Pakar penyakit menular terkemuka Amerika Serikat, Anthony Fauci,(Dok. AFP/Kent Nishimura)
MANTAN kepala National Institute of Allergy and Infectious Diseases (NIAID) dan master penyakit menular terkemuka Amerika Serikat, Anthony Fauci, memicu ketegangan dalam sidang Senat Komite setelah menolak menjawab pertanyaan para senator sebanyak lebih dari 100 kali. Sidang nan berjalan selama tiga jam pada Rabu (29/7) tersebut sedianya menggali keterangan lebih dalam mengenai pandemi covid-19.
Berdasarkan laporan The New York Times, Fauci secara konsisten menggunakan kewenangan konstitusionalnya untuk tidak menjawab pertanyaan personil parlemen berasas Amendemen Kelima Konstitusi AS. Hak ini memberikan perlindungan bagi perseorangan agar tidak memberikan kesaksian nan dapat memberatkan diri sendiri.
Sikap tutup mulut Fauci dilaporkan sangat ekstrem. Ia mengulangi kalimat penolakannya hingga lebih dari 100 kali, apalagi untuk pertanyaan-pertanyaan sederhana nan diajukan Senator Rand Paul. Fauci menolak memberi tahu hari apa saat itu, warna dasi nan dia kenakan, hingga warna karpet di hadapannya.
Menanggapi sikap tersebut, Senator Rand Paul menegaskan bahwa komitenya bakal mempertimbangkan langkah norma lebih lanjut. Paul menyatakan bahwa menolak bersaksi dalam penyelidikan Kongres AS merupakan tindakan terlarangan dan berjanji bakal mengambil tindakan tegas terhadap Fauci.
Latar Belakang Penyelidikan
Sidang testimoni ini merupakan kelanjutan dari penyelidikan panjang selama dua tahun. Pada Desember 2024, personil Kongres AS menyatakan bahwa virus korona kemungkinan besar berasal dari laboratorium dan menyebar akibat kebocoran.
Tekanan terhadap Fauci juga diperkuat oleh pernyataan Tulsi Gabbard pada Juni lalu, sebelum dia mengundurkan diri dari kedudukan Direktur Intelijen Nasional. Gabbard mengeklaim telah merilis dokumen-dokumen nan merinci tindakan Fauci, termasuk hal-hal nan berangkaian dengan pendanaan penelitian di sebuah laboratorium di Wuhan, China.
Di sisi lain, posisi norma Fauci sempat mendapat sorotan setelah mantan Presiden AS Joe Biden memberikan pemaafan (pardon) kepadanya sebelum masa jabatannya berakhir. Namun, perihal tersebut tidak menyurutkan upaya Kongres untuk terus mengejar transparansi mengenai asal-usul pandemi nan melanda bumi tersebut. (Ant/Sputnik/H-3)








English (US) ·
Indonesian (ID) ·