Lahan sawah nan ditumbuhi rimba semak akibat terbengkalai setelah banjir bandang Sumatra 27 November 2026.(MI/Amiruddin Abdullah Reubee)
RATUSAN hektare (ha) lahan sawah nan rusak diterjang banjir di Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh, ditumbuhi semak belukar tak ubahnya hutan. Area tersebut awalnya merupakan hamparan sawah produktif nan tertimbun sedimen lumpur banjir bandang Sumatra, pada 26-27 November 2025 lalu.
Hamparan sawah itu sebelumnya menjadi lahan favorit tempat bercocok tanam petani di Pidie Jaya. Karena tertutup sedimen lumpur musibah banjir, hingga sekarang sudah dua kali musim tanam alias sekitar delapan bulan terbengkalai tidak bisa ditanami padi.
Sesuai penelusuran Media Indonesia, ada sekitar 295 ha lahan sawah nan belum bisa digunakan di Kecamatan Meurah Dua. Ratusan hektare sawah diantaranya rusak setelah tertimbun lumpur.
Adapun desa nan tertimbun lumpur dan penuh ditumbuhi rimba semak adalah itu antara lain meliputi Gampong (Desa) Gampong Meunasah Jurong, Beuringen, Pante Beureune, Buangan, dan Gampong Lueng Bimba.
Kondisi sawah itu sudah lama tertimbun alias sudah berselang bulan. Lalu ditumbuhi banyak pohon liar seperti rimba alias semak belukar sehingga pematang alias lumpur tebal menutupi pematang alias pemisah sawah.
"Karena posisi sawah sudah meninggi tertimbun lumpur, saat hujan deras air langsung merendam alias memasuki rumah dan permukiman warga. Hal itu sangat terganggu kenyamanan masyarakat rawan banjir," kata Muslim, penduduk Kecamatan Meurah Dua.
Pemerhati masalah sosial masyarakat, M Adli, kepada Media Indonesia, Rabu (5/8) mengatakan, setelah musibah banjir, ribuan masyarakat Aceh kehilangan mata pencaharian. Para petani nan pagi hari pergi ke sawah dan pulang waktu sore, sekarang tidak lagi mempunyai kegiatan.
Akibatnya penduduk menganggur sehingga tidak ada pemasukan finansial nan jelas. Lalu rumah mereka juga belum dibangun lagi oleh pemerintah pusat.
"Ekonomi mereka sangat terpukul nyaris setahun setelah banjir. Jangankan menutupi kebutuhan pendidikan anak, ditambah lagi kudu membeli beras untuk kebutuhan keluarga," tutur M Adli Abdullah nan juga pengajar senior di Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh. (MR/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·