Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faizal(MI/Lina Herlina)
FENOMENA penerima support sosial (bansos) nan rekeningnya terindikasi digunakan untuk gambling online (judol) di Sulawesi Selatan, rupanya paling marak terjadi di Makassar.
Kepala Dinas Sosial Sulawesi Selatan, Abdul Malik Faizal, mengungkapkan bahwa kompleksitas kasus ini jauh lebih rumit dari sekadar pencabutan bantuan, di mana banyak penerima nan justru menjadi korban lantaran rekeningnya dipakai orang lain tanpa sepengetahuan mereka.
Dinas Sosial Provinsi Sulawesi Selatan mencatat, kasus rekening penerima bansos nan terindikasi digunakan untuk transaksi gambling online paling banyak ditemukan di wilayah Makassar.
Malik Faizal, menjelaskan bahwa tingginya nomor di wilayah perkotaan ini tidak lepas dari aspek akses teknologi. "Paling banyak di Makassar. Daerah kota. Kenapa kota? Karena di situ teknologi. Karena judol itu pakai teknologi," jelasnya.
Meski demikian, dia menegaskan bahwa pihaknya tidak mempunyai info persentase pasti lantaran kasus ini berkarakter sangat bergerak dan bisa berubah dalam hitungan hari.
Bukan Sekadar Pencabutan
Malik Faizal menekankan bahwa persoalan rekening bansos nan terindikasi judol tidak bisa disederhanakan. Banyak di antaranya merupakan kasus nan kompleks dengan latar belakang berbeda-beda.
"Yang terminit dihapus itu lantaran terindikasi judol, itu lantaran sebenarnya kan kasusnya kompleks, berbeda-beda, tidak sama. Jadi ada nan rekeningnya dipakai judol, tapi orangnya tidak judol," jelasnya, di Sekolah Rakyat Terintegrasi 3 Sulsel, Makassar, Jumat (7/8).
Ia mencontohkan kasus di Takalar, seorang nenek penerima bansos kehilangan kewenangan bantuannya lantaran rekeningnya dipakai anaknya sendiri untuk bermain gambling online tanpa sepengetahuannya.
"Modelnya kayak di Takalar itu waktu tadi, nenek-nenek nan punya tapi dipakai judol sama anaknya. Anaknya nan pakai," ungkap Malik Faizal.
Selain itu, ditemukan pula kasus di mana pendamping penerima PKH nan sama penerima, justru memanfaatkan rekening penerima nan didampinginya untuk transaksi judol.
Pemutihan nan Tak Bersalah
Menghadapi kompleksitas ini, Dinsos Sulsel menerapkan kebijakan selektif. Bagi penerima nan rekeningnya dipakai orang lain tanpa sepengetahuan mereka, diberikan kesempatan untuk dinormalkan kembali dan tetap menerima bansos.
"Jadi orang-orang nan semestinya tetap dapat bansos, tapi jika nan betul-betul pakai judol terindikasi, tidak bisa bantu," tegas Malik Faizal
Saat ini, pihaknya tengah melakukan "cleansing" info untuk memastikan penerima bansos betul-betul layak, sekaligus mengeluarkan mereka nan sudah tidak memerlukan lantaran tingkat kesejahteraannya meningkat.
Meski ada pencabutan akibat judol, jumlah penerima bansos di Sulawesi Selatan justru mengalami peningkatan. Jika pada Desember 2025 tercatat sekitar 300 ribu family penerima Program Keluarga Harapan (PKH), sekarang nomor tersebut naik menjadi 311 ribu, bertambah sekitar 10 ribu penerima.
Sebelumnya, Menteri Sosial Saifullah Yusuf alias Gus Ipul mengungkapkan bahwa pada triwulan kedua 2026, terdapat 1.494.652 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) bansos nan terindikasi gambling online melonjak drastis dibandingkan 600 ribu kasus pada 2025.
"Ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2025 nan lalu, nan jumlahnya mencapai nyaris 600.000. Tetapi tahun ini cukup mengejutkan juga, rupanya angkanya nyaris mencapai 1,5 juta family penerima faedah nan terindikasi main judol," ujar Gus Ipul.
Kemensos pun menangguhkan penyaluran bansos bagi 1,49 juta penerima nan terindikasi, seraya melakukan penelusuran berbareng PPATK, Kementerian Komdigi, dan pemerintah daerah. (LN/E-4)









English (US) ·
Indonesian (ID) ·