Jakarta, CNBC Indonesia - Pertamina NRE memaparkan rencana pengembangan bioetanol alias pencampuran bensin dengan tetes tebu di depan Presiden RI Prabowo Subianto pada aktivitas Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, Jumat (17/7/2026).
Perusahaan menargetkan penerapan bioetanol 20% (E20) untuk memperkuat ketahanan daya nasional sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor Bahan Bakar Minyak (BBM).
CEO Pertamina NRE John Anis menjelaskan peta jalan dan sasaran perusahaan dalam mengembangkan bioetanol di Indonesia. Hal itu menimbang bahwa Indonesia telah sukses pada pencampuran biodiesel 50% (B50) pada BBM jenis Solar.
"Bapak lihat bahwa kami mau berkontribusi di bioenergi Pak. Jadi kami juga mau terima kasih Pak nan B50, selamat, kami juga punya cita-cita dan semangat nan sama untuk E20 Pak," katanya saat memaparkan program Pertamina NRE dalam pengembangan bioenergi kepada Presiden Prabowo pada aktivitas paparan Panen Raya Serentak di Seluruh Indonesia Bersama TNI di Malang, Jawa Timur, nan juga disiarkan secara daring, Jumat (17/7/2026).
Pengembangan bioetanol tersebut memanfaatkan produk sampingan dari tebu nan diolah menjadi etanol alias E100 sebelum dicampur ke bensin. Saat ini, Pertamina baru menerapkan kebijakan E5 pada 170 titik di wilayah Jawa Timur dan Jakarta, sehingga perusahaan merasa perlu mengejar ketertinggalan dari negara lain seperti India.
"India udah E20 Pak, jadi kita nggak mau kalah Pak, kita kudu kejar mereka. Kita baru E5 Pak. Jadi ini E5 di 170 outlet kami di Jawa Timur dan di Jakarta. Nah, kami mempunyai tentu saja ambisi Pak... nah ini upaya kami termasuk geothermal. Jadi di-blend Pak seperti biodiesel dengan bensin. Jadi bisa 20, jadi E20 tuh 20% Pak," paparnya.
Pihaknya tengah menyiapkan pabrik bioetanol di Mojokerto, Jawa Timur, dengan kapabilitas produksi mencapai 33.000 kiloliter per tahun. Selain tebu, perusahaan juga mengembangkan teknologi multi-feedstock agar bioetanol bisa diproduksi dari hasil tanaman lain seperti aren, singkong, jagung, hingga sorgum nan potensinya tersebar luas di seluruh Indonesia.
"Nah nan menarik pak ini kan daya di sini Pak jika kilang kan di beberapa tempat aja, ini bisa desentralisasi di semua tempat tergantung dari kearifan lokal. Jadi Bapak bisa mengembangkan petani setempat dengan potensi lokal menjadi lebih makmur Pak," tambahnya.
Pihaknya memperhitungkan, kebutuhan bioetanol untuk mencapai tahap E10 diperkirakan mencapai 2,4 juta kiloliter, nan memerlukan pembangunan sekitar 20 hingga 30 pabrik etanol baru dalam kurun waktu dua tahun.
John menilai program tersebut bisa mengalihkan devisa nan selama ini digunakan untuk impor bensin menjadi pendapatan bagi petani lokal.
"Impor Pak. Jadi impor daripada uangnya ke luar Pak, kasih petani Pak," tegas John saat merespons pertanyaan Prabowo mengenai akibat kebijakan tersebut terhadap pengurangan impor.
Dengan begitu, mengidentifikasi dua tantangan utama nan perlu support pemerintah, ialah adanya izin mandatori serta kepastian kesiapan bahan baku beserta harganya. Dengan support itu, Indonesia diharapkan bisa lebih berdikari dan kompetitif dibandingkan negara lain.
"Ada dua Pak, mandatori sama kepastian feedstock Pak dan harganya Pak, demikian," tandasnya.
(wia)
Addsource on Google

4 hari yang lalu
12







English (US) ·
Indonesian (ID) ·