Denny Sumargo Sempat Ragu Garap Film Baby Udon, Kini Jadi Produser Sekaligus Pemeran Utama

1 jam yang lalu 4
Denny Sumargo Sempat Ragu Garap Film Baby Udon, Kini Jadi Produser Sekaligus Pemeran Utama Press conference peluncuran trailer dan poster Baby Udon pada Senin (3/8) tidak hanya memperkenalkan movie kepada publik, tetapi juga mengungkap proses panjang di kembali produksinya.(MI/Chatrine Simanjuntak)

DENNY Sumargo mengaku sempat enggan terlibat dalam penggarapan movie Baby Udon. Namun, serangkaian proses nan bermulai dari kisah Fanny Kondoh di podcastnya hingga pencarian pemeran nan berjalan nyaris satu tahun akhirnya membikin dia mantap memproduseri sekaligus membintangi movie tersebut. 

Keraguan Denny Sumargo di Awal Produksi

Denny Sumargo mengatakan keterlibatannya dalam proyek Baby Udon bermulai ketika dia mengundang Fanny Kondoh sebagai bintang tamu di podcast miliknya. Dari perbincangan tersebut, Denny mengetahui perjalanan hidup Fanny berbareng mendiang Hajime Kondoh. 

Meski berasal dari sebuah podcast, Fanny Kondoh rupanya mempunyai kemauan agar kisah hidupnya berbareng mendiang Hajime Kondoh dapat diangkat ke layar lebar. 

Menurut Denny, Fanny belum bersedia menerima tawaran tersebut lantaran merasa belum menemukan rumah produksi nan mempunyai pandangan nan sama mengenai tujuan pembuatan film. Ia menginginkan kisah hidupnya tidak hanya diadaptasi menjadi film, tetapi juga membawa pesan nan sesuai dengan nilai nan mau disampaikan.

Denny menjelaskan, kemauan itu kemudian disampaikan Fanny kepada Olivia Sumargo. Dari percakapan tersebut, Olivia memandang ada kesempatan untuk mengembangkan kisah Fanny melalui Sumargo Films, lampau membujuk Denny ikut terlibat.

Meski sang istri, Olivia Sumargo, telah menyatakan kesediaannya mengembangkan kisah Fanny Kondoh ke layar lebar. Untuk mengurungkan niat tersebut, Denny mengaku beberapa kali menyampaikan beragam tantangan nan dinilai bakal dihadapi selama proses produksi, mulai dari mencari sutradara dan penulis naskah nan tepat hingga menemukan mitra kolaborasi.

Namun, beragam tantangan itu tidak membikin Olivia mengurungkan niatnya. Denny mengatakan proses pengembangan movie terus melangkah hingga tim produksi mulai terbentuk. 

Meski akhirnya bersedia berasosiasi sebagai produser sekaligus pemeran utama, dia mengaku keputusan tersebut diambil dengan penuh pertimbangan. 

"Gua tuh enggak mau ambil alias berangkaian sama movie ini lantaran takut ngecewain Bu Fanny, almarhum Haji Kondoh, dan juga orang-orang lain nan bakal menonton filmnya," ujar Denny dalam konvensi pers peluncuran trailer dan poster Baby Udon di Jakarta, Senin (3/8).

Pencarian pemeran nyaris satu tahun

Setelah menyepakati pengembangan movie Baby Udon, Denny Sumargo mengatakan tantangan terbesar nan dihadapi tim produksi adalah menemukan pemeran nan sesuai dengan karakter dalam cerita.

Menurutnya, proses tersebut tidak dapat dilakukan secara terburu-buru. Tim produksi apalagi memerlukan waktu nyaris satu tahun untuk mencari tokoh nan dinilai bisa menghidupkan setiap tokoh sesuai kebutuhan cerita.

Denny mengatakan keputusan memilih beberapa pemeran tidak hanya didasarkan pada hasil audisi, tetapi juga instingnya terhadap kecocokan karakter. 

Caitlin Halderman, misalnya, baru mengikuti proses casting pada tahap akhir. Namun, setelah memandang keahlian aktingnya, Denny menilai Caitlin sebagai sosok nan paling tepat memerankan Fanny Kondoh.

Hal serupa juga terjadi pada Putri Ayudya nan akhirnya berasosiasi setelah tertarik dengan karakter master nan diperankannya lantaran mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pribadinya. Sementara itu, Miyu Okazaki tetap dipilih memerankan ibu Hajime Kondoh meski sempat diragukan keahlian aktingnya. 

Denny mengatakan keputusan tersebut diambil setelah memandang kecocokan karakter masing-masing pemain dengan tokoh nan bakal diperankan, bukan semata-mata berasas nama besar mereka. 

"Setiap cerita bakal berjumpa pemerannya. Jangan dipaksa lantaran dia bakal mencari sendiri," ujar Denny.

Menurut Denny, prinsip tersebut menjadi dasar tim produksi dalam menentukan para pemain. Ia menegaskan proses casting tidak berorientasi pada ketenaran aktor, melainkan pada kecocokan karakter agar cerita dapat tersampaikan secara utuh.

"Jangan berpikir nama besar bakal menyukseskan movie ini. Film ini bakal sukses lantaran ceritanya besar" kata Denny.

Pendalaman Karakter Haji Kondoh

Salah satu corak totalitasnya adalah mencukur lenyap rambutnya alih-alih menggunakan prostetik alias riasan untuk menciptakan tampilan kepala plontos. Menurut Denny, keputusan itu diambil lantaran dia mau benar- betul merasakan karakter nan diperankannya.

"Gua kudu bisa menjadi karakter Hajime Kondoh" ujar Denny.

Selain mengubah penampilan, Denny juga mempelajari bahasa Jepang agar perbincangan nan disampaikan terdengar lebih natural. Ia mengatakan proses tersebut dibantu oleh Hiroaki Kato, sahabat Hajime Kondoh nan juga turut berkedudukan dalam film. 

Menurut Denny, Hiro tidak hanya mengajarkan pelafalan bahasa Jepang, tetapi juga intonasi, pelafalan, hingga langkah menyampaikan perbincangan sesuai karakter Hajime Kondoh. Dukungan itu, kata Denny, menjadi bagian krusial dari proses pendalaman karakter nan dijalaninya sebelum syuting. (Z-4)

Selengkapnya