak Pusat Data AI terhadap Kenaikan Tagihan Listrik di Amerika Serikat

2 jam yang lalu 3
Dampak Pusat Data AI terhadap Kenaikan Tagihan Listrik di Amerika Serikat Ilustrasi.(Magnific)

HARGA listrik di sebagian besar wilayah Amerika Serikat terus merangkak naik selama beberapa tahun terakhir. Fenomena ini dipicu oleh beragam faktor, mulai dari kenaikan biaya bahan bakar, pembaruan jaringan listrik, hingga cuaca ekstrem. Namun, sekarang muncul aspek baru nan mulai membebani dompet konsumen: lonjakan jumlah pusat info kepintaran buatan (AI).

Meskipun prasarana AI bukan satu-satunya penyebab kenaikan tagihan utilitas, sejumlah negara bagian mulai cemas bahwa kebutuhan daya masif dari pusat info baru mendorong biaya lebih tinggi bagi rumah tangga dan upaya kecil. Pakar finansial Michael Ryan menyebut bahwa ketika biaya prasarana ini dibebankan ke tagihan semua orang, pengguna biasa secara tidak langsung mendanai prasarana bagi perusahaan-perusahaan terkaya di dunia.

Ledakan Infrastruktur AI dan Konsumsi Energi

Saat ini, pusat info mengonsumsi sekitar 4 persen listrik di AS. Namun, nomor ini diprediksi bakal melonjak tajam seiring perlombaan perusahaan teknologi membangun akomodasi pendukung model AI. Miliaran dolar sekarang dialokasikan untuk pembangkit listrik dan jalur transmisi baru, memicu perdebatan sengit mengenai siapa nan semestinya menanggung beban investasi tersebut: perusahaan teknologi raksasa alias masyarakat lokal.

Negara Bagian dengan Dampak Signifikan:

  • Virginia: Memiliki konsentrasi pusat info terbesar di bumi (Data Center Alley). Biaya transmisi baru menjadi kekhawatiran utama warga.
  • Texas: Operator jaringan ERCOT memperingatkan lonjakan permintaan listrik akibat beban industri baru, termasuk akomodasi AI.
  • Georgia: Georgia Power mengusulkan shopping Rp235 triliun (US$15 miliar) untuk meningkatkan kapabilitas pembangkit guna memenuhi permintaan pusat data.
  • Wilayah PJM (Ohio, Illinois): Operator jaringan PJM memproyeksikan kenaikan biaya listrik konsumen sebesar Rp99 triliun (US$6,3 miliar) dalam tiga tahun ke depan akibat permintaan pusat data.

Perlawanan Komunitas dan Isu Lingkungan

Oposisi masyarakat terhadap pembangunan pusat info sekarang meluas ke sekitar 40 negara bagian. Selain masalah tagihan listrik, penduduk mengkhawatirkan konsumsi air nan masif untuk pendinginan mesin, polusi suara, dan akibat lingkungan lain. Gugatan norma dan kampanye politik lokal mulai bermunculan di Utah, California, hingga Pennsylvania.

Arif Gasilov dari Gasilov Group mencatat bahwa meskipun protes penduduk sering menang di tingkat kabupaten untuk menghentikan proyek individu, perihal itu jarang berakibat pada kenaikan tarif listrik lantaran keputusan tarif ditetapkan di tingkat komisi utilitas publik nan jarang diprotes.

Langkah Mitigasi dan Kebijakan Baru

Menanggapi tekanan publik, perusahaan besar seperti Microsoft dan Anthropic berkomitmen untuk menanggung biaya listrik tambahan akibat pusat info mereka. Di tingkat politik, Donald Trump baru-baru ini mengumumkan Ratepayer Protection Pledge, langkah sukarela nan mendesak perusahaan AI untuk bayar penuh biaya infrastruktur energi mereka sendiri.

Hingga saat ini, sebanyak 27 negara bagian telah memajukan legislasi nan mewajibkan developer pusat info menanggung biaya daya mereka. California, Ohio, dan Utah apalagi telah mempunyai patokan nan lebih ketat dibandingkan janji perlindungan federal.

Tantangan kebijakan ke depan adalah memastikan bahwa faedah ekonomi dari proyek AI, seperti lapangan kerja dan pendapatan pajak, tidak dibarengi dengan pengalihan beban biaya prasarana kepada masyarakat nan mempunyai keahlian terbatas untuk bayar tagihan nan terus membengkak. (Newsweek/I-2)

Selengkapnya