Diabetes tak Lagi Kenal Usia, Anak Muda Perlu Waspadai Gejala dan Faktor Risikonya

4 hari yang lalu 13
Diabetes tak Lagi Kenal Usia, Anak Muda Perlu Waspadai Gejala dan Faktor Risikonya Ilustrasi diabetes.(Magnific)

DIABETES sekarang tidak lagi identik sebagai penyakit nan hanya menyerang lansia. Dalam beberapa tahun terakhir, kasus glukosuria pada remaja dan dewasa muda terus meningkat. Para mahir menilai perubahan style hidup, seperti konsumsi makanan dan minuman tinggi gula, kurang aktivitas fisik, serta meningkatnya nomor obesitas menjadi aspek utama nan membikin glukosuria jenis 2 semakin banyak ditemukan pada golongan usia produktif.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika Serikat, glukosuria adalah penyakit kronis nan terjadi ketika kadar gula (glukosa) dalam darah terlalu tinggi lantaran tubuh tidak memproduksi insulin nan cukup alias tidak bisa menggunakannya secara efektif. Kondisi ini dapat berkembang tanpa disadari hingga akhirnya memicu beragam komplikasi serius andaikan terlambat ditangani.

Gaya Hidup Jadi Faktor Risiko

CDC menjelaskan bahwa glukosuria pada usia muda dapat berupa glukosuria jenis 1 maupun jenis 2. Diabetes jenis 1 terjadi akibat gangguan autoimun nan membikin sistem kekebalan tubuh menyerang sel penghasil insulin di pankreas. Sementara itu, glukosuria jenis 2 lebih banyak dipengaruhi oleh kombinasi aspek keturunan dan style hidup.

Risiko glukosuria jenis 2 meningkat pada seseorang nan mengalami kelebihan berat badan alias obesitas, jarang berolahraga, mempunyai pola makan tinggi kalori dan gula, serta mempunyai riwayat glukosuria dalam keluarga. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis, makanan sigap saji, dan terlalu lama duduk juga turut memperbesar akibat penyakit ini muncul di usia muda.

Kenali Gejala Sejak Awal

Gejala glukosuria sering berkembang secara perlahan sehingga kerap tidak disadari. Menurut CDC dan Mayo Clinic, tanda nan perlu diwaspadai meliputi sering merasa haus, lebih sering buang air kecil, mudah lapar, tubuh sigap lelah, penglihatan kabur, hingga berat badan turun tanpa karena nan jelas.

Pada sebagian penderita glukosuria jenis 2, juga dapat muncul luka nan susah sembuh, jangkitan berulang, alias bercak kehitaman di area leher dan ketek sebagai tanda resistensi insulin. Jika indikasi tersebut muncul, pemeriksaan gula darah sebaiknya segera dilakukan agar penyakit dapat dideteksi lebih dini.

Pencegahan Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Meski glukosuria jenis 1 belum dapat dicegah, akibat glukosuria jenis 2 dapat dikurangi melalui pola hidup sehat. CDC dan Mayo Clinic menganjurkan masyarakat untuk rutin berolahraga setidaknya 150 menit per minggu, menjaga berat badan ideal, memperbanyak konsumsi sayur, buah, biji-bijian utuh, serta membatasi makanan dan minuman tinggi gula.

Tidur nan cukup, mengelola stres, tidak merokok, dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala juga menjadi langkah penting, terutama bagi mereka nan mempunyai aspek risiko. Dengan mengenali penyebab, gejala, dan langkah pencegahannya sejak dini, masyarakat diharapkan dapat menurunkan akibat glukosuria sekaligus mencegah komplikasi serius di masa mendatang. (Sumber: CDC (Centers for Disease Control and Prevention), Mayo Clinic/P-3)

Selengkapnya