Diam-diam Iran Jual Minyak Senilai Rp322,59 T Selama Perang dengan AS

17 jam yang lalu 5

Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Perminyakan Iran Mohsen Paknejad mengatakan negaranya telah menjual minyak mentah senilai US$ 11,5 miliar selama perang dengan Amerika Serikat (AS).

Total minyak nan dijual itu belum termasuk tambahan US$ 6,5 miliar selama periode gencatan senjata, berasas laporan Reuters.

Dengan begitu, selama periode bentrok dengan AS, plus masa gencatan senjata berlangsung, setidaknya Iran tetap bisa menjual minyak mentahnya hingga sebanyak US$ 18 miliar, alias setara Rp 322,59 triliun (kurs Rp17.922/US$).

"Menurut Paknejad, penjualan tersebut menghasilkan lebih dari 60% dari pendapatan minyak nan diproyeksikan dalam anggaran tahunan Iran," sebagaimana tertulis dalam laporan Reuters, dikutip Minggu (26/7/2026).

Penjualan minyak itu terjadi ketika akibat nan lebih rendah terhadap lampau lintas kapal tanker membantu meningkatkan ekspor dan memungkinkan penjualan sebagian dari sekitar 100 juta barel minyak mentah dan kondensat gas nan disimpan.

Pada Jumat (24/7/2026), Iran juga telah menandatangani perjanjian daya senilai US$ 4 miliar dengan perusahaan-perusahaan Rusia, menurut laporan Aljazeera.

Paknejad mengatakan kesepakatan itu bermaksud untuk mengembangkan tujuh ladang minyak Iran bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan Rusia.

Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad. (Dok. president.ir)Menteri Perminyakan Iran, Mohsen Paknejad. (Dok. president.ir) Foto: (Dok. president.ir)

Pada Kamis, Paknejad berjumpa dengan Wakil Perdana Menteri Rusia Alexander Novak, orang kepercayaan Putin dalam hubungan dengan Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) .

Pertemuan tersebut berjalan ketika beberapa personil OPEC+, golongan nan terdiri dari OPEC dan sekutunya nan dipimpin oleh Rusia, menyarankan agar golongan tersebut meningkatkan produksi minyak pada bulan Juni untuk bulan kedua berturut-turut.

Usulan kenaikan tersebut menggarisbawahi memburuknya perselisihan antar personil mengenai kepatuhan terhadap kuota produksi.

Hal ini juga menyusul seruan dari Presiden AS Donald Trump agar OPEC menurunkan nilai minyak dan kembalinya dia ke kebijakan "tekanan maksimum" terhadap Iran, nan ekspor minyaknya mau dikurangi Washington hingga nol.

Meski begitu, Iran dan Rusia pada Jumat lampau juga mengumumkan bahwa Moskow mungkin bakal memasok 1,8 miliar meter kubik (bcm) gas alam ke Teheran tahun ini dengan nilai nan belum disepakati.

Paknejad mengatakan kesepakatan itu belum difinalisasi tetapi negara-negara tersebut sedang berupaya untuk mencapai kesepakatan sesegera mungkin, dengan perusahaan Rusia Gazprom sebagai pelaksananya.

(arj/arj)

Add logo_svg as a preferred
source on Google

[Gambas:Video CNBC]

Selengkapnya