Naufal, pengendara motor nan mengalami gangguan pernapasan akibat polusi di musim kemarau.(MI/Mohamad Farhan Zuhri)
TERIK mentari siang itu menyengat. Aspal memantulkan panas, sementara debu dan asap kendaraan bercampur di jalanan Ibu Kota. Bagi penduduk nan setiap hari menggantungkan mobilitasnya pada sepeda motor, musim kemarau tidak hanya soal cuaca nan lebih panas, tetapi juga ancaman bagi kesehatan.
Hal itu dirasakan seorang pengendara motor, Naufal, 28, pegawai swasta nan sehari-hari beraktivitas beranjak dari satu letak ke letak lain di Jakarta. Belum lama ini, dia apalagi kudu menjalani perawatan di instalasi darurat gawat (IGD) akibat gangguan pernapasan.
"Saya sampai pakai nebulizer lantaran ada penyempitan saluran napas. Kata master IGD, kemungkinan dipengaruhi kondisi cuaca Jakarta, apalagi saya mobilitasnya tinggi di jalan,” ujarnya kepada Media Indonesia, Selasa (21/7).
Ia mengaku jarang menggunakan masker secara maksimal saat berkendara, terutama ketika hanya menempuh perjalanan pendek. Kebiasaan itu membuatnya lebih sering terpapar debu dan polusi jalanan.
“Kalau jaraknya dekat biasanya suka abai. Padahal mungkin masker bisa mengurangi paparan debu dan polusi,” katanya.
Memasuki musim kemarau, perubahan cuaca juga semakin dia rasakan. Menurutnya, panas Jakarta tahun ini lebih menyengat dibanding tahun sebelumnya.
“Kalau tahun lampau rasanya tetap sering hujan. Sekarang lebih panas. Panasnya betul-betul terasa, ditambah udara nan lembap. Badan jadi lengket terus jika di jalan,” tuturnya.
Sebagai pengendara motor, mencari tempat berlindung menjadi pilihan saat mentari berada tepat di atas kepala.
“Kalau lagi di motor, maunya cari tempat nan teduh saja. Berhenti di bawah pohon sejenak sebelum lanjut jalan lagi,” ujarnya.
Disiplin Pakai Tabir Surya
Untuk mengurangi akibat paparan sinar matahari, Naufal mengatakan dirinya disiplin menggunakan tabir surya. Bahkan, tahun ini dia mulai membawa sunscreen spray agar bisa digunakan kembali di sela-sela aktivitas.
“Kalau berangkat pasti pakai sunscreen. Sekarang saya juga bawa nan spray, jadi jika sudah beberapa titik kerja saya semprot lagi ke tangan dan wajah sebelum lanjut jalan,” jelasnya.
Menurutnya, penggunaan sunscreen tahun ini jauh lebih sering dibanding tahun lalu.
“Tahun kemarin saya (memakai tabir surya) tidak sebanyak sekarang. Karena waktu itu lebih sering hujan. Tahun ini cuacanya jauh lebih panas, jadi lebih sering dipakai,” katanya. (E-4)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·